Badai Angin Landa Gunung Everest, Ratusan Pendaki Dievakuasi

Ratusan pendaki dievakuasi akibat badai angin
750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Badai angin landa Gunung Everest, ratusan pendaki dari berbagai negara dievakuasi dan satu orang tewas. Kejadian ini terjadi di kawasan pegunungan Himalaya pada Senin, (6/10). Badai tersebut menimbulkan akumulasi salju hingga lebih dari satu meter, mengubur tenda dan menutup jalur pendakian di sepanjang wilayah timur Pegunungan Himalaya, khususnya di sisi Tibet. Menurut laporan dari media pemerintah China dan sejumlah sumber independen, setidaknya 350 pendaki telah berhasil dievakuasi ke kota kecil Qudang, tempat di mana mereka menerima pertolongan medis, makanan, dan perlindungan dari suhu ekstrem. Evakuasi dilakukan oleh tim gabungan yang terdiri dari petugas penyelamat lokal, personel pemadam kebakaran Tibet, dan relawan dari desa sekitar, menggunakan peralatan sederhana seperti sekop, tali, serta bantuan kuda dan sapi untuk membawa logistik serta membuka jalur salju yang tertutup.

Meski ratusan pendaki telah diselamatkan, pemerintah setempat menyebut bahwa lebih dari 200 orang masih tertahan di jalur pendakian dan wilayah Lembah Karma akibat sulitnya akses serta kondisi cuaca yang belum sepenuhnya membaik. Komunikasi telah berhasil dijalin dengan sebagian besar dari mereka, dan evakuasi lanjutan sedang diupayakan dengan hati-hati karena visibilitas buruk serta risiko longsoran salju. Otoritas pariwisata Tibet telah menangguhkan sementara seluruh aktivitas pendakian di wilayah tersebut dan mengeluarkan peringatan agar operator ekspedisi menunda rencana perjalanan hingga kondisi dinyatakan aman. Insiden ini kembali menegaskan pentingnya kesiapsiagaan dalam ekspedisi ke kawasan ekstrem seperti Himalaya, terutama di tengah pola cuaca yang semakin tidak menentu akibat perubahan iklim.

BACA JUGA: Kekayaan RI Ingin Dikuasai Warga Asing, Ini Kata Prabowo

Korban Jiwa Akibat Badai Angin Landa Gunung Everest

Satu korban jiwa telah dikonfirmasi dalam insiden badai salju yang melanda kawasan sekitar Gunung Everest. Menurut laporan dari otoritas provinsi Qinghai, seorang pendaki pria berusia 41 tahun dilaporkan meninggal dunia akibat hipotermia dan penyakit ketinggian akut (acute mountain sickness). Meskipun korban tidak berada tepat di jalur utama Everest, ia terdampak sistem cuaca ekstrem yang sama yang menyebabkan badai salju meluas di kawasan Himalaya bagian timur. Korban sempat menerima perawatan darurat, namun kondisi medisnya memburuk dengan cepat sebelum berhasil dievakuasi. Media lokal China menyatakan bahwa cuaca ekstrem memperburuk akses pertolongan, dengan suhu turun drastis hingga di bawah -20 derajat Celsius dan angin kencang yang mempercepat hilangnya panas tubuh pada ketinggian.

Pemerintah daerah menyebutkan bahwa salju mulai turun dengan intensitas sedang sejak Jumat malam, 4 Oktober, dan mencapai puncaknya pada Sabtu malam, menutup hampir seluruh jalur pendakian serta membuat tenda-tenda di pos peristirahatan runtuh tertimbun salju tebal. Ketebalan salju diperkirakan mencapai lebih dari satu meter di beberapa titik, menyulitkan tim penyelamat untuk mencapai lokasi dalam waktu cepat. Laporan juga menyebut adanya risiko longsoran salju dan angin dingin ekstrem (wind chill) yang memperburuk situasi. Pemerintah regional Tibet dan Qinghai telah meningkatkan status waspada di seluruh jalur pendakian dan mengerahkan tim gabungan untuk membantu proses pencarian, evakuasi, serta pendistribusian logistik bagi pendaki yang masih tertahan.

Proses Evakuasi di Tengah Cuaca Ekstrem

Badai angin landa Gunung Everest, ratusan pendaki dari berbagai negara dievakuasi oleh tim penyelamat gabungan yang terdiri dari pemerintah regional Tibet, tim pemadam kebakaran, serta penduduk desa sekitar. Dalam kondisi medan yang sangat sulit dan minim visibilitas, tim evakuasi menggunakan berbagai cara darurat, termasuk kuda, sapi, dan peralatan manual seperti sekop serta tali untuk membuka jalur yang tertutup salju setebal lebih dari satu meter. Tidak hanya menyelamatkan para pendaki, mereka juga harus membawa peralatan medis dan logistik ke titik-titik yang masih bisa dijangkau. Cuaca dingin ekstrem dan medan terjal membuat proses evakuasi berlangsung lambat dan penuh risiko, terutama pada malam hari saat suhu turun drastis dan badai kecil masih terjadi secara sporadis.

BACA JUGA: Tata Kelola Pelaksanaan MBG akan Dinaungi Aturan Resmi

Menurut laporan dari media resmi China dan penyelidik lapangan, para pendaki yang berhasil dievakuasi dibawa secara bertahap ke kota kecil Qudang, yang dijadikan sebagai pusat penyelamatan darurat. Di sana, mereka langsung mendapatkan makanan hangat, pakaian kering, serta pemeriksaan kesehatan awal untuk mengatasi gejala hipotermia atau kelelahan akibat ketinggian. Banyak di antara mereka mengalami dehidrasi dan stres, meskipun sebagian besar dalam kondisi stabil. Beberapa pendaki dilaporkan membutuhkan perawatan medis lanjutan dan dirujuk ke fasilitas kesehatan di Shigatse. Pemerintah regional juga telah mengerahkan pasokan tambahan ke Qudang untuk mendukung proses pemulihan dan logistik bagi evakuasi lanjutan terhadap pendaki yang masih tertahan di jalur-jalur ekstrem.

Pihak otoritas pariwisata Tibet secara resmi mengumumkan penangguhan sementara seluruh aktivitas pendakian ke wilayah timur Gunung Everest, termasuk penutupan penuh akses ke Lembah Karma, jalur utama yang biasa digunakan pendaki menuju sisi timur gunung. Kebijakan ini diambil menyusul badai salju ekstrem yang melanda dan menyebabkan ratusan pendaki terjebak dan satu korban jiwa. Dalam pernyataannya, otoritas menyebut bahwa cuaca buruk kali ini terjadi di luar musim normal, dengan intensitas yang lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya. Selain faktor cuaca, risiko medis seperti hipotermia, penyakit ketinggian, serta tantangan logistik untuk mengakses lokasi terdampak menjadi alasan utama diberlakukannya larangan sementara tersebut. Langkah ini diambil demi menjamin keselamatan pendaki maupun tim penyelamat, sambil menunggu kondisi membaik dan jalur pendakian dapat dinyatakan aman kembali.

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like