NarayaPost – Ledakan besar kembali mengguncang Teheran, ibu kota Iran, pada Selasa (3/3). Asap tebal terlihat membumbung dari wilayah timur kota di tengah laporan serangan yang disebut-sebut menargetkan markas dan fasilitas milik Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC). Hingga kini, pemerintah Iran belum memberikan keterangan resmi terkait objek spesifik yang dihantam dalam insiden tersebut.
Mengutip laporan Al Jazeera, situasi di Teheran masih tegang menyusul rangkaian serangan yang dalam beberapa hari terakhir menyasar struktur komando IRGC. Korps elite tersebut disebut mengalami pukulan berat setelah sejumlah posisi penting dalam tubuh organisasinya dilaporkan menjadi target.
Serangan sebelumnya dikabarkan menyasar panglima tertinggi IRGC serta lebih dari 10 pejabat militer senior lainnya. Gelombang serangan itu terjadi tak lama setelah pengumuman wafatnya Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran. Kepergian figur sentral tersebut disebut memperburuk situasi politik dan keamanan di dalam negeri, sekaligus meningkatkan tekanan terhadap struktur militer Iran, khususnya IRGC.
BACA JUGA: Eks Presiden-Wapres RI Ramai-Ramai Dipanggil Prabowo, Ada Apa?
Dalam laporan yang dikutip Al Jazeera, serangan terhadap jajaran komando IRGC disebut sebagai “pukulan yang sangat, sangat besar”. Ungkapan tersebut mencerminkan besarnya dampak terhadap stabilitas internal organisasi yang selama ini memegang peran strategis dalam pertahanan dan politik Iran.
Namun perkembangan di lapangan menunjukkan bahwa sasaran serangan tidak terbatas pada petinggi militer. Sejumlah markas, pusat komando, serta fasilitas yang terafiliasi dengan IRGC di berbagai wilayah Teheran dan kota-kota lain juga dilaporkan ikut menjadi target. Ledakan di wilayah timur ibu kota pada Selasa menambah panjang daftar lokasi yang terdampak.
Sejak gelombang serangan dimulai pada Sabtu (28/2) dini hari, IRGC secara rutin merilis pernyataan resmi yang memaparkan perkembangan terbaru. Mereka juga mengonfirmasi telah melakukan serangan balasan sebagai respons atas serangan yang diterima.
Pada Senin (2/3) malam, IRGC menyatakan telah menargetkan pangkalan militer di Kuwait serta lokasi berkumpulnya pasukan militer Amerika Serikat di Dubai. Pernyataan tersebut menandai meluasnya eskalasi konflik ke luar wilayah Iran.
“Serangan balasan masih terus berlanjut malam tadi,” demikian isi pernyataan resmi yang dirilis IRGC.
Eskalasi ini memunculkan kekhawatiran akan meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah. Serangan dan serangan balasan yang melibatkan berbagai pihak berpotensi menyeret lebih banyak negara ke dalam pusaran krisis, terutama jika fasilitas militer asing terus menjadi target.
BACA JUGA: Ketahanan BBM RI Akan Diperpanjang oleh Bahlil
Di tengah meningkatnya ketegangan, dampak konflik tidak hanya dirasakan oleh institusi militer dan elite politik. Laporan di lapangan menyebutkan bahwa warga sipil juga ikut terdampak, baik akibat ledakan di kawasan permukiman maupun gangguan terhadap layanan publik dan aktivitas ekonomi. Situasi ini menunjukkan bahwa krisis yang berkembang telah menyentuh berbagai lapisan masyarakat.
Analis menilai, kondisi keamanan Iran saat ini berada dalam fase yang sangat rentan. Kombinasi antara kekosongan kepemimpinan pasca wafatnya Ali Khamenei, tekanan terhadap IRGC, serta eskalasi konflik regional menciptakan ketidakpastian yang tinggi.
Hingga saat ini, belum ada kejelasan mengenai langkah diplomatik atau upaya mediasi yang dapat meredakan situasi. Dunia internasional terus memantau perkembangan di Teheran dan kawasan sekitarnya, mengingat dampak konflik tersebut berpotensi memengaruhi stabilitas regional maupun global.