NarayaPost – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengungkapkan, Iran memberikan hadiah terkait minyak dan gas, di tengah klaim upaya negosiasi untuk mengakhiri perang.
“Mereka (Iran) melakukan sesuatu yang luar biasa kemarin.”
“Mereka memberi kita hadiah, dan hadiahnya tiba hari ini,” katanya, dikutip AFP, Rabu (25/3/2026).
Trump bahkan menggambarkan hadiah tersebut sangat signifikan, meski tak merinci hadiah apa yang dimaksud.
“Ini bukan terkait nuklir, melainkan terkait minyak dan gas,” ungkapnya.
Saat ditanya apakah hal itu terkait tuntutan agar Iran membuka kembali Selat Hormuz untuk lalu lintas minyak, Trump mengiyakan.
BACA JUGA: Iran Bantah Negosiasi Seperti Klaim Donald Trump
“Ya, itu terkait dengan arus dan selat tersebut,” jawabnya.
Trump selama ini mengeklaim pihak Iran sepakat tak akan punya senjata nuklir.
Ia sebelumnya juga mengeklaim telah melakukan pembicaraan produktif dengan para pejabat Iran.
Dia mengatakan pembicaraan itu dilakukan dengan orang penting Iran, tapi bukan Mojtaba Khamenei.
Sejumlah media AS dan Israel melaporkan orang yang dihubungi pemerintah Trump adalah ketua parlemen Iran Bagher Ghalibaf.
Namun, Ghalibaf membantah ada negosiasi dengan AS yang melibatkan dirinya.
BACA JUGA: Trump Pertimbangkan Kurangi Serangan Terhadap Iran
Ghalibaf menyebut klaim negosiasi AS dengan Iran sebagai berita palsu, untuk memanipulasi pasar keuangan dan minyak, serta menghindari jebakan AS-Israel.
“Tidak ada negosiasi yang dilakukan dengan AS, dan berita palsu digunakan untuk memanipulasi pasar keuangan dan minyak serta menghindari jebakan yang menjebak AS dan Israel,” tulisnya di media sosial.
Kirim Rencana Perdamaian
Donald Trump juga mengeklaim telah mengirimkan rencana perdamaian kepada Iran, dan yakin perang segera berhenti.
Trump mengaku telah mengirimkan sebuah rencana damai, yang semuanya dimulai dari satu hal, Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.
Menurut laporan The New York Times yang mengutip pejabat anonim, AS mengirimkan rencana 15 poin kepada Iran melalui Pakistan.
Sementara, laporan media Israel Channel 12 menyebut Trump mengusulkan gencatan senjata selama satu bulan, di mana kedua pihak akan membahas proposal yang mencakup penyerahan uranium yang telah diperkaya oleh Iran, serta larangan pengayaan lebih lanjut.
Dalam skema tersebut, Iran juga akan menjamin jalur aman di Selat Hormuz.
Sebagai imbalannya, Iran akan memperoleh pencabutan seluruh sanksi yang telah diberlakukan selama bertahun-tahun, serta bantuan mengembangkan energi nuklir sipil di Bushehr.
Situs nuklir Bushehr merupakan salah satu fasilitas penting Iran yang telah ada sejak sebelum Revolusi Islam 1979.
AFP melaporkan, Trump mengatakan AS saat ini sedang bernegosiasi dengan Iran, meski Teheran belum mengonfirmasi soal klaim pembicaraan formal tersebut.
Bagher Ghalibaf Piihan Trump
Donald Trump disebut mengincar ketua parlemen Bagher Ghalibaf untuk menjadi pemimpin Iran di masa depan.
Dua sumber yang familiar dengan hal tersebut mengatakan, beberapa pejabat Gedung Putih memandang Ghalibaf sebagai mitra yang bisa diandalkan.
Ia dianggap sosok yang bisa diajak negosiasi di masa depan usai serangan brutal AS-Israel ke Iran.
“Dia adalah pilihan yang menarik,” kata salah satu sumber, dikutip Politico.
Namun, kedua sumber itu mengatakan Gedung Putih belum siap berkomitmen ke satu orang. AS berharap bisa menguji beberapa kandidat sambil mencari orang yang bersedia membuat kesepakatan.
“Dia salah satu yang tertinggi.”
“Tapi kita harus menguji mereka, dan kita tidak bisa terburu-buru,” imbuh sumber itu.
Media AS juga melaporkan Trump ingin Ghalibaf jadi pemimpin tertinggi Iran di masa depan.
“Pemerintahan Trump diam-diam mempertimbangkan ketua parlemen Iran sebagai mitra potensial – dan bahkan pemimpin masa depan,” lapor Politico seperti dikutip Reuters, Selasa (24/3/2026). (*)