NarayaPost – Terik matahari sungguh menyengat siang itu, Selasa, (29/7/2025), deretan kendaraan mengular di sepanjang Jalan Karimata, Jember. Sepeda motor, mobil pribadi, bahkan truk-truk pengangkut hasil pertanian terlihat berhenti, tidak bergerak. Warga Jember sedang mengantre membeli bahan bakar minyak.
Beberapa pengemudi tampak lesu. Ada juga yang duduk lesehan di trotoar, memegang botol air mineral, sesekali melirik ke arah pom bensin di depan yang tampak sibuk namun tidak kunjung menyelesaikan antrean. Sudah lebih dari lima jam mereka menunggu.
Situasi ini menjadi sorotan banyak pihak dalam beberapa hari terakhir. Krisis pasokan BBM membuat warga Jember harus berjuang lebih keras demi setetes bahan bakar. Bukan hanya untuk mobilitas harian, namun juga untuk kelangsungan hidup. Sebab sebagian besar warga Jember menggantungkan roda ekonomi mereka pada kendaraan entah untuk berdagang, bertani, atau bekerja di luar kota.
BACA JUGA: Konsumsi Stevia Ternyata Bisa untuk Melawan Penyakit Kanker
Misbah (40), seorang sopir angkot mengaku telah antre sejak pukul 3 sore. “Ini sudah jam 7 malam, belum juga dapat giliran,” keluhnya kepada NarayaPost. Ia menolak pulang karena takut kehabisan kuota harian jika terlambat. “Kalau saya keluar dari antrean, bisa-bisa dua hari baru dapat BBM lagi,” tambahnya.
Tidak jauh dari mobil Misbah, Rina (29), seorang ibu rumah tangga, sedang mengantre di sepeda motor bersama anak balitanya dalam gendongan. Ia mengaku harus rela antre agar bisa mengantar anaknya ke puskesmas keesokan harinya.
“Tidak mungkin jalan kaki, rumah saya jauh dari fasilitas kesehatan. Mau tidak mau, harus antre hari ini meskipun capek,” katanya pelan.
Ironisnya, tidak ada informasi resmi yang menyeluruh dari pemerintah daerah maupun Pertamina terkait jadwal distribusi maupun penyebab pasti kelangkaan. Di tengah kabar simpang siur, warga hanya bisa mengandalkan kabar dari media sosial dan sesama pengantre.
“Kadang ada grup WhatsApp yang kasih info SPBU mana yang buka, tapi seringnya tidak akurat,” ujar Misbah (40).
Kelangkaan BBM ini tidak hanya berdampak pada sektor transportasi, namun juga mulai dirasakan di sektor lain. Pasar-pasar tradisional sepi karena distribusi barang terhambat. Petani kesulitan mengangkut hasil panen. Usaha kecil seperti warung kelontong dan kedai kopi ikut lesu karena pengunjung berkurang.
Sementara, dalam video reels Instagram Radar Jember, tampak Bupati Jember, Muhammad Fawait menjelaskan bahwa kelangkaan BBM yang terjadi bukan disebabkan oleh habisnya stok, melainkan karena terganggunya proses distribusi dari Banyuwangi akibat penutupan total di Jalur Gumitir.
Kondisi ini memaksa kendaraan mengambil jalur alternatif yang mengalami kemacetan parah, sehingga mengakibatkan keterlambatan pengiriman BBM ke wilayah tujuan.
“Masalahnya bukan pada ketersediaan, tapi distribusinya tersendat karena pengalihan rute. Biasanya hanya butuh 4 jam, kini bisa sampai 11 jam,” jelas Fawait dalam konferensi pers dilihat NarayaPost pada Senin, (28/7/2025).
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus, Ahad Rahedi, mengonfirmasi bahwa distribusi BBM ke Jember dan sekitarnya memang mengalami kendala serius akibat penutupan Jalur Gumitir.
Untuk sementara, pengiriman BBM harus memutar melalui jalur alternatif Situbondo–Bondowoso. Dampaknya, waktu tempuh yang biasanya hanya memakan waktu sekitar 4 jam kini membengkak hingga hampir 11 jam.
“Distribusi ke wilayah Jember mengalami keterlambatan cukup signifikan karena rute pengganti membuat perjalanan jauh lebih panjang,” jelas Ahad.
Hingga hari ini, belum ada kepastian kapan distribusi BBM di Jember akan kembali normal. Warga terus menunggu di tengah kelelahan dan ketidakpastian. Beberapa memilih membeli BBM eceran dengan harga tinggi, sementara sebagian lain masih bertahan dalam antrean panjang yang menguras waktu, tenaga, dan emosi.
“Yang kami butuhkan sekarang bukan janji, tapi solusi. Kami ingin hidup normal kembali, bisa bekerja tanpa harus antre sampai berjam-jam,” ujar Misbah.
Dan di tengah antrean yang tak kunjung bergerak, satu hal tampak jelas: kesabaran warga Jember sedang diuji oleh sesuatu yang seharusnya menjadi hak dasar akses terhadap energi.
Di balik wajah-wajah letih dan tubuh yang rebah di pinggir jalan, terselip tekad untuk bertahan demi roda kehidupan yang terus berputar. Mereka tidak menuntut lebih, hanya ingin keadilan atas akses energi yang layak.
Krisis ini menjadi pengingat bahwa distribusi BBM bukan sekadar urusan logistik, melainkan soal keberlangsungan hidup banyak orang. Ketika distribusi terganggu, dampaknya menjalar hingga ke meja makan, sekolah, dan ladang.
Mata publik tertuju pada langkah nyata pemerintah dan Pertamina. Bukan sekadar penjelasan, melainkan kepastian. Sebab di Jember, antrean BBM bukan lagi cerita biasa, antrean itu adalah potret ketahanan warga yang layak mendapat perhatian serius.