NarayaPost – Direktur Operasi Basarnas, Laksamana Bramantyo, menyampaikan pembaruan terkait penanganan total korban ambruknya bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny di Sidoarjo, Jawa Timur. Hingga saat ini, tercatat sebanyak 171 orang telah dievakuasi, dengan rincian 67 orang meninggal dunia dan 104 orang selamat. Sampai kini, tim Basarnas masih menyisir wilayah pondok pesantren yang ambruk, meski sudah rata tanah.
“Dari total keseluruhan korban terevakuasi adalah 171 orang, kemudian 67 orang meninggal dunia, dari 67 di antaranya 8 itu adalah body part, kemudian selamat 104,” ujar Bramantyo dalam konferensi pers yang disiarkan melalui kanal YouTube BNPB pada Selasa (7/10/2025).
Lebih lanjut, Bramantyo menjelaskan bahwa delapan body part atau bagian tubuh yang ditemukan diperkirakan merupakan bagian dari korban yang telah meninggal dunia. Kepastian identitas korban tersebut masih menunggu hasil pemeriksaan dari tim DVI (Disaster Victim Identification).
BACA JUGA: Badai Angin Landa Gunung Everest, Ratusan Pendaki Dievakuasi
Ia juga menegaskan bahwa proses penyisiran akan tetap dilakukan meski di area pondok pesantren yang kini telah rata dengan tanah. Bramantyo juga berharap, bahwa mungkin tidak ada lagi yang masih tersisa. “Harapan kami, mungkin tidak ada lagi yang tersisa,” tuturnya.
Dalam kesempatan yang sama, Deputi III Tanggap Darurat BNPB, Mayjen Budi Irawan, menyampaikan bahwa seluruh jenazah yang sempat dilaporkan hilang kini telah ditemukan. BNPB memperkirakan terdapat 63 jenazah yang tertimbun reruntuhan, terdiri atas 61 jenazah utuh dan 7 body part.
“Alhamdulillah kita telah temukan seluruh jenazah yang hilang, walaupun ini baru bersifat perkiraan,” ujar Budi. Ia menambahkan bahwa area bangunan pesantren yang runtuh kini telah rata sepenuhnya. “Sangat kecil kemungkinan masih ada jenazah di situ,” imbuhnya.
Diketahui, insiden ambruknya bangunan tiga lantai Pondok Pesantren Al Khoziny terjadi pada Senin sore, 29 September 2025, saat ratusan santri tengah melaksanakan salat Asar berjamaah di musala. Tim SAR gabungan segera dikerahkan untuk melakukan evakuasi, sementara alat berat mulai digunakan pada hari keempat pencarian. Proses evakuasi tersebut berlangsung selama sembilan hari.
BACA JUGA: Waspadai Hoaks BBM: Uji Oktan & Batas Isi Palsu
Tragedi ambruknya bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny di Sidoarjo meninggalkan duka mendalam bagi dunia pendidikan dan kemanusiaan di Indonesia. Peristiwa yang menelan puluhan korban jiwa itu menjadi pengingat penting tentang urgensi penerapan standar keselamatan bangunan, terutama di lingkungan pendidikan yang menampung banyak santri.
Upaya keras tim SAR gabungan, Basarnas, dan BNPB yang tanpa lelah mengevakuasi korban selama sembilan hari patut diapresiasi sebagai bentuk solidaritas dan tanggung jawab kemanusiaan. Seperti disampaikan Deputi III Tanggap Darurat BNPB, Mayjen Budi Irawan, seluruh jenazah yang sempat hilang kini telah ditemukan, menandai berakhirnya tahap pencarian di lokasi yang kini telah rata dengan tanah.
Kini, perhatian publik beralih pada langkah-langkah tindak lanjut mulai dari proses identifikasi korban oleh tim DVI hingga investigasi penyebab runtuhnya bangunan. Harapan besar muncul agar tragedi ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak untuk memperketat pengawasan konstruksi, memastikan kualitas bangunan layak huni, dan menjamin keselamatan para penghuni. Lebih dari sekadar bencana, peristiwa ini menjadi cermin tangguhnya semangat gotong royong dan kemanusiaan bangsa di tengah duka yang mendalam.