NarayaPost – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menginginkan perjanjian nuklir yang lebih baik, untuk menggantikan Perjanjian Pengurangan dan Pembatasan Senjata Serangan Strategis Lebih Lanjut (New START) dengan Rusia, yang baru berakhir.
Trump menyatakan hal itu di media sosial, Kamis (5/2/2026), setelah Traktat New START, perjanjian terakhir dengan Rusia tentang pengendalian nuklir, berakhir sehari sebelumnya, yang memicu kekhawatiran munculnya perlombaan baru senjata global.
Trump sebelumnya menolak tawaran Rusia memperpanjang batasan jumlah senjata nuklir dalam traktat itu selama satu tahun.
Ia menilai perjanjian tersebut dinegosiasikan secara buruk oleh AS.
Perjanjian yang mulai berlaku pada 2011 itu membatasi masing-masing pihak untuk memiliki paling banyak 1.550 hulu ledak nuklir terpasang, serta 800 peluncur, terpasang maupun tidak.
New START juga membatasi 700 wahana pengantar senjata nuklir terpasang, termasuk rudal balistik antar-benua dan pengebom berat yang dilengkapi senjata nuklir.
BACA JUGA: Perjanjian Pembatasan Nuklir Berakhir, AS-Rusia Harus Berunding
“Ketimbang memperpanjang ‘NEW START’… kita seharusnya menugaskan para pakar nuklir untuk mengerjakan perjanjian baru yang lebih baik dan dimodernisasi, yang bisa bertahan lama di masa depan,” tulis Trump di Truth Social.
Trump juga bersikeras agar Cina dilibatkan dalam setiap perundingan pengurangan senjata nuklir di masa depan, meski negara itu belum menunjukkan kesediaan untuk menerima gagasannya itu.
Cina beralasan armada nuklirnya jauh lebih kecil dibandingkan AS dan Rusia, yang jumlahnya mencakup sekitar 90 persen dari total senjata nuklir dunia jika digabungkan.
New START ditandatangani pada 2010 dan mulai berlaku pada 5 Februari 2011, untuk masa perjanjian 10 tahun.
Pada 2021, beberapa pekan setelah Joe Biden menggantikan Trump sebagai presiden, AS dan Rusia sepakat memperpanjang perjanjian tersebut selama lima tahun hingga 4 Februari 2026.
Portal berita AS Axios melaporkan, pejabat AS dan Rusia hampir mencapai kesepakatan untuk tetap mematuhi batasan New START setidaknya selama enam bulan.
Ogah Ikut Serta
Pemerintah Cina menyesalkan berakhirnya perjanjian New START, namun menegaskan tidak berniat terikat dalam perjanjian sejenis.
“Dari sudut pandang Cina, berakhirnya Perjanjian New START benar-benar disesalkan, tapi kekuatan nuklir Cina sama sekali tidak setara dengan AS atau Rusia.”
“Karenanya, Cina tidak akan ikut serta dalam negosiasi perlucutan senjata nuklir untuk saat ini,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Cina Lin Jian dalam konferensi pers di Beijing, Kamis.
Perjanjian pengendalian senjata nuklir antara AS dan Rusia bernama New START yang merupakan singkatan dari Strategic Arms Reduction Treaty (Perjanjian Pengurangan Senjata Strategis), berakhir per 4 Februari 2026.
Perjanjian tersebut membatasi jumlah hulu ledak nuklir strategis AS dan Rusia masing-masing hingga 1.550 unit, serta membatasi jumlah kendaraan dan sistem pengiriman strategis, seperti pesawat pengebom berat, ICBM, dan SLBM, hingga 800 unit.
“Perjanjian ini sangat penting untuk stabilitas strategis global, dan ada kekhawatiran luas tentang dampaknya terhadap sistem pengendalian senjata nuklir internasional dan tatanan nuklir global setelah perjanjian tersebut berakhir,” tutur Lin Jian.
BACA JUGA: Vladimir Putin Klaim Tak Ada yang Bisa Saingi Senjata Nuklir Rusia
Ia menambahkan, Rusia mengusulkan agar Rusia dan AS terus mematuhi batasan utama perjanjian tersebut.
“Cina berharap AS akan secara aktif menanggapi usulan Rusia, mencari solusi yang bertanggung jawab atas berakhirnya perjanjian tersebut, dan melanjutkan dialog stabilitas strategis dengan Rusia sesegera mungkin.”
“Inilah juga yang ingin dilihat dunia,” imbuh Lin Jian.
Lin Jian menegaskan, Cina mengikuti strategi nuklir defensif dan kebijakan tidak menggunakan senjata nuklir lebih dahulu, dan berjanji tanpa syarat untuk tidak menggunakan atau mengancam dengan senjata nuklir terhadap negara-negara non-senjata nuklir dan zona bebas senjata nuklir.
“Cina mempertahankan kemampuan nuklirnya pada tingkat minimum yang dibutuhkan oleh keamanan nasional, dan tidak berniat terlibat dalam perlombaan senjata dengan negara mana pun,” tegas Lin Jian.
Cina, lanjut Lin Jian, percaya perlucutan senjata nuklir harus mengikuti prinsip-prinsip menjaga stabilitas strategis global dan keamanan yang tak berkurang untuk semua.
Perjanjian New START memberikan langkah-langkah transparansi untuk menghindari salah menilai niat masing-masing melalui transfer data, pemberitahuan, dan inspeksi di lokasi.
New START merupakan kesepakatan periode 10 tahun yang ditandatangani oleh Presiden AS saat itu, Barack Obama dan Presiden Rusia Dmitry Medvedev pada 2010, dan mulai berlaku efektif mulai 5 Februari 2011.
Perjanjian tersebut diperpanjang pada 2021 selama lima tahun lagi, setelah Presiden AS Joe Biden menjabat dan Rusia dipimpin Presiden Vladimir Putin, dan berakhir pada 4 Februari 2026.
Berakhirnya kesepakatan tersebut berarti Moskow dan Washington akan bebas meningkatkan jumlah rudal dan mengerahkan ratusan hulu ledak strategis lagi, meskipun hal ini menimbulkan tantangan logistik dan akan membutuhkan waktu.
Sebelum perjanjian New START, ada perjanjian START yang ditandatangani pada 1991 oleh AS dan Uni Soviet, berisi larangan bagi masing-masing negara penandatangan untuk mengerahkan lebih dari 6.000 hulu ledak nuklir yang berlaku hingga 2009.
Pada Januari 2025, Rusia memiliki 4.309 hulu ledak nuklir, dan AS memiliki 3.700.
Prancis dan Inggris, yang merupakan sekutu AS yang terikat perjanjian, masing-masing memiliki 290 dan 225, sementara Cina memiliki sekitar 600.
Berakhirnya New START juga dapat mengancam perjanjian nonproliferasi nuklir (NPT) tahun 1970, yang berisi kesepakatan negara-negara tanpa senjata nuklir berjanji untuk tidak memiliki senjata nuklir, selama negara-negara pemilik senjata tersebut melakukan upaya dengan iktikad baik untuk melucuti senjata. (*)