NarayaPost – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meyakini Presiden Cina Xi Jinping tidak akan mencoba merebut Taiwan, selama dia masih menjabat sebagai presiden AS.
“Dia mungkin akan melakukannya setelah kita punya presiden yang berbeda.”
“Tetapi saya tidak merasa dia akan melakukannya saat saya menjadi presiden,” kata Trump kepada The New York Times, Jumat (9/1/2026).
Ketika diingatkan Cina memandang Taiwan sebagai ancaman separatis, Trump menjawab, “Itu terserah dia (Xi), apa yang akan dia lakukan.”
“Namun, saya telah menyampaikan kepadanya, saya akan sangat tidak senang jika dia melakukan itu, dan saya tidak berpikir dia akan melakukannya,” imbuh Trump
Cina menganggap Taiwan sebagai provinsi yang memisahkan diri, sementara Taipei mempertahankan kemerdekaannya sejak 1949.
BACA JUGA: Donald Trump Lagi Agresif, Amerika Kebut Produksi Senjata
Ketika ditanya apakah operasi militer AS dan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada Sabtu telah menetapkan sebuah preseden, Trump berpendapat ancaman dari Venezuela secara mendasar berbeda dari pandangan Xi terhadap Taiwan.
Trump menggambarkan Venezuela sebagai ancaman nyata, dengan mengeklaim Maduro membiarkan anggota geng masuk ke AS.
“Anda tidak melihat orang-orang berbondong-bondong masuk ke Cina,” ucapnya.
Berbeda dari kondisi di AS, Trump menilai Beijing juga tidak menghadapi aliran narkoba yang melintasi perbatasannya.
Penyatuan Tidak Dapat Dibendung
Presiden Cina Xi Jinping mengatakan penyatuan Taiwan dengan Cina merupakan sesuatu yang tidak dapat dihentikan, sehari setelah Beijing menuntaskan latihan militer selama dua hari di sekitar pulau tersebut.
“Warga China di kedua sisi Selat Taiwan terikat oleh hubungan darah dan kekerabatan.”
“Penyatuan tanah air kita, sebagai arus zaman, tidak dapat dibendung,” ujar Xi dalam pidato Tahun Barunya, Rabu (31/12/2025).
Beijing meluncurkan latihan militer gabungan Justice Mission 2025 selama dua hari pada Senin lalu, beberapa hari setelah AS menyetujui penjualan senjata dengan nominal terbesar yang mencapai lebih dari 11 miliar dolar AS (sekitar Rp183,6 triliun) kepada Taipei.
“Dunia saat ini tengah mengalami perubahan dan gejolak, dan beberapa kawasan masih dilanda perang,” ucap Xi.
Ia menegaskan, Cina selalu berdiri di sisi yang benar dalam sejarah, dan siap bekerja sama dengan semua negara untuk mendorong perdamaian serta pembangunan dunia, sekaligus membangun komunitas dengan masa depan bersama bagi umat manusia.
BACA JUGA: Donald Trump: Amerika Serikat PBB yang Sesungguhnya
Xi juga menyoroti capaian ekonomi dan teknologi Cina.
Ia menuturkan, 2025 menandai rampungnya Rencana Lima Tahun ke-14 untuk pembangunan ekonomi dan sosial, dengan target-target utama berhasil dicapai dan kemajuan nyata diraih dalam perjalanan modernisasi Cina.
Xi menyatakan produk domestik bruto (PDB) Cina diperkirakan akan mencapai 140 triliun yuan (sekitar Rp334 kuadriliun) pada 2025.
“Kekuatan ekonomi, kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi, kapasitas pertahanan, serta kekuatan nasional komprehensif kami semuanya mencapai tingkat yang baru,” paparnya.
Ia juga menyinggung perkembangan teknologi, termasuk kemajuan berbagai model kecerdasan buatan berskala besar, serta terobosan dalam riset dan pengembangan cip buatan dalam negeri.
Xi juga menyebut kapal induk Fujian, kapal induk pertama Cina yang dilengkapi sistem peluncur elektromagnetik dan mulai beroperasi tahun ini, serta pengembangan robot humanoid dan drone.
“Semua ini telah menjadikan Cina sebagai salah satu ekonomi dengan pertumbuhan kemampuan inovasi tercepat,” cetusnya.
Memasuki 2026, yang menjadi awal Rencana Lima Tahun ke-15, Xi mengatakan Cina perlu tetap fokus pada tujuan dan tugas, memperkuat kepercayaan diri, serta membangun momentum untuk terus melangkah maju.
“Kita harus mengambil langkah nyata untuk mendorong pembangunan berkualitas tinggi, memperdalam reformasi dan keterbukaan secara menyeluruh, mewujudkan kemakmuran bersama, dan menulis babak baru dalam kisah keajaiban Cina,” tambahnya. (*)