NarayaPost – Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky membahas rencana perdamaian yang diusulkan oleh Amerika Serikat (AS), lewat panggilan telepon gabungan dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron, Perdana Menteri (PM) Inggris Keir Starmer, dan Kanselir Jerman Friedrich Merz.
Zelensky menulis di X, para partisipan dalam pembicaraan tersebut mengoordinasikan langkah mereka selanjutnya, dan sepakat tim-tim mereka akan bekerja bersama.
“Kami berkoordinasi dengan erat untuk memastikan sikap-sikap yang berprinsip telah diterapkan,” ujar Zelensky, Jumat (21/11/2025)
Sekretaris Dewan Keamanan dan Pertahanan Nasional Ukraina Rustem Umerov pada Jumat mengatakan, delegasi Ukraina dan AS mengadakan sebuah pertemuan untuk mendiskusikan cara-cara mencapai perdamaian dalam konflik Rusia-Ukraina.
“Kami mendiskusikan pendekatan-pendekatan untuk memulihkan perdamaian yang adil, urutan langkah selanjutnya, dan format yang realistis untuk dialog lebih lanjut,” kata Umerov di Facebook.
Katanya, Ukraina sedang mempelajari dengan saksama setiap proposal dari para mitra.
BACA JUGA: Eropa Siapkan Usulan Damai Tandingan untuk Rusia-Ukraina
Sementara, Presiden AS Donald Trump yakin Zelenskyy hampir menyetujui rencana pemerintahannya untuk mengakhiri perang Rusia.
“Kami pikir kami punya cara untuk mencapai perdamaian, dia harus menyetujuinya,”
“Saya pikir mereka sudah cukup dekat, tetapi saya tidak ingin memprediksi,” ucap Trump kepada wartawan di Ruang Oval, saat menjamu Wali Kota New York City terpilih Zohran Mamdani.
Zelenskyy sebelumnya mengatakan, Kiev mengintensifkan diskusi dengan Washington mengenai usulan AS untuk mengakhiri perang, menyusul panggilan telepon selama hampir satu jam dengan Wakil Presiden AS JD Vance dan Menteri Angkatan Darat AS Dan Driscoll.
Dalam sebuah pernyataan di Telegram, Zelenskyy mengatakan kedua pihak berhasil membahas banyak detail usulan pihak Amerika untuk mengakhiri perang.
Ia menambahkan, Ukraina sedang berupaya memastikan jalan ke depan bermartabat dan benar-benar efektif untuk mencapai perdamaian abadi.
Dia menyatakan rasa terima kasih atas perhatian dan kesediaan Washington untuk bekerja sama dengan kami dan mitra, seraya mencatat Ukraina, AS, dan negara-negara Eropa sepakat untuk melanjutkan koordinasi di tingkat penasihat keamanan nasional, agar jalan menuju perdamaian benar-benar dapat diwujudkan.
“Ukraina selalu menghormati dan terus menghormati keinginan Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri pertumpahan darah, dan kami memandang positif setiap usulan realistis,” tuturnya.
Pernyataan Zelenskyy muncul di tengah diskusi tentang kontur usulan yang dirancang AS dan desakan Kiev, setiap penyelesaian harus menjamin perdamaian yang berkelanjutan dan adil.
Trump sebelumnya mengatakan dia menganggap 27 November adalah batas waktu yang tepat untuk tanggapan Ukraina.
Siapkan Usulan Tandingan
Para pemimpin Eropa menyiapkan usulan tandingan untuk menyelesaikan perang Rusia versus Ukraina, karena tidak puas dengan usulan Amerika Serikat (AS).
Mengutip sumber-sumber terpercaya, Wall Street Journal (WSJ) melaporkan pada Jumat (21//11/2025), para pejabat Eropa berupaya membujuk Ukraina agar mendukung rencana mereka, yang dinilai menawarkan persyaratan yang lebih menguntungkan bagi Kiev.
Eropa berharap dapat merampungkan rencana tersebut dalam beberapa hari, namun Ukraina belum menyatakan komitmen untuk mengikutinya.
BACA JUGA: Donald Trump Setujui 28 Poin Perdamaian Rusia-Ukraina
Pada Rabu (19/11/2025), Axios melaporkan Washington mengadakan konsultasi rahasia dengan Moskow, untuk menyusun rencana perdamaian baru, guna mengakhiri konflik Rusia-Ukraina.
Surat kabar Financial Times melaporkan, rencana perdamaian AS yang terdiri dari 28 poin tersebut mencakup pengurangan bantuan militer AS, pengakuan resmi Gereja Ortodoks Ukraina yang kanonik, pemberian status bahasa negara Rusia di Ukraina, pengurangan angkatan bersenjata Ukraina, dan pelarangan pasukan asing serta senjata jarak jauh di wilayah Ukraina.
Menurut Axios, rencana tersebut mengasumsikan AS dan negara-negara lain mengakui Krimea dan Donbas sebagai wilayah sah Rusia.
Pada Jumat, Axios melaporkan AS juga mengajukan rancangan perjanjian lain kepada Kiev, yang menyatakan kemungkinan serangan terhadap Ukraina akan dianggap sebagai serangan yang mengancam perdamaian dan keamanan komunitas transatlantik.
Perjanjian tersebut dilaporkan akan berlaku selama 10 tahun pertama, dan membutuhkan tanda tangan dari Ukraina, AS, Uni Eropa, NATO, dan Rusia. (*)