Usai Nicolas Maduro, Trump Bidik Gustavo Petro

Presiden Kolombia Gustavo Petro bakal menemui Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di Gedung Putih, pada 3 Februari 2026. Foto: aljazeera.com
750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Setelah menciduk Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, Amerika Serikat (AS) membidik Presiden Kolombia Gustavo Petro sebagai target selanjutnya.

Kepada wartawan di atas pesawat Air Force One pada Minggu (4/1/2026), Presiden AS Donald Trump menyebut rezim Petro bakal segera jatuh.

Trump mengisyaratkan AS siap mempertimbangkan intervensi militer tambahan di Amerika Latin, setelah menculik Maduro.

Trump menyebut Kolombia dan Venezuela ‘negara sakit.’

“Pemerintah di Bogota dijalankan oleh orang sakit yang suka membuat kokain dan menjualnya ke Amerika Serikat.”

“Dan dia (Petr0) tidak akan melakukannya lama. Biar saya beri tahu.”

BACA JUGA: Profil Nicolas Maduro dan Cilia Flores yang Didakwa Narkoteroris

“Dia punya pabrik kokain,” ujar Trump.

Ketika ditanya apakah yang dimaksud adalah operasi AS di Kolombia, Trump menjawab, “Kedengarannya bagus bagi saya.”

Gustavo Petro langsug bereaksi keras atas ocehan Trump tersebut.

Petro lantas menyerukan semua negara di Amerika Latin bersatu menghadapi perlakuan sebagai pelayan dan budak.

“AS adalah negara pertama di dunia yang mengebom ibu kota Amerika Selatan sepanjang sejarah manusia.”

“Luka itu tetap terbuka untuk waktu yang lama, tetapi balas dendam bukanlah jawabannya.”

“Amerika Latin harus bersatu, dan menjadi kawasan yang memiliki kapasitas untuk memahami, berdagang, dan bergabung bersama seluruh dunia dan kawasan yang tidak hanya melihat ke utara tetapi ke segala arah,” tulis Petro di X.

Pada Sabtu (3/1/2026), Petro menyerukan pertemuan mendesak antara Organisasi Negara-Negara Amerika dan Perserikatan Bangsa-Bangsa, untuk membahas serangan AS terhadap Venezuela.

Dalam sebuah wawancara dengan Politico bulan lalu, Trump mengaku mempertimbangkan memperluas operasi militer di negara lain, termasuk Meksiko dan Kolombia.

Mantan Gerilyawan

Gustavo Petro adalah pemimpin sayap kiri pertama di Kolombia, setelah mengalahkan kaum konservatif pada 2022, dengan menjanjikan perubahan yang akan berfokus pada mengakhiri sejarah panjang kekerasan, pelanggaran hak asasi manusia, dan kemiskinan di negara tersebut.

Rakyat Kolombia sejak  lama menolak politisi sayap kiri, karena kekhawatiran mereka lunak terhadap kekerasan.

Petro adalah mantan anggota kelompok gerilya M-19, sebelum beralih ke jalur politik yang lebih tradisional.

Terpilihnya Petro ke jabatan tinggi dengan dukungan di dalam negeri, disambut kekhawatiran oleh kaum konservatif di AS.

Kolombia secara tradisional dianggap sebagai sekutu utama AS di Amerika Latin.

Perjanjian perdagangan bebas antara AS dan Kolombia senilai $33,8 miliar pada 2023, yang mencakup seperempat dari seluruh ekspor Bogota.

Meskipun Kolombia bergantung pada pengeluaran AS, Petro telah mengejar upaya diplomatik kontroversial yang sering kali bertentangan dengan agenda geopolitik Washington.

Petro memulihkan hubungan diplomatik dengan negara tetangganya, Venezuela, di mana pemimpinnya, Nicolas Maduro, dikritik karena hubungannya dengan musuh utama AS, termasuk Cina, Rusia, proksi Iran di Timur Tengah, dan Kuba.

Petro juga mengambil sikap keras menentang Israel dan memilih hari setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, di mana sekitar 1.200 orang tewas dan 250 diculik ke Gaza, untuk mengkritik Yerusalem karena melakukan tindakan neo Nazi terhadap Palestina.

80 Orang Tewas

Jumlah korban tewas akibat operasi militer AS di Venezuela pada Sabtu (3/1/2026, bertambah menjadi 80 orang.

Seorang pejabat senior Venezuela mengatakan, jumlah korban masih berpotensi bertambah.

Menteri Pertahanan Venezuela Vladimir Padrino menyatakan, sebagian besar tim pengamanan Presiden Venezuela Nicolas Maduro tewas dalam operasi militer AS itu.

Namun, ia tidak merinci jumlah pasti korban.

Padrino menuduh personel militer AS yang terlibat dalam operasi tersebut, secara kejam membunuh sebagian besar tim pengamanan Maduro, para prajurit, serta warga sipil yang tidak bersalah.

Padrino menyebut Maduro sebagai pemimpin sah dan autentik Venezuela.

BACA JUGA: Amerika Sempat Pertimbangkan Bunuh Nicolas Maduro

Padrino menuntut pembebasan Maduro dan Flores secepatnya.

“Kami menuntut dunia internasional untuk memberi perhatian penuh terhadap segala hal yang terjadi terhadap Venezuela, terhadap kedaulatan dan Konstitusi kami,” ucapnya.

Setelah AS menangkap Maduro, Mahkamah Agung Venezuela menginstruksikan Wakil Presiden Delcy Rodriguez segera menjabat sebagai presiden sementara.

Padrino menyatakan angkatan bersenjata Venezuela memberikan dukungan penuh kepada Rodriguez.

Ia juga menegaskan dukungan terhadap dekret status darurat eksternal yang berlaku di seluruh wilayah nasional, yang telah ditandatangani sebelumnya.

Menurut Padrino, angkatan bersenjata Venezuela akan terus menggunakan seluruh kemampuan yang dimiliki untuk menjaga keamanan, ketertiban dalam negeri, serta memelihara perdamaian. (*)

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like