NarayaPost – Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menegaskan tidak akan menyerahkan wilayah apa pun kepada Rusia.
Zelenskyy juga menolak keras tuntutan yang diajukan Moskow maupun tekanan dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Ukraina, kata Zelenskyy, tidak memiliki hak legal maupun moral untuk melepaskan wilayahnya, termasuk area Donbas, yang mencakup sekitar 20 persen wilayah negara tersebut, dan kini sebagian besar berada di bawah kendali Rusia.
“Kami tidak memiliki hak legal untuk melakukannya, berdasarkan hukum Ukraina, konstitusi kami, dan hukum internasional.”
“Dan kami juga tidak memiliki hak moral,” kata Zelenskyy dikutip dari CBS News, Rabu (10/12/2025), setelah bertemu pemimpin Inggris, Prancis, dan Jerman di London, di tengah kebuntuan pembahasan mengenai proposal perdamaian yang diusulkan AS.
Ukraina, lanjut Zelenskyy, menyiapkan rencana perdamaian yang telah direvisi.
Ia menyatakan komponen Ukraina dan Eropa dalam rencana tersebut sudah lebih matang, dan akan segera disampaikan kepada AS.
Zelenskyy menegaskan Ukraina bekerja aktif merancang langkah-langkah yang dapat mengakhiri perang.
Ukraina juga siap mempresentasikan rencana tersebut kepada AS secepat mungkin, dan berpotensi dikirim ke Washington dalam waktu dekat.
Tekanan AS
Trump terus menekan Ukraina untuk ‘ikut bermain’, sambil mengeklaim Rusia unggul dalam perang.
Namun, Zelenskyy menegaskan Ukraina tidak akan menyerahkan wilayahnya.
Ia juga menyatakan kesiapannya datang ke AS guna melanjutkan pembicaraan.
Konsesi wilayah menjadi bagian dalam rencana perdamaian 20 poin yang didukung AS.
Awalnya, rencana perdamaian tersebut terdiri dari 28 poin, namun dipangkas menjadi 20 poin, dengan poin-poin yang dinilai tidak pro-Ukraina dihapus, dan belum ada kompromi terkait isu wilayah.
Zelenskyy menegaskan, pertukaran wilayah dengan jaminan keamanan tidak dibahas.
BACA JUGA: Vladimir Putin: Ukraina Lebih Suka Berperang, Sekarang Terpojok
Ia menekankan, Ukraina memiliki kewajiban moral untuk mempertahankan tanahnya sesuai konstitusi dan hukum internasional.
Kyiv juga menolak upaya mengecualikan AS dari proses perdamaian.
Mereka menekankan pentingnya dukungan militer Washington dan tekanan berkelanjutan terhadap Rusia.
Zelenskyy menjelaskan, Prioritized Ukraine Requirements List (PURL) memberi kesempatan bagi Ukraina membeli senjata dari AS yang tidak tersedia di Eropa.
Ia menambahkan, Presiden AS Donald Trump memiliki visi berbeda mengenai akhir perang.
Harus Adil dan Berkelanjutan
Zelenskyy bertemu Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, Presiden Prancis Emmanuel Macron, dan Kanselir Jerman Friedrich Merz di London.
Pejabat Eropa menyatakan putaran baru sanksi EU dan AS mulai berdampak pada ekonomi Rusia, sehingga memberikan Ukraina manfaat tambahan dalam negosiasi.
Pertemuan tersebut menekankan setiap gencatan senjata harus adil dan berkelanjutan.
Zelenskyy menegaskan pentingnya koordinasi dengan Eropa dan AS, karena pembicaraan memasuki tahap sensitif.
Ukraina dan negara-negara Eropa akan bekerja sama menyusun perubahan rencana perdamaian untuk mengakhiri konflik dengan Rusia.
Menurutnya, amandemen rancangan tersebut akan rampung pada Selasa (9/12/2025) malam.
“Selanjutnya kami akan mengevaluasi kembali sebelum dikirimkan kepada Pemerintah Amerika Serikat (AS),” ucapnya.
Zelenskyy menekankan pentingnya ketentuan mengenai pendanaan untuk rekonstruksi serta jaminan keamanan untuk Ukraina.
“Hal itu bisa kami peroleh dari AS, jika diikat secara hukum dengan persetujuan Kongres,” imbuhnya.
Eropa Dikritik
Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan kritik tajam terhadap negara-negara Eropa.
Ia menuduh Eropa gagal mengendalikan migrasi dan tidak mengambil langkah tegas untuk mengakhiri perang Ukraina.
Trump bahkan menuding mereka membiarkan Kyiv bertarung hingga tumbang.
Trump juga mengisyaratkan kemungkinan AS mengurangi dukungan terhadap Ukraina.
Pernyataan tersebut dibantah oleh Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper.
Ia mengatakan, Eropa justru menunjukkan kekuatan melalui investasi di bidang pertahanan dan dukungan finansial bagi Kyiv.
BACA JUGA: Donald Trump Yakin Perang Rusia Vs Ukraina Segera Berakhir
Menuruit Cooper, Trump dan Zelenskyy tengah berupaya mencari jalan damai.
Di sisi lain, Presiden Rusia Vladimir Putin terus memperburuk konflik melalui serangan drone dan rudal.
Dalam beberapa hari terakhir, Trump semakin menekan Zelenskyy untuk menyetujui kesepakatan damai.
Ia menyebut kesepakatan tersebut mengharuskan Ukraina menyerahkan sebagian wilayahnya kepada Rusia.
Trump menyebut Eropa hanya bicara tanpa hasil.
Sementara, AS telah menggelar pembicaraan terpisah dengan Ukraina dan Rusia, meski belum ada kesepakatan yang tercapai.
Zelenskyy terus mendesak para pemimpin Eropa dan NATO agar memastikan AS tidak mendukung kesepakatan yang dianggap merugikan Ukraina. (*)