NarayaPost – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berniat meminta negara-negara Arab membantu menanggung biaya perang melawan Iran.
“Saya tidak akan mendahului dia (Trump) dalam hal itu.”
“Tetapi tentu itu adalah ide yang sepengetahuan saya dia miliki, dan sesuatu yang saya pikir Anda akan lebih sering mendengar darinya,” ujar Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt, Senin (30/3/2026).
Para pejabat Pentagon mengatakan kepada Kongres AS awal bulan ini, pemerintahan Trump menghabiskan lebih dari 11,3 miliar dolar AS dalam enam hari pertama perang melawan Iran.
Angka tersebut tidak termasuk kerusakan akibat pertempuran dan penggantian kerugian, yang kemungkinan menelan biaya sekitar 1,4 hingga 2,9 miliar dolar AS bagi Pentagon selama tiga pekan pertama perang.
Ingin Rebut Pulau Kargh
Donald Trump mengaku menginginkan minyak Iran, dan mengambil Pulau Kargh, hub ekspor minyak di negara tersebut.
Dalam sebuah wawancara dengan Financial Times, Trump mengatakan hal yang dia sukai adalah mengambil alih minyak di Iran dan membandingkan langkah AS terhadap Venezuela, di mana Washington bermaksud mengendalikan industri minyak tanpa batas waktu, setelah secara paksa menangkap Presiden Nicolas Maduro pada Januari lalu.
Mengambil alih minyak Iran akan melibatkan perebutan Pulau Kharg, yang menangani lebih dari 90 persen ekspor minyak Iran, demikian dilaporkan Financial Times, seraya memperingatkan serangan semacam itu berisiko meningkatkan jumlah korban dan memperpanjang perang.
“Mungkin kami merebut Pulau Kharg, mungkin juga tidak.”
“Kami punya banyak opsi.”
“Itu juga berarti kami harus berada di sana untuk sementara waktu,” tutur Trump dalam laporan surat kabar tersebut.
BACA JUGA: Iran Klaim Lumpuhkan 500 Lebih Tentara Amerika di Dubai
Dia meyakini Iran memiliki sedikit atau tidak memiliki pertahanan di pulau tersebut.
“Kami bisa merebutnya dengan sangat mudah,” ucapnya.
Pernyataan Trump tersebut muncul saat dia meningkatkan pengerahan militer AS di Timur Tengah, sembari mempertimbangkan operasi militer untuk mengambil hampir 1.000 pon (sekitar 450 kilogram) uranium dari Iran.
Dia juga mendorong para penasihatnya untuk mendesak Iran, agar setuju menyerahkan material itu sebagai syarat untuk mengakhiri perang.
Pentagon dilaporkan mengerahkan hingga 10.000 pasukan darat tambahan ke kawasan tersebut, dengan Komando Pusat (Central Command/CENTCOM) AS mengumumkan pada Sabtu (28/3) bahwa lebih dari 3.500 pasukan, termasuk 2.500 marinir, telah tiba di Timur Tengah.
Terlepas dari ancaman itu, Trump menyatakan pembicaraan tidak langsung antara AS dan Iran melalui utusan Pakistan, menunjukkan kemajuan.
“Kesepakatan bisa dicapai dengan cukup cepat,” ungkapnya.
Harga minyak melonjak sejak AS dan Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran pada 28 Februari, dengan harga minyak mentah Brent naik hingga 119,5 dolar AS per barel pada Maret, level tertinggi sejak Juni 2022.
Klaim Iran Kirim Minyak
Donald Trump mengatakan, Iran akan mengirimkan 20 kapal tanker minyak ke AS melalui Selat Hormuz, mulai Senin pagi waktu setempat.
“Dan sekarang, hari ini, mereka memberi kami, sebagai semacam penghormatan—saya tidak tahu, saya tidak bisa mendefinisikannya dengan tepat.”
“Tetapi saya pikir sebagai tanda hormat, mereka memberikan kepada kami 20 kapal besar berisi minyak yang akan melintasi Selat Hormuz, dan itu akan dimulai besok pagi (Senin).”
“Saya hanya akan mengatakan kami berjalan sangat baik dalam negosiasi tersebut,” beber Trump.
Ia mengaku cukup yakin AS akan mencapai kesepakatan dengan Iran, tetapi ada kemungkinan juga tidak.
“Saya melihat adanya kesepakatan dengan Iran,” cetusnya, sembari menambahkan hal itu bisa segera terjadi.
BACA JUGA: Donald Trump: Saya Pembawa Perdamaian
Trump juga mengatakan AS sedang bernegosiasi dengan Iran, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Ketika ditanya apakah ia masih mempertimbangkan pengerahan pasukan darat, ia menjawab AS memiliki banyak alternatif.
“Kami lebih cepat dari jadwal dalam urusan Iran.”
“Kami beberapa pekan lebih cepat dari jadwal, dan kami berhadapan dengan sebuah kelompok, ini benar-benar rezim baru.”
“Ini kelompok orang baru, orang-orang yang belum pernah kami hadapi sebelumnya, yang bertindak sangat rasional,” klaim Trump.
Sebelumnya pada Rabu (25/3/2026), Iran menolak rencana 15 poin dari AS untuk mengakhiri perang, dengan mengatakan setiap gencatan senjata hanya akan terjadi sesuai syarat dan waktu yang ditentukan Teheran. (*)