NarayaPost – Iran menginginkan penghentian perang melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel secara menyeluruh dan permanen, serta tidak tertarik pada opsi gencatan senjata.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan, negaranya tidak percaya pada mekanisme gencatan senjata, karena ia nilai hanya bersifat sementara, dan berpotensi memicu konflik kembali di kemudian hari.
“Kami tidak mencari gencatan senjata, karena kami tidak ingin skenario ini terulang lagi setelah beberapa waktu.”
“Kami ingin perang berhenti sepenuhnya dan selamanya.”
“Kami tidak percaya pada gencatan senjata, kami percaya pada berakhirnya perang,” tegas Araghchi, Rabu (18/3/2026), dikutip Sputnik.
Teheran menilai solusi jangka pendek seperti gencatan senjata tidak cukup untuk menjamin stabilitas jangka panjang.
Araghchi juga menyinggung soal ketahanan sistem politik Iran, menyusul wafatnya Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Ali Larijani.
Ia menegaskan, struktur politik Negeri Para Mullah itu tetap berjalan normal dan mampu beradaptasi dengan cepat dalam situasi krisis.
Pengganti pejabat yang wafat, kata dia, dapat segera ditunjuk tanpa mengganggu jalannya pemerintahan.
“Sistem politik Iran adalah struktur yang sangat kuat.”
“Sistem tetap berjalan, dan pengganti segera ditemukan.”
“Jika seseorang terbunuh, hal yang sama akan terjadi.”
BACA JUGA: Donald Trump Pakai Firasat untuk Akhiri Perang Lawan Iran
“Jika menteri luar negeri terbunuh, pada akhirnya akan ada yang menggantikannya,” tutur Araghchi.
Iran juga menyoroti pentingnya pembaruan kesepakatan terkait jalur strategis global, yakni Selat Hormuz.
Araghchi menilai diperlukan aturan baru untuk menjamin keamanan dan kelancaran navigasi kapal di wilayah tersebut.
Ia membuka peluang keterlibatan pihak ketiga sebagai mediator dalam meredakan konflik di Timur Tengah.
Menurutnya, sejumlah negara, termasuk Cina, memiliki kapasitas untuk memainkan peran tersebut.
Araghchi menilai Cina memiliki rekam jejak positif dalam memediasi hubungan Iran dengan Arab Saudi sebelumnya, yang menghasilkan kesepakatan penting antara kedua negara.
“Menurut saya, beberapa negara dapat bertindak sebagai perantara, termasuk Cina.”
“Cina berhasil dan secara positif memediasi antara Iran dan Arab Saudi, dan saya yakin kedua negara mematuhi kesepakatan tersebut,” ujarnya.
Jubir IRGC Gugur
Televisi pemerintah Iran mengumumkan juru bicara Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) Jenderal Ali Mohammad Naeini, gugur.
Menurut Al Jazeera, pengumuman itu tak menyebut waktu kematiannya.
Tak dijelaskan pula apakah kematiannya terjadi selama gelombang serangan baru Israel-AS yang terjadi semalam.
Beberapa serangan itu menghantam Teheran timur dan di kota-kota lain seperti Karaj, Kerman, pelabuhan Bandar Lengeh, dan Kashan.
AFP yang mengutip Sepah News melaporkan, Naeini tewas karena serangan Israel-AS.
“Gugur dalam serangan teroris pengecut kriminal oleh pihak Amerika-Zionis pada subuh hari,” kata IRGC dalam keterangannya di situs mereka, Sepah News, Jumat (20/3/2026).
BACA JUGA: Iran Siapkan Banyak ‘Kejutan’ untuk Amerika dan Israel
Serangan terbaru Israel menyasar sejumlah target di Iran, termasuk di ibu kota dan infrastruktur ladang gas South Pars.
“IDF baru saja memulai gelombang serangan terhadap infrastruktur rezim Iran di jantung Teheran,” ujar juru bicara militer Israel, seperti dilaporkan Reuters.
Serangan ini terjadi hanya sehari setelah Presiden AS Donald Trump meminta Israel tidak mengulangi serangan terhadap infrastruktur energi, khususnya ladang gas South Pars.
Al Jazeera menjelaskan, Naeini berasal dari Kashan.
Dia adalah seorang brigadir jenderal dua berusia 68 tahun di IRGC.
Naeini diangkat pada 2024 sebagai juru bicara IRGC.
Sayembara Rp170 Miliar
Departemen Luar Negeri AS menjanjikan imbalan sebesar US$10 juta atau sekitar Rp170 miliar, untuk informasi terkait Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei dan pejabat tinggi lainnya.
Menteri Dalam Negeri Iran Eskandar Momeni dan Menteri Intelijen Esmail Khatib yang gugur dalam serangan udara Israel, termasuk di antara 10 pejabat Iran yang diincar AS.
“Individu-individu ini memimpin dan mengarahkan berbagai elemen IRGC, yang merencanakan, mengatur, dan melaksanakan terorisme di seluruh dunia,” bunyi pernyataan Deplu AS, seperti dikutip AFP.
AS mendesak para pemberi informasi mengirimkan pesan lewat Tor atau Signal
“Informasi Anda dapat membuat Anda memenuhi syarat untuk imbalan,” imbuh pernyataan itu.
Program ‘Hadiah untuk Keadilan’ dari Deplu AS ini menawarkan uang tunai untuk informasi intelijen, yang mengarah pada penangkapan atau penuntutan individu yang dicari.
Sebelumnya, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengonfirmasi Israel telah membunuh Menteri Intelijen Esmail Khatib dalam sebuah serangan udara.
Tewasnya Khatib menjadi pembunuhan ketiga pejabat tinggi Iran oleh Israel, setelah Kepala Keamanan Ali Larijani dan kepala pasukan paramiliter Basij juga tewas dalam serangan Israel. (*)