Tato Ternyata Bisa Pengaruhi Sistem Imun Tubuh Manusia

Ilustrasi Tato. Foto: Tribratanews Polri.
750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Dari simbol kecil di pergelangan tangan hingga gambar besar yang menutupi seluruh lengan, tato kini telah menjadi bagian dari ekspresi diri dan gaya hidup modern. Di balik nilai personal dan artistik yang melekat pada seni tubuh ini, terdapat konsekuensi biologis yang selama ini luput dari perhatian publik dan masih terus menjadi objek penelitian para ilmuwan.

Saat tinta tato disuntikkan ke kulit, prosesnya tidak berhenti di permukaan. Pigmen yang masuk ke dalam jaringan kulit berinteraksi langsung dengan sistem kekebalan tubuh melalui mekanisme yang baru mulai dipahami secara ilmiah dalam beberapa tahun terakhir. Selama ini, tato kerap dianggap relatif aman.

Namun, bukti ilmiah yang terus berkembang menunjukkan bahwa tinta tato bukanlah zat yang sepenuhnya inert atau netral secara biologis. Pertanyaan yang kini muncul bukan lagi apakah tato memasukkan zat asing ke dalam tubuh, melainkan seberapa besar potensi bahayanya dan apa dampaknya terhadap kesehatan jangka panjang.

BACA JUGA: Jadwal Swiss Stage M7 Mobile Legends: ONIC vs Boostgate

Apa yang Terkandung dalam Tinta Tato?

Tinta tato bukan sekadar pewarna sederhana. Ia merupakan campuran kimia kompleks yang terdiri dari pigmen pemberi warna, cairan pembawa agar tinta dapat tersebar merata, bahan pengawet untuk mencegah pertumbuhan mikroorganisme, serta berbagai zat lain dalam jumlah kecil. Yang menjadi perhatian utama, banyak pigmen tato modern awalnya dikembangkan untuk kebutuhan industri—seperti cat kendaraan, plastik, dan toner printer bukan untuk disuntikkan ke dalam tubuh manusia.

Menurut Manal Mohammed, Dosen Mikrobiologi Medis di University of Westminster, sejumlah tinta tato diketahui mengandung logam berat dalam kadar rendah, termasuk nikel, kromium, kobalt, dan dalam beberapa kasus timbal. Logam-logam ini bersifat toksik pada konsentrasi tertentu dan dikenal dapat memicu reaksi alergi serta sensitivitas imun. Selain itu, tinta tato juga dapat mengandung senyawa organik seperti pewarna azo dan hidrokarbon aromatik polisiklik (polycyclic aromatic hydrocarbons/PAH).

Pewarna azo lazim digunakan dalam industri tekstil dan plastik. Dalam kondisi tertentu—misalnya akibat paparan sinar matahari jangka panjang atau proses penghapusan tato dengan laser senyawa ini dapat terurai menjadi amina aromatik, yang dalam studi laboratorium dikaitkan dengan kanker dan kerusakan genetik.

Sementara itu, PAH merupakan hasil pembakaran bahan organik yang tidak sempurna dan banyak ditemukan pada jelaga, asap kendaraan, serta makanan yang terbakar. Tinta hitam, yang umumnya berbahan dasar karbon hitam, berpotensi mengandung PAH, mengingat sebagian senyawa ini diklasifikasikan sebagai karsinogen. Tinta berwarna khususnya merah, kuning, dan oranye—lebih sering dikaitkan dengan reaksi alergi dan peradangan kronis, sebagian karena kandungan garam logam dan pigmen azo yang mudah terurai menjadi zat toksik.

Interaksi dengan Sistem Imun

Proses penatoan melibatkan penyuntikan tinta ke lapisan dermis, lapisan kulit di bawah permukaan. Tubuh mengenali partikel pigmen sebagai benda asing. Sel-sel imun berupaya menghilangkannya, namun karena ukuran pigmen yang relatif besar, partikel tersebut tidak dapat sepenuhnya dibersihkan. Akibatnya, pigmen terperangkap di dalam sel kulit, menjadikan tato bersifat permanen.

Namun, tinta tato tidak sepenuhnya menetap di kulit. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa partikel pigmen dapat berpindah melalui sistem limfatik dan terakumulasi di kelenjar getah bening. Kelenjar ini berperan penting dalam menyaring sel imun dan mengoordinasikan respons kekebalan tubuh. Dampak jangka panjang dari penumpukan tinta di jaringan ini belum sepenuhnya dipahami, tetapi peran vitalnya dalam sistem imun menimbulkan kekhawatiran terkait paparan logam berat dan racun organik dalam jangka panjang.

Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa pigmen tato yang umum digunakan dapat memengaruhi aktivitas sistem imun, memicu peradangan, dan bahkan menurunkan efektivitas respons terhadap vaksin tertentu. Peneliti menemukan bahwa tinta diserap oleh sel imun di kulit. Ketika sel-sel ini mati, mereka melepaskan sinyal yang membuat sistem imun tetap aktif, sehingga memicu peradangan pada kelenjar getah bening terdekat hingga dua bulan.

Penelitian tersebut juga mengungkap bahwa keberadaan tinta tato di area suntikan vaksin dapat mengubah respons imun secara spesifik. Temuan ini dikaitkan dengan penurunan respons terhadap vaksin COVID-19. Meski demikian, hasil tersebut tidak menunjukkan bahwa tato membuat vaksin menjadi tidak aman, melainkan bahwa pigmen tato, dalam kondisi tertentu, dapat mengganggu sinyal kimia sistem imun.

BACA JUGA: MBG: Megaproyek Koneksi yang Meleset dari Tujuan

Risiko Jangka Panjang

Hingga kini, belum terdapat bukti epidemiologis kuat yang secara langsung mengaitkan tato dengan kanker pada manusia. Namun, studi laboratorium dan penelitian pada hewan menunjukkan potensi risiko. Beberapa pigmen tato dapat terurai seiring waktu atau akibat paparan sinar ultraviolet dan laser, membentuk produk sampingan yang bersifat toksik dan berpotensi karsinogenik.

Risiko kesehatan yang paling banyak terdokumentasi sejauh ini adalah reaksi alergi dan peradangan. Tinta merah paling sering dikaitkan dengan gatal berkepanjangan, pembengkakan, dan granuloma benjolan kecil akibat respons imun kronis. Reaksi ini bisa muncul lama setelah tato dibuat dan dipicu oleh sinar matahari atau perubahan kondisi imun. Seperti prosedur yang melukai kulit lainnya, tato juga membawa risiko infeksi, terutama jika standar kebersihan tidak terpenuhi.

Bagi sebagian besar orang, tato tidak menimbulkan masalah kesehatan serius. Namun, tato tetap memasukkan zat asing ke dalam tubuh yang tidak dirancang untuk menetap lama di jaringan manusia, dan sebagian di antaranya berpotensi menimbulkan risiko dalam kondisi tertentu.

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like