NarayaPost – Makanan yang Sebaiknya Tidak Dibeli di Supermarket. Belanja di supermarket umumnya dianggap lebih praktis dan higienis dibanding ke pasar tradisional. Rak-rak penuh produk tertata rapi, fasilitas pendingin, serta kemasan menarik sering membuat kita tergoda membeli segala sesuatu tanpa berpikir panjang. Namun menurut pakar pangan, tidak semua makanan di supermarket aman atau ideal untuk dibeli. Ada enam jenis makanan yang sebaiknya Anda hindari ketika berbelanja meskipun harganya diskon atau tampilannya menggoda.
Pakar keamanan pangan Lauren Twigge mengingatkan bahwa kondisi kemasan sering kali menjadi petunjuk pertama kualitas produk.
“Jangan membeli makanan dengan kemasan yang rusak. Kalau kantong keripik berlubang, segel susu bocor, atau kalengnya penyok parah, lebih baik pilih produk lain,” ujarnya.
Kemasannya yang rusak bisa berarti produk sudah terkontaminasi udara, bakteri, bahkan rusak sebelum sempat sampai ke rak.
Selain kemasan rusak, makanan dengan warna atau aroma mencurigakan juga patut dihindari. Jika roti tampak mulai berjamur, daging berubah ke abu-abu, buah terlihat layu atau amis, itu tanda bahwa proses penyimpanan atau pengemasan sudah gagal menjaga kualitas Produk-produk tersebut tidak layak dibeli karena risiko kesehatan meningkat.
Yang sering dilewatkan oleh banyak orang adalah buah atau sayur yang sudah dipotong (pre-cut). Di rak sayur supermarket, Anda mungkin melihat semangka, nanas, melon, atau apel yang sudah dipotong dan siap saji. Meski praktis, potongan tersebut menjadi tempat berkembang biak ideal bagi bakteri, terutama jika proses pemotongan, pembersihan, dan pengemasan tidak dilakukan dengan standar higienis tinggi.
Banyak supermarket memang menyediakan buah potong untuk kenyamanan pelanggan. Namun proses irisan yang dilakukan dalam kondisi tidak steril atau kontak silang bisa membuat buah lebih cepat rusak, kata beberapa ahli keamanan pangan.
Produk beku juga bukan jaminan aman. Ironisnya, sektor frozen food di supermarket sering menjadi area yang rawan. Freezer yang terlalu penuh akan mengganggu sirkulasi dingin, bahkan pintu freezer bisa tak menutup rapat jika rak terisi padat. Situasi ini menyebabkan suhu internal naik dan kualitas makanan beku menurun, memperbesar risiko pembusukan mikroskopis tanpa terlihat secara kasat mata.
Kaleng makanan tampak kokoh dan awet, tapi jangan lengah. Produk kalengan yang penyok besar atau kerusakan di bagian jahitan bisa melemahkan segel kedap udara dan menjadi celah bagi bakteri. Meskipun kaleng kecil dengan penyok ringan terkadang masih bisa dimakan, pakar menyarankan agar kita menghindari kaleng penyok tajam atau berdaging di sisi segel.
Makanan matang siap sajimseperti nasi bakar, lauk pauk panas, sup, atau salad yang dijual di bagian “hot bar” supermarket juga memiliki risiko tinggi. Produk ini harus dijaga di suhu tertentu agar tetap aman. Jika makanan tidak diganti atau dipanaskan ulang secara tepat, bakteri dapat tumbuh cepat di balik selimut “penampilan enak”. “Makanan yang tidak disimpan pada suhu yang tepat sering menjadi sumber utama penyakit bawaan makanan,” jelas Twigge.
Seorang pembeli supermarket yang sering memperhatikan kualitas produk, Rina Hartanti, menceritakan pengalamannya. Awalnya ia tergoda membeli buah potong agar hemat waktu, tapi kemudian merasa khawatir ketika melihat sebagian buah di dalam wadah mulai mengeluarkan cairan.
“Saya pikir lebih aman beli buah utuh dan iris sendiri di rumah daripada risiko bakteri tersembunyi,” ujarnya.
Namun bukan berarti semua produk supermarket buruk. Banyak produk kemasan segar, beku, dan matang yang dikelola dengan standar ketat dan aman dikonsumsi. Kuncinya adalah menjadi pembeli cerdas: periksa tanggal kedaluwarsa, jangan tergoda diskon jika kualitas meragukan, dan pilih produk lokal segar yang baru tiba.
Berikut tip praktis agar belanja supermarket tetap sehat:
Mulai dari bagian non-pendingin, belanja produk kering, bumbu, lalu makanan beku dan produk matang di akhir agar tidak lama berada di keranjang.
Periksa kondisi kemasan secara cermat segel, sobekan, penyok.
Untuk buah dan sayur potong, pilih yang kemasannya masih rapat dan usahakan segera dikonsumsi.
Pastikan freezer dan kulkas di supermarket tampak bersih, tidak beku menumpuk, dan pintu selalu tertutup rapat.
Hindari makanan matang yang tampak sudah lama atau kurang panas saat disajikan.
Bila memungkinkan, belilah produk segar lokal di pasar tradisional, lalu susun dengan hati-hati di rumah agar selalu higienis.
Tren kenyamanan memang mendorong supermarket menyediakan berbagai produk siap saji, potongan buah, hingga makanan beku gourmet. Tetapi kenyamanan harus dibarengi kehati-hatian. Tidak semua yang tampak menggoda menjamin kualitas yang baik.
BACA JUGA : Lima Perempuan Ini Buktikan Cantik Bukan Cuma Dinilai dari Bentuk Tubuh
Intinya, menjadi konsumen yang sibuk bukan alasan untuk abai terhadap keamanan makanan. Dengan sedikit perhatian terhadap kondisi kemasan, aroma, warna, dan penyimpanan, Anda bisa menghindari enam jenis makanan yang rentan menimbulkan masalah. Ingatlah bahwa belanja bukan sekadar mengambil barang dari rak, melainkan memilih hidup sehat melalui setiap pilihan produk.
Semoga panduan ini membantu Anda menjadi pembeli supermarket yang lebih cerdas, sehat, dan aman.