Takut Di-Maduro-kan, Presiden Kolombia Bakal Temui Trump

Presiden Kolombia Gustavo Petro bakal menemui Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di Gedung Putih, pada 3 Februari 2026. Foto: aljazeera.com
750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Presiden Kolombia Gustavo Petro bakal menemui Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di Washington, karena takut bernasib seperti Presiden Venezuela Nicolas Maduro.

Trump pada Jumat (9/1/2026) mengaku menantikan pertemuan dengan Petro pada pekan pertama Februari di Gedung Putih.

Saat ditanya alasan perjalanannya ke AS untuk bertemu Trump, kepada CBS News Petro mengatakan tujuannya adalah untuk menghentikan perang dunia.

Awal bulan ini, Petro mengatakan kepada surat kabar Spanyol El Pais, Trump telah menyampaikan kepadanya melalui panggilan telepon pribadi, AS sedang mempertimbangkan kemungkinan melakukan operasi militer berskala penuh terhadap Kolombia.

Menyusul perkembangan terbaru di Venezuela, Petro mengatakan dirinya sangat khawatir nasib seperti Presiden Venezuela Nicolas Maduro menantinya, atau bahkan menimpa presiden mana pun di dunia.

Namun, Petro menyebutkan kemungkinan intervensi militer tersebut kemudian dibekukan.

BACA JUGA: Usai Nicolas Maduro, Trump Bidik Gustavo Petro

Petro juga menyampaikan kekhawatiran terhadap praktik AS yang menggunakan kekuatan untuk mencampuri urusan dalam negeri negara lain.

Ia menyinggung adanya benturan pandangan antara undang-undang domestik AS dan hukum internasional.

Menurutnya, hukum AS memungkinkan pelaksanaan operasi di luar negeri dengan dalih pemberantasan kejahatan, sementara hukum internasional tidak mengatur tindakan semacam itu.

Petro mengatakan jika terjadi sesuatu di Kolombia seperti di Venezuela, hal itu akan memicu perang saudara dan menimbulkan permusuhan terhadap AS.

Preseden Berbahaya

Petro dan Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva membahas situasi di Venezuela lewat telepon, Kamis (8/1/2026).

Menurut sebuah pernyataan dari Pemerintah Brasil, kedua pemimpin menyatakan kekhawatiran mendalam atas penggunaan kekuatan terhadap negara Amerika Selatan tersebut, yang melanggar hukum internasional, Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan kedaulatan Venezuela.

“Mereka menekankan tindakan-tindakan seperti itu merupakan preseden yang sangat berbahaya bagi perdamaian dan keamanan regional, dan juga bagi tatanan internasional,” jelas pernyataan itu.

BACA JUGA: Venezuela Ajak Kolombia Bersatu Hadapi AS

Kedua presiden tersebut sepakat situasi di Venezuela harus diselesaikan secara eksklusif melalui cara-cara damai, negosiasi, dan penghormatan terhadap kehendak rakyat Venezuela.

Kedua pemimpin menyambut baik pengumuman yang dibuat sebelumnya pada Kamis oleh Presiden Majelis Nasional Venezuela Jorge Rodriguez mengenai pembebasan sejumlah besar tahanan Venezuela dan asing.

Pernyataan itu juga mencatat atas permintaan Venezuela, Lula akan mengirimkan 40 ton pasokan dan obat-obatan untuk mengisi kembali bahan dialisis dan produk medis lainnya yang tersimpan di sebuah pusat pasokan, yang terdampak oleh pengeboman AS pada 3 Januari.

“Brasil dan Kolombia menegaskan kembali niat mereka untuk terus bekerja sama demi perdamaian dan stabilitas di Venezuela, negara yang berbatasan luas dengan keduanya.”

“Kedua negara tersebut juga membahas besarnya jumlah migran Venezuela yang telah diterima oleh masing-masing negara dalam beberapa tahun terakhir,” imbuh pernyataan itu.

Pelanggaran Serius Hukum Internasional

Presiden sementara Venezuela Delcy Rodriguez mengadakan pembicaraan dengan Presiden Brasil, Kolombia, dan Spanyol, di tengah agresi AS terhadap Venezuela.

“Saya telah mengadakan percakapan dengan Presiden Republik Federatif Brasil Luiz Inacio Lula da Silva; Presiden Republik Kolombia Gustavo Petro; serta Presiden Kerajaan Spanyol Pedro Sanchez, dalam konteks agresi kriminal, ilegal, dan tidak sah yang dilakukan terhadap Republik Bolivarian Venezuela,” ungkap Rodríguez melalui Telegram, Jumat (9/1/2026).

Menurut Rodriguez, para pemimpin tersebut sepakat mengenai pentingnya mendorong agenda kerja sama bilateral yang luas, dengan berlandaskan pada penghormatan terhadap hukum internasional dan kedaulatan negara.

Ia juga mengatakan telah menyampaikan laporan terperinci mengenai serangan bersenjata terhadap wilayah Venezuela, yang menewaskan lebih dari 100 warga sipil dan personel militer.

Rodriguez juga menuding telah terjadi pelanggaran serius terhadap hukum internasional, termasuk pelanggaran imunitas pribadi Presiden Konstitusional Venezuela Nicolas Maduro Moros, serta Ibu Negara sekaligus “Pejuang Pertama” Cilia Flores.

Bakal Bertemu Machado

Donald Trump mengatakan pemimpin oposisi Venezuela, Maria Corina Machado, masih berpeluang terlibat dalam pengelolaan negara tersebut dalam kapasitas tertentu.

“Saya harus berbicara dengannya.”

“Dia mungkin akan terlibat dalam beberapa aspek,” kata Trump, Jumat (9/1/2026), ketika ditanya apakah Machado masih dapat berperan dalam pemerintahan Venezuela.

Trump juga mengatakan siap bertemu Machado di AS pada pekan depan.

Berbicara dalam kesempatan berbeda, dalam sebuah acara di Gedung Putih, Trump mengungkapkan Machado diperkirakan akan tiba di Washington pada Selasa atau Rabu.

Dalam konferensi pers setelah operasi AS di Venezuela, Trump mengatakan akan sangat sulit bagi Machado menjadi pemimpin negara tersebut, karena ia kurang mendapat dukungan maupun penghormatan di dalam negeri. (*)

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like