NarayaPost – Tragedi Air India 787 Dreamliner. Industri penerbangan internasional kembali diguncang oleh tragedi yang melibatkan pesawat buatan Boeing. Kali ini, sebuah Boeing 787-8 Dreamliner milik Air India jatuh tak lama setelah lepas landas dari Ahmedabad menuju London, menewaskan 260 orang termasuk 19 korban di darat. Insiden ini menjadi kecelakaan penerbangan paling mematikan di India dalam 10 tahun terakhir.
Laporan awal dari Biro Investigasi Kecelakaan Pesawat India (AAIB) mengindikasikan adanya gangguan pada sakelar bahan bakar yang secara misterius berpindah ke posisi “cutoff”, memutus aliran bahan bakar ke kedua mesin hanya beberapa detik setelah pesawat lepas landas.
Rekaman dari kokpit menunjukkan adanya kebingungan antara dua pilot terkait perubahan posisi sakelar tersebut. Salah satu pilot terdengar bertanya, “Kenapa sakelar dimatikan?”, sementara yang lain membantah telah menyentuhnya. Hal ini memicu spekulasi: apakah perpindahan sakelar ini disebabkan oleh kesalahan manusia, kerusakan teknis, atau kemungkinan sabotase?
BACA JUGA : Hashim Djojohadikusumo Sebut Sawit RI Dibutuhkan Eropa
Menyusul Tragedi Air India 787 Dreamliner tersebut, sejumlah negara langsung melakukan langkah antisipatif. India dan Korea Selatan secara resmi meminta inspeksi sistem sakelar bahan bakar di seluruh armada Boeing 787 mereka. Maskapai di Jepang, Singapura, dan Jerman pun mengikuti langkah serupa.
Maskapai Singapore Airlines, yang juga mengoperasikan Dreamliner, menyatakan hasil inspeksi terhadap armada mereka tidak menemukan kejanggalan. Demikian pula Grup Lufthansa yang menyebut sistem kontrol bahan bakar Boeing 787 mereka dalam kondisi aman.
Namun, kondisi ini tak menghentikan pertanyaan publik atas keselamatan sistem kontrol mesin Boeing, terutama karena insiden serupa pernah diperingatkan dalam arahan FAA (Administrasi Penerbangan Federal AS) tahun 2018 dan 2022. Salah satunya bahkan mengindikasikan risiko “aktivasi tidak disengaja dari sakelar bahan bakar akibat benda asing saat perawatan.”
Hal mengejutkan diungkap dalam laporan AAIB: Air India tidak menindaklanjuti arahan FAA tahun 2018 yang bersifat opsional. Bahkan belum dapat dipastikan apakah maskapai itu mengambil langkah sesuai arahan tahun 2022 yang mewajibkan inspeksi panel kontrol bahan bakar dan sistem pemadam kebakaran mesin.
Menurut catatan perawatan, modul kontrol throttle pada pesawat telah diganti tahun 2023. Namun, pergantian itu dinyatakan tidak berkaitan langsung dengan sistem sakelar bahan bakar.
Menanggapi laporan awal tersebut, CEO Air India Campbell Wilson menyerukan agar semua pihak menahan diri dari spekulasi. Dalam memo internal yang bocor ke media, ia menyebut laporan itu “memberi kejelasan sekaligus memunculkan pertanyaan baru”.
Wilson memastikan bahwa tidak ada anomali dalam bahan bakar, pilot dinyatakan sehat dan bebas alkohol, serta semua perawatan dan inspeksi berkala telah dilakukan.
Asosiasi Pilot Maskapai India (ALPA India) mengecam kecenderungan menyalahkan awak penerbangan dalam laporan awal. Mereka menuntut dilibatkan dalam proses investigasi sebagai pengamat independen demi menjamin transparansi dan keadilan.
Presiden ALPA India, Sam Thomas, menyebutkan bahwa ada kekhawatiran penyelidikan ini diarahkan untuk menyalahkan pilot, padahal faktor teknis dan struktural perlu lebih diperhatikan secara objektif.
Tragedi ini memperpanjang daftar insiden yang membayangi reputasi Boeing. Sebelumnya, dunia masih diingatkan pada dua kecelakaan tragis Boeing 737 Max pada 2018 dan 2019 yang menewaskan ratusan orang dan disebabkan oleh sistem MCAS yang bermasalah.
Belum lama ini, Boeing kembali jadi berita utama karena insiden lainnya:
Lebih mencemaskan lagi, sejumlah pelapor keselamatan internal Boeing mengaku adanya kelalaian dalam proses produksi dan perawatan komponen penting. Dua di antara pelapor itu bahkan ditemukan meninggal dunia secara misterius hanya dalam waktu beberapa minggu, salah satunya akibat luka tembak yang dinyatakan sebagai bunuh diri.
BACA JUGA : Camilan Sehat Malam Hari untuk Penderita Diabetes
Kecelakaan ini menjadi peringatan keras bagi industri penerbangan dunia bahwa standar keamanan tidak boleh dikompromikan. Boeing, sebagai salah satu produsen pesawat terbesar, kini berada di bawah pengawasan ketat regulator dan publik.
Laporan akhir dari AAIB India dijadwalkan baru akan rampung paling cepat dalam satu tahun. Hingga saat itu, berbagai pihak berharap investigasi berjalan transparan, menyeluruh, dan tanpa pengaruh kepentingan komersial.