Waspada Informasi Gempa Bumi Palsu dari Akun InaEEWS Ilegal!

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengungkapkan, pihaknya kini sudah bisa memberikan peringatan dini gempa bumi dan tsunami, maksimum 3 menit.
750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat mewaspadai grup, kanal, dan akun di platform Telegram, yang mencatut identitas resmi Indonesia Earthquake Early Warning System (InaEEWS) BMKG secara ilegal.

Akun tersebut secara tidak sah menggunakan nama, logo, dan atribut visual BMKG, untuk menyebarkan informasi peringatan dini gempa bumi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Deputi Bidang Geofisika BMKG Nelly Florida Riama menegaskan, BMKG secara institusi tidak pernah mengeluarkan informasi peringatan dini gempa bumi dengan parameter yang beredar di kanal-kanal tersebut.

Sebab, saat ini sistem InaEEWS belum beroperasi secara resmi, dan masih dalam tahap pengembangan serta uji coba terbatas.

“Sistem InaEEWS BMKG masih dalam tahap pengembangan dan uji coba terbatas, serta belum diluncurkan secara resmi untuk publik luas di Indonesia,” kata Nelly di Jakarta, Jumat (27/2/2026).

BMKG menemukan akun Telegram tersebut sengaja meniru identitas serta atribut visual InaEEWS dan BMKG.

BACA JUGA: BMKG Kini Bisa Berikan Peringatan Dini Gempa Bumi dan Tsunami Maksimal 3 Menit

Melalui platform tersebut, pihak tertentu memalsukan informasi guna membangun kepercayaan publik secara ilegal.

Plt Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG Fachri Radjab menjelaskan, akun ilegal tersebut secara sengaja menyebarkan parameter peringatan dini gempa bumi palsu yang mengatasnamakan BMKG, sehingga berisiko memicu kepanikan massal di masyarakat.

Oknum tersebut juga menyalahgunakan data real-time InaEEWS, dengan mengambil dan mendistribusikan ulang informasi peringatan dini secara ilegal, tanpa izin dari BMKG.

“BMKG menegaskan seluruh informasi peringatan dini pada kanal Telegram tersebut merupakan disinformasi.”

“Lembaga secara resmi menyatakan akun yang mengatasnamakan InaEEWS BMKG adalah profil palsu dan bukan saluran informasi milik pemerintah,” tutur Fachri.

Hingga kini InaEEWS tidak pernah menjalin kerja sama dengan pihak mana pun dalam mendiseminasikan informasi peringatan dini gempa bumi.

Selain itu, lembaga secara resmi memastikan tidak pernah memungut biaya atau menyelenggarakan layanan peringatan dini berbayar, sehingga masyarakat harus mengabaikan setiap permintaan pungutan biaya dalam bentuk apa pun.

“Tindakan oknum yang mengelola akun ilegal ini tidak hanya merusak kredibilitas BMKG sebagai satu-satunya institusi resmi pemerintah yang berwenang, tetapi juga membahayakan keselamatan publik melalui informasi palsu,” tegasnya.

BMKG mengimbau masyarakat hanya merujuk pada kanal komunikasi resmi BMKG melalui aplikasi InfoBMKG, laman media sosial terverifikasi, atau situs resmi http://www.bmkg.go.id untuk mendapatkan informasi kegempaan yang akurat dan resmi.

Integrasikan 222 Sensor

EEWS dikembangkan untuk memberikan peringatan dini mengenai potensi guncangan gempa.

BMKG mengintegrasikan sebanyak 222 sensor di dalam prototype, dengan harapan sistem ini mampu memberikan respons yang cukup baik.

Dalam pengembangan EEWS, BMKG menekankan tiga aspek utama, yaitu distribusi sensor, kualitas data, dan pengembangan sumber daya manusia (SDM).

Berbagai pelatihan teknis telah dilakukan, untuk meningkatkan kemampuan pegawai BMKG dalam menganalisis data dan memelihara peralatan yang digunakan dalam sistem EEWS.

Partisipasi publik diharapkan dapat memberikan masukan yang berharga untuk penyempurnaan sistem EEWS di masa depan.

End to End System

BMKG mencatat, dalam satu tahun rata-rata terjadi gempa sebanyak 5.000 hingga 6.000 kali, dengan berbagai magnitudo dan kedalaman.

BMKG berpandangan, peringatan dini gempa meskipun dalam hitungan detik sebelum terjadi gempa, akan sangat berarti untuk menyelamatkan jiwa manusia dari kecelakaan yang fatal.

Konsep dasar EEWS menggunakan end to end system yang mampu memberikan peringatan dini gempa kuat kepada masyarakat.

EEWS mencakup tiga sistem.

Pertama, sistem monitoring yang mendeteksi gempa bumi di hulu.

Kedua, system automatic processing yang mengolah data secara cepat.

Ketiga, sistem diseminasi penyebarluasanan informasi/peringatan dini di hilir, ditujukan kepada masyarakat yang disertai saran untuk menyelamatkan diri.

Konsep ini bekerja dengan memanfaatkan selisih waktu tiba gelombang P (pressure) yang datang lebih awal, dan gelombang S (shear) yang datang beberapa detik kemudian.

Setiap terjadi gempa bumi, gelombang P akan tiba di sensor lebih awal, selanjutnya dalam beberapa detik kemudian tiba gelombang S yang sifatnya destruktif/merusak.

Saat terjadi gempa, sensor EEWS akan merekam datangnya gelombang P, sistem secara spontan menginformasikan estimasi tingkat guncangan yang mungkin terjadi dan waktu kedatangan gelombang S.

Sensor-sensor ini akan dipasang di berbagai tempat yang berdekatan dengan sumber gempa megathrust dan sumber gempa sesar aktif.

EEWS merupakan sistem deteksi dini gempa kuat dengan mekanisme memberikan peringatan dini berdasarkan prediksi waktu tiba gelombang S, yang berpotensi menimbulkan guncangan signifikan, dengan memanfaatkan gelombang P untuk memberikan Sinyal warning.

BACA JUGA: Suhu di Indonesia Diprediksi Naik Hingga 1,6°C pada 2050

Sensor EEWS ini akan dikirimkan melalui ke InaEEWS Center (BMKG), selanjutnya data diolah secara automatic, dan hasilnya akan disebarkan ke receiver yang ada di stakeholder atau melalui mobile apps.

Receiver ini juga dapat dipasang pada objek vital seperti kereta cepat, MRT, industri vital, pusat keramaian (mal), dan area pemukiman dan perkantoran.

Dengan diketahuinya potensi gelombang merusak lebih awal, maka masyarakat dapat menyiapkan diri dengan melakukan upaya penyelamatan diri, termasuk menghentikan sementara objek vital untuk mengurangi dampak bencana yang lebih besar.

Teknologi EEWS yang akan dijadikan uji coba pembangunan dan kerja sama ini mengacu kepada sistem EEWS di Cina.

Informasi yang diberikan oleh sistem peringatan dini gempa ini mencakup: (1) estimasi intensitas gempa, (2) waktu tiba gelombang S, (3) estimasi magnitudo gempa, dan (4) lokasi episenter gempa.

Menurut Chinese Northwest Seismology (2002) Vol. 22, ada korelasi antara waktu peringatan dini gempa EEWS dan rasio berkurangnya korban jiwa.

Jika tersedia waktu emas selama 3 detik, maka rasio berkurangnya korban mencapai 14%.

Sedangkan jika tersedia waktu emas selama 10 detik, maka rasio berkurangnya korban mencapai 39%.

Dan jika tersedia waktu emas selama 20 detik, maka rasio berkurangnya korban mencapai 63%. (*)

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like