NarayaPost – Tragedi KMP Tunu Pratama. Sebuah tragedi kembali terjadi di perairan Indonesia. Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Tunu Pratama Jaya tenggelam saat berlayar dari Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi menuju Gilimanuk, Bali, pada Kamis dini hari, 3 Juli 2025. Kapal tersebut mengangkut total 65 orang dan 22 kendaraan.
Hingga hari ketiga operasi pencarian, 29 penumpang dinyatakan masih hilang, enam orang ditemukan dalam keadaan meninggal dunia, dan 30 orang berhasil diselamatkan.
BACA JUGA : Indonesia Tawarkan Impor Gandum dan Pesawat Boeing Demi Lunakkan Tarif Trump
KMP Tunu Pratama Jaya diketahui mengalami masalah pada ruang mesin, yang diduga menjadi penyebab awal tenggelamnya kapal. Berdasarkan laporan dari operator penyeberangan, kapal sempat blackout (mati listrik total) beberapa saat setelah kru melaporkan kebocoran di ruang mesin.
“Dilaporkan mengalami kebocoran di ruang mesin dan kemudian terbalik,” tulis laporan operator pelabuhan Gilimanuk.
Pada pukul 00.16 WITA, kru sempat mengirimkan permintaan bantuan. Tiga menit kemudian, pukul 00.19 WITA, kapal mengalami pemadaman total, lalu perlahan terbalik dan hanyut ke arah selatan perairan Selat Bali.
Sampai saat ini, belum ada kesimpulan resmi dari tim penyidik. Namun, dua faktor utama yang disoroti sebagai penyebab tenggelamnya kapal adalah kebocoran mesin dan kondisi cuaca buruk.
Ni Putu Cahyani Negara dari Kantor Keselamatan Berlayar Penjagaan dan Patroli (KBPP) mengungkapkan bahwa ombak di kawasan Selat Bali saat kejadian berada pada kisaran 1,7 hingga 2,5 meter, berdasarkan data dari BMKG.
“Ombak di area kejadian cukup tinggi dan angin kencang dapat memperburuk kondisi kapal yang sedang dalam masalah teknis,” jelas Cahyani.
Tim SAR gabungan hingga hari ketiga masih terus bekerja tanpa henti untuk menemukan 29 korban yang masih dinyatakan hilang. Menurut Deputi Operasi Basarnas, Ribut Eko Suyanto, area pencarian kini diperluas hingga ke arah selatan lintasan Ketapang–Gilimanuk, karena arus bawah laut terpantau mengarah ke selatan.
“Kami menggunakan metode fix datum untuk menentukan posisi terakhir kapal sebagai pusat pencarian,” jelas Eko.
Pencarian dilakukan melalui:
Berikut daftar alat utama operasi SAR yang terlibat dalam pencarian korban KMP Tunu Pratama:
Koordinasi antar-instansi dilakukan dari Posko Operasi SAR di Pelabuhan Ketapang, yang juga mencatat jumlah korban selamat dan korban jiwa secara real time.
Menurut analisa BMKG dan informasi dari Basarnas, tantangan utama dalam pencarian adalah kondisi cuaca buruk:
Semua faktor ini menyulitkan tim penyelam dan pencari untuk melacak titik jatuh korban di bawah permukaan.
Kecelakaan ini kembali menyuarakan kekhawatiran publik terhadap keselamatan transportasi laut di Indonesia. Selat Bali merupakan salah satu jalur tersibuk dengan aktivitas penyeberangan antarpulau. Namun, insiden ini menunjukkan adanya celah dalam pengawasan dan kesiapan armada kapal.
LSM Transport Watch Indonesia menyebut perlunya:
BACA JUGA : MK Tegaskan Pendidikan Dasar Gratis adalah Hak Konstitusional, Bukan Beban Anggaran
KMP Tunu Pratama Jaya menjadi pengingat bahwa keselamatan pelayaran tidak bisa ditawar. Di tengah tantangan cuaca dan kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan, keselamatan laut harus menjadi prioritas utama.
Masyarakat berharap tragedi ini segera ditindaklanjuti dengan evaluasi menyeluruh dan pertanggungjawaban yang adil bagi keluarga korban. Tim SAR terus bekerja siang malam demi menuntaskan misi kemanusiaan.