NarayaPost – Ukraina dan Amerika Serikat (AS) membahas sejumlah gagasan baru terkait waktu dan format, untuk mengakhiri perang dengan Rusia.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan, gagasan baru itu dibahas dalam pertemuan selama satu jam dengan utusan AS Steve Witkoff serta menantu Presiden Donald Trump, Jared Kushner.
Dalam pidato pada Kamis (25/12/2025) malam, Zelenskyy menyebutkan beberapa dokumen terkait proses perdamaian sudah disiapkan dan mendekati tahap penyelesaian.
“Kami memiliki beberapa gagasan baru dalam hal format, pertemuan, dan tentu saja waktu untuk membawa perdamaian yang nyata semakin dekat,” kata Zelenskyy.
Negosiator utama Ukraina, Rustem Umerov, akan melanjutkan pembahasan rinci dengan tim AS.
“Kami benar-benar bekerja 24 jam sehari, tujuh hari seminggu untuk mendekatkan akhir dari perang brutal Rusia terhadap Ukraina.”
BACA JUGA: Ukraina Dapat Utang Rp1.763 Triliun dari Uni Eropa
“Dan memastikan semua dokumen serta langkah-langkah yang diambil bersifat realistis, efektif, dan dapat diandalkan,” ungkapnya.
Meskipun masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan terkait isu-isu sensitif, kata Zelenskyy, kedua pihak sama-sama memahami cara mengimplementasikan langkah-langkah yang telah dibahas.
“Kami membahas sejumlah detail substansial dari pekerjaan yang sedang berlangsung.”
“Ada gagasan-gagasan baik yang dapat mengarah pada hasil bersama dan perdamaian yang berkelanjutan.”
“Keamanan nyata, pemulihan nyata, dan perdamaian nyata adalah kebutuhan kita semua, Ukraina, AS, Eropa, dan setiap mitra yang membantu kami,” imbuhnya.
Zelenskyy juga mengadakan pembicaraan dengan Perdana Menteri Norwegia Jonas Gahr Store untuk mengoordinasikan dukungan Eropa.
Ia menyatakan akan memberi pengarahan kepada para pemimpin Eropa lainnya, agar para mitra bergerak dengan kecepatan yang sama menuju tujuan bersama.
Zelenskyy juga menyampaikan terima kasih atas kata-kata baik dan ucapan Natal yang disampaikan dalam pertemuan dengan delegasi AS.
Sebuah rencana 28 poin untuk mengakhiri perang Ukraina pertama kali diajukan oleh Trump.
Sejak saat itu, berbagai upaya dilakukan untuk menyempurnakan proposal tersebut agar dapat diterima oleh seluruh pemangku kepentingan.
Zelenskyy menambahkan, beberapa pekan ke depan diperkirakan akan berlangsung intensif, seiring tekanan diplomatik terhadap Rusia terus ditingkatkan untuk menunjukkan memperpanjang perang akan membawa konsekuensi serius.
Tuntut Gencatan Senjata
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy meminta gencatan senjata selama dua bulan, untuk melakukan referendum terkait kesepakatan damai untuk mengakhiri perang dengan Rusia.
Harian Dzerkalo Tyzhnia, Rabu (24/12/2025) melaporkan, Zelenskyy memaparkan rencana perdamaian Ukraina itu dalam sebuah konferensi pers.
Sementara, Rusia sudah berulang kali menegaskan mereka menginginkan perdamaian yang berkelanjutan, bukan sekadar gencatan senjata yang sporadis.
“Kami bisa mengadakan referendum.”
“Sebuah referendum memerlukan sekurangnya 60 hari, dan kami perlu gencatan senjata yang nyata selama 60 hari.”
“Kalau tidak, kami tidak akan melaksanakannya.”
BACA JUGA: Isu Wilayah Jadi Hambatan Utama Negosiasi Damai Rusia-Ukraina
“Artinya, referendum itu tidak akan sah,” ucap Zelenskyy.
Dengan pergerakan pasukan Rusia di garis depan peperangan, Zelenskyy beberapa kali menyerukan gencatan senjata.
Ia sebelumnya berkata, gencatan senjata merupakan syarat untuk melaksanakan pemilihan umum.
Sementara, AS sejak pertengahan November telah mengajukan sebuah rencana perdamaian baru untuk Ukraina.
Pada 2 Desember lalu, Presiden Rusia Vladimir Putin menerima duta khusus Presiden Trump, Steve Witkoff, beserta menantu Trump, Jared Kushner, di Kremlin.
Kunjungan wakil AS ke Rusia tersebut terkait pembahasan rencana perdamaian AS untuk Ukraina.
Kremlin menegaskan, Rusia tetap terbuka untuk perundingan dan berkomitmen terhadap kesepakatan yang tercapai dalam pertemuan di Anchorage, Alaska. (*)