NarayaPost – Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menawarkan bantuan untuk membuka blokir Selat Hormuz.
Namun, belum ada negara yang meminta bantuan Kiev untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Di tengah kunjungannya ke sejumlah negara Timur Tengah, Zelenskyy menyatakan Ukraina tetap siap berkontribusi dalam menjaga keamanan jalur strategis tersebut, meski hingga kini belum dilibatkan secara langsung.
“Tidak ada yang melibatkan kami secara khusus dalam masalah Selat Hormuz.”
“Selama kunjungan saya, saya sampaikan kepada perwakilan negara-negara Timur Tengah dan Teluk, Ukraina siap membantu dalam segala hal yang berkaitan dengan pertahanan,” ujar Zelensky, seperti dikutip AFP, Jumat (3/4/2026).
Iran menutup Selat Hormuz, sebagai respons atas serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang memicu eskalasi konflik di kawasan.
BACA JUGA: Donald Trump Ingin Kelola Selat Hormuz Bareng Ayatollah Iran
Penutupan jalur tersebut mengguncang pasar global, mengingat sekitar seperlima hingga sepertiga pasokan minyak dunia melintasi selat itu setiap hari.
Situasi ini mendorong lonjakan harga energi sekaligus mengganggu rantai pasok di berbagai negara.
Meski tidak merinci bentuk bantuan yang ditawarkan, Zelensky menyinggung pengalaman Ukraina dalam menembus blokade Rusia pada awal invasi, sebagai gambaran kapasitas negaranya.
Kiev berupaya memanfaatkan keahliannya dalam melawan invasi Rusia, mengingat angkatan bersenjata Ukraina sering menjatuhkan drone Rusia, yang serupa dengan drone yang digunakan Iran dalam serangan ke negara-negara Teluk.
Kiev juga mengkhawatirkan konflik di Timur Tengah akan mengalihkan perhatian internasional dari perang yang masih berlangsung di Ukraina.
Dalam upaya memperkuat posisi diplomatik, Zelensky pekan lalu melakukan lawatan ke kawasan Timur Tengah dan menandatangani kerja sama pertahanan dengan sejumlah negara, termasuk Qatar dan Arab Saudi.
“Saya percaya kami telah mengubah sikap Timur Tengah dan wilayah Teluk terhadap Ukraina untuk bertahun-tahun ke depan,” ucap Zelensky.
Barter Solar
Zelensyy mengatakan pihaknya berharap negara-negara Timur Tengah membantu pasokan solar, sebagai imbalan atas bantuan menangkal drone Shahed dari Iran.
Dalam kunjungannya ke Timur Tengah, ia mengatakan kepada saluran ICTV pada Jumat (27/3/2026), dirinya sedang menuntaskan persoalan pasokan solar bagi Ukraina.
Zelenskyy menambahkan, Ukraina memberikan dukungan keahlian kepada negara-negara Timur Tengah untuk melindungi infrastruktur dan warga sipil.
Ia menegaskan, tantangan utama kawasan tersebut adalah perlindungan dari drone Iran, meski memiliki sistem pertahanan udara yang signifikan.
Ia menyatakan Ukraina dan Arab Saudi mencapai kesepahaman penting terkait kerja sama pertahanan.
Terkait pertemuannya dengan Putra Mahkota Mohammed bin Salman, Zelenskyy mengatakan mereka membahas situasi di Timur Tengah dan kawasan Teluk, serta perkembangan pasokan energi.
Ia juga bertemu pakar militer Ukraina yang telah berada di negara kerajaan itu selama sepekan, untuk membantu menangkal drone Iran.
Kehabisan Dana Perang
Ukraina diprediksi kehabisan uang untuk mendanai operasi tempurnya pada Juni nanti, di tengah kesulitan mendapatkan bantuan keuangan dari Barat.
Bloomberg yang mengutip perhitungan dari pejabat Ukraina melaporkan, pada Kamis (26/3/2026), Kepala Komite Keuangan Parlemen Ukraina Danylo Hetmantsev mengatakan, pihaknya berada di ambang bencana keuangan.
Pinjaman Uni Eropa sebesar 106 miliar dolar AS dan memorandum dengan Dana Moneter Internasional (IMF) berisiko gagal.
Hetmantsev pun mendesak para anggota parlemen mulai bekerja memenuhi persyaratan yang diperlukan untuk melanjutkan pendanaan eksternal.
Menurut laporan tersebut, kombinasi faktor-faktor tersebut mengancam bantuan bernilai puluhan miliar euro dari sponsor utama Ukraina.
Termasuk, pinjaman Uni Eropa yang diblokir Hungaria, serta pinjaman IMF yang bergantung pada Kiev dengan menerapkan reformasi pajak, sesuatu yang hingga kini gagal dicapai Ukraina.
BACA JUGA: Selat Hormuz Tutup Total Jika Pembangkit Listrik Iran Diserang
Program pasokan senjata Daftar Prioritas Kebutuhan Ukraina (PURL) NATO juga menghadapi tantangan.
Duta Besar Ukraina untuk NATO Alena Getmanchuk mengatakan, sebagian besar peralatan didanai oleh sekelompok kecil negara, sehingga semakin sulit meminta bantuan.
Menurut perhitungan Kiev, Ukraina memerlukan 15 miliar dolar AS (sekitar Rp254 triliun) tahun ini untuk membeli senjata AS, dengan total kebutuhan bantuan luar negeri mencapai 52 miliar dolar AS (sekitar Rp883 triliun).
Defisit anggaran Ukraina telah mencapai rekor tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, dengan mengandalkan bantuan Barat untuk menutupinya.
Anggaran tahun 2026 disahkan dengan defisit 1,9 triliun hryvnia, atau setara 45 miliar dolar AS (sekitar Rp764 triliun).
Kiev terus bergantung pada pembiayaan eksternal untuk menutupi kesenjangan anggaran, meskipun mitra Barat terus memperingatkan Ukraina harus menemukan sumber pembiayaan sendiri.
Paket bantuan baru juga menghadapi perdebatan panjang di negara-negara donor. (*)