NarayaPost – Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Sabtu (8/3) mengklaim bahwa negaranya telah berada di posisi unggul dalam konflik melawan Iran. Ia juga menegaskan bahwa Washington tidak membutuhkan bantuan militer dari Inggris, menyusul ketegangan terbaru antara kedua negara sekutu tersebut.
Pernyataan Trump muncul setelah pemerintah Inggris dinilai tidak memberikan dukungan penuh terhadap operasi militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Ketegangan ini semakin mencuat setelah Perdana Menteri Inggris Keir Starmer sempat menahan dukungan langsung bagi langkah militer Washington terhadap Iran.
Menurut laporan Reuters, Trump menilai sikap pemerintah Inggris tersebut telah merusak hubungan antara kedua negara yang selama ini dikenal sebagai sekutu dekat. Ketegangan bahkan meningkat setelah London dilaporkan memblokir penggunaan pangkalan militer Inggris oleh pasukan Amerika Serikat untuk melancarkan serangan terhadap Iran.
BACA JUGA: Ruas Tol Ini Diskon 30 Persen Saat Libur Lebaran
Dalam pernyataannya di media sosial miliknya, Truth Social, Trump menyindir sikap Inggris yang dinilai baru mempertimbangkan keterlibatan ketika konflik sudah berlangsung dan situasi mulai memanas. Ia menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak memerlukan dukungan tambahan jika perang sudah berada pada tahap kemenangan.
“Kami tidak membutuhkan orang yang bergabung dalam perang setelah kami sudah memenangkannya,” tulis Trump dalam unggahannya.
Trump juga menanggapi laporan bahwa Inggris sedang mempertimbangkan mengirim dua kapal induk ke kawasan Timur Tengah sebagai bagian dari kemungkinan dukungan militer. Namun, ia menegaskan bahwa Amerika Serikat mampu menghadapi Iran tanpa bantuan tersebut.
Menurut Trump, kekuatan militer Amerika Serikat sudah cukup untuk mengatasi situasi konflik di kawasan tersebut. Ia bahkan mengisyaratkan kekecewaan terhadap sikap pemerintah Inggris yang dianggap tidak memberikan dukungan sejak awal operasi militer dimulai.
“Saya akan mengingat kurangnya dukungan Inggris selama konflik dengan Iran,” tulis Trump dalam pernyataan lainnya.
Pernyataan tersebut memicu perhatian internasional karena hubungan antara Amerika Serikat dan Inggris selama ini dikenal sebagai “special relationship”, istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan kedekatan diplomatik, politik, dan militer antara kedua negara.
Dalam berbagai konflik internasional sebelumnya, London dan Washington hampir selalu berada pada posisi yang sama dalam mendukung operasi militer maupun kebijakan keamanan global. Namun, situasi terbaru menunjukkan adanya perbedaan pendekatan dalam menghadapi ketegangan dengan Iran.
Sementara itu, laporan Reuters menyebut pemerintah Inggris memilih mengambil sikap yang lebih berhati-hati sebelum memberikan dukungan langsung terhadap operasi militer Amerika Serikat. Pemerintah di London mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk faktor hukum internasional serta implikasi strategis dari keterlibatan militer di kawasan Timur Tengah.
Sikap hati-hati tersebut juga dipengaruhi oleh kekhawatiran bahwa konflik dengan Iran dapat meluas dan memicu ketegangan regional yang lebih besar. Kawasan Timur Tengah selama ini dikenal sebagai wilayah yang sensitif secara geopolitik, di mana berbagai kekuatan regional dan global memiliki kepentingan strategis.
BACA JUGA: Siklon Tropis Makin Mengancam Indonesia Akibat Perubahan Iklim
Selain itu, pemerintah Inggris juga menghadapi tekanan politik domestik yang mendorong agar setiap keputusan terkait keterlibatan militer dilakukan melalui pertimbangan yang matang. Langkah ini dinilai penting untuk menghindari keterlibatan dalam konflik yang berpotensi berkepanjangan.
Meski demikian, hingga kini belum ada keputusan final dari pemerintah Inggris mengenai kemungkinan pengiriman kapal induk atau dukungan militer lainnya ke kawasan tersebut.
Ketegangan pernyataan antara Trump dan pemerintah Inggris ini menambah dinamika baru dalam hubungan transatlantik. Para pengamat menilai perkembangan tersebut dapat memengaruhi koordinasi keamanan antara negara-negara Barat, terutama dalam menghadapi krisis yang melibatkan Iran di kawasan Timur Tengah.