NarayaPost – Kasus balita Sukabumi Cacingan, kembali membuka mata publik terkait ancaman penyakit cacingan yang kerap diremehkan. Seorang anak bernama Raya, yang masih berusia balita, harus meregang nyawa setelah mengalami infeksi cacing parah di tubuhnya. Kasus ini tidak hanya menjadi perhatian tenaga medis setempat, tetapi juga menarik sorotan dari mantan pejabat tinggi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
BACA JUGA : Kisah Tuanku Imam Bonjol, Ulama Pejuang dari Minang
Raya awalnya dibawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Syamsudin, Sukabumi, dalam kondisi lemas, dehidrasi, dan tidak sadarkan diri. Menurut penuturan dr Irfan, dokter yang menangani pasien, kondisi balita itu sangat memprihatinkan. Bahkan sempat ditemukan cacing keluar dari hidungnya, sebuah gejala infeksi berat yang jarang terjadi di Indonesia saat ini.
Hasil pemeriksaan medis menunjukkan adanya cacing gelang atau Ascaris lumbricoides dalam tubuh Raya. Larva cacing tersebut dapat menyebar ke berbagai organ melalui aliran darah, menyebabkan tubuh menjadi tidak stabil hingga akhirnya pasien meninggal dunia.
Endah (30), ibu dari Raya, mengaku tidak pernah menyadari sebelumnya bahwa sang anak terinfeksi cacing. Ia juga menuturkan bahwa anaknya sempat memiliki riwayat penyakit tuberkulosis (TBC), yang kemungkinan besar memperparah kondisi kesehatannya.
Prof Tjandra Yoga Aditama, mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, menegaskan bahwa kasus ini seharusnya menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah dan nasional. Menurutnya, diperlukan pemantauan menyeluruh terhadap lingkungan tempat tinggal Raya.
“Infeksi cacing dapat menular melalui tanah yang terkontaminasi tinja, terutama di wilayah dengan sanitasi buruk. Anak-anak paling rentan karena sering bermain di tanah tanpa mencuci tangan sebelum makan,” jelas Prof Tjandra dalam keterangan tertulisnya.
Ia mengingatkan bahwa penyakit cacingan bukan hanya soal kesehatan individu, tetapi juga terkait kualitas sumber daya manusia di masa depan. Anak yang terinfeksi cacing biasanya mengalami gangguan gizi, anemia, bahkan keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan.
WHO mencatat ada beberapa jenis cacing yang sering menyerang manusia, terutama anak-anak di negara berkembang. Di antaranya:
Telur-telur cacing ini dapat bertahan di tanah dalam waktu lama. Ketika anak-anak bermain tanpa alas kaki atau tidak mencuci tangan sebelum makan, telur cacing mudah masuk ke dalam tubuh.
Prof Tjandra menegaskan, anak yang terinfeksi cacingan bisa mengalami berbagai gangguan, seperti:
Dalam kasus yang lebih parah seperti Raya, infeksi cacing dapat menyebar ke organ vital dan menyebabkan kematian.
Untuk menanggulangi masalah kecacingan, WHO sudah mencanangkan target pengendalian global pada tahun 2030. Beberapa pendekatan yang direkomendasikan antara lain:
Indonesia sendiri masih menghadapi tantangan besar. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa prevalensi kecacingan pada anak sekolah di beberapa daerah masih tinggi. Faktor utama penyebabnya adalah sanitasi buruk, akses air bersih terbatas, dan minimnya kesadaran masyarakat.
Prof Tjandra menegaskan bahwa Indonesia perlu menargetkan eliminasi kecacingan secepat mungkin, apalagi jika ingin mewujudkan Indonesia Emas 2045. “Tidak elok bila di tahun kemerdekaan ke-100 kita masih menghadapi kasus kematian akibat cacingan,” tegasnya.
BACA JUGA : Merdeka dari Pemimpin Arogan Demi Demokrasi Indonesia
Selain intervensi pemerintah, keluarga juga memiliki peran penting dalam pencegahan kecacingan:
Kasus balita Sukabumi ini menjadi peringatan nyata bahwa penyakit cacingan masih menjadi ancaman serius di Indonesia. Padahal, dengan langkah sederhana seperti menjaga kebersihan dan pemberian obat cacing secara berkala, banyak kasus bisa dicegah sejak awal.
Masyarakat, tenaga medis, dan pemerintah perlu bergandengan tangan agar tragedi serupa tidak terulang lagi.