Trump: Perang Dunia Bisa Terjadi Jika Main-main Soal Ukraina

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meminta negara-negara membayar lebih dari 1 miliar dolar AS (sekitar Rp16,8 triliun), jika mau mendapatkan kursi permanen di Dewan Perdamaian Gaza (Gaza Board of Peace).
750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengingatkan, bermain-main soal penyelesaian perang Ukraina bisa memicu Perang Dunia III.

“Itu sebenarnya tidak berdampak pada Amerika Serikat kecuali jika situasinya lepas kendali.”

“Hal-hal seperti ini bisa berujung pada Perang Dunia III.”

“Dan saya sudah mengatakan itu beberapa hari lalu.”

“Saya bilang, semua orang terus bermain-main seperti ini, kalian akan berakhir pada Perang Dunia III dan kita tidak ingin melihat itu terjadi,” kata Trump di Gedung Putih, Kamis (11/12/2025).

Trump tidak menyebutkan kepada siapa ia menyampaikan peringatan tersebut.

BACA JUGA: Rusia Siap Ladeni Eropa Jika Kerahkan Pasukan ke Ukraina

“Saya pikir kami sudah sangat dekat dengan Rusia untuk mencapai kesepakatan.”

“Saya pikir kami juga sangat dekat dengan Ukraina untuk mencapai kesepakatan,” ungkapnya.

AS, lanjut Trump, mengupayakan penyelesaian meskipun tidak terlibat langsung dalam konflik tersebut, melainkan hanya dalam proses negosiasi.

Ukraina dan negara-negara Eropa, kata Trump, menginginkan AS membantu menyelesaikan situasi itu.

The Wall Street Journal melaporkan, Trump melalui panggilan telepon baru-baru ini mengatakan kepada para pemimpin Jerman, Prancis, dan Inggris, mereka harus menekan Volodymyr Zelenskyy agar menerima rencana perdamaian yang diusulkan AS, yang mencakup konsesi teritorial signifikan serta pembatasan militer Ukraina.

Dalam panggilan telepon dengan para pemimpin Eropa tersebut, Trump mengaku menggunakan kata-kata yang cukup keras ketika membahas Ukraina.

Sejak pertengahan November, AS telah mempromosikan proposal perdamaian baru untuk Ukraina.

Pada 2 Desember, Presiden Rusia Vladimir Putin menerima utusan khusus AS Steve Witkoff dan menantu Trump, Jared Kushner, di Kremlin.

Kunjungan perwakilan AS ke Rusia tersebut terkait pembahasan rencana perdamaian AS untuk Ukraina.

Proposal Baru

Kanselir Jerman Friedrich Merz mengumumkan rencana perdamaian baru untuk Ukraina, yang telah disiapkan oleh Kyiv bersama sekutu Eropa.

Proposal ini secara khusus membahas isu-isu teritorial dan direncanakan dibahas lebih lanjut dengan AS pada akhir pekan ini.

Pengumuman tersebut disampaikan Merz pada Kamis (11/12/2025) dalam konferensi pers di Berlin.

Ia didampingi Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer.

Ketiga pemimpin Eropa ini telah mendiskusikan proposal perdamaian baru tersebut dengan Presiden AS Donald Trump melalui panggilan telepon pada Rabu (10/12/2025).

Fokus utama pembicaraan adalah mengenai konsesi teritorial yang dapat diberikan Ukraina.

BACA JUGA: Volodymyr Zelenskyy: Ukraina Takkan Serahkan Wilayah ke Rusia!

Merz menegaskan, keputusan akhir mengenai konsesi tersebut berada di tangan presiden Ukraina dan rakyat Ukraina, hal yang juga ditegaskan kepada Trump.

Merz menekankan pentingnya partisipasi Ukraina dalam proses perdamaian, agar kesepakatan yang dihasilkan dapat diterima semua pihak.

Merz menjelaskan, proses perdamaian akan dilakukan secara bertahap.

Langkah berikutnya adalah pembicaraan dengan AS yang dijadwalkan berlangsung pada akhir pekan.

Setelah itu, kemungkinan akan diadakan pertemuan di Berlin pada awal minggu depan.

Partisipasi AS dalam pertemuan tersebut akan bergantung pada penyusunan dokumen bersama. 

Proposal perdamaian ini mencakup aspek politik dan teritorial, dengan tujuan menciptakan kesepakatan yang memperkuat posisi Ukraina dalam negosiasi.

Merz menekankan pentingnya koordinasi antara sekutu Eropa dan AS, untuk memastikan proses diplomatik berjalan efektif.

Ia berharap upaya ini dapat membawa solusi damai jangka panjang bagi konflik di Ukraina, dan menjadi dasar diskusi internasional selanjutnya.

Trump sebelumnya mengkritik negara-negara Eropa terkait penanganan perang Ukraina, selama wawancara dengan Politico, Senin (8/12/2025).

“Mereka berbicara tetapi mereka tidak menghasilkan, dan perang terus berlanjut,” ucap Trump.

Trump menggambarkan para pemimpin Eropa lemah karena ingin bersikap politis yang benar, dan tidak tahu harus berbuat apa.

Trump ingin terus mendukung tokoh-tokoh politik Eropa yang memiliki pandangan yang sama dengannya, meskipun hal itu memicu penolakan.

Menanggapi pernyataan Trump, Presiden Dewan Eropa Antonio Costa mendesak AS menghormati kehidupan politik domestik dan pilihan demokrasi blok tersebut.

“Jika kita adalah sekutu, kita harus bertindak sebagai sekutu, dan sekutu tidak mengancam untuk ikut campur dalam kehidupan politik domestik dan pilihan demokrasi satu sama lain,” tegas Costa, Senin (8/12/2025).

Costa menegaskan kembali, Eropa dan AS memiliki perbedaan pandangan dunia, dan tidak lagi berbagi visi yang sama tentang tatanan internasional. (*)

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like