Air Hujan Mikroplastik Berbahaya, BRIN Imbau Jangan Konsumsi

750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap adanya partikel mikroplastik berbahaya yang ditemukan dalam air hujan di Jakarta. BRIN pun mengingatkan masyarakat agar tidak mengonsumsi air hujan secara langsung tanpa melalui proses penyaringan yang memadai.

“Apakah masih layak (air hujan dikonsumsi)? Kalau dari sisi mikroplastik, pengolahan air hujan sebelum konsumsi harus ditingkatkan dengan filtrasi berlapis dan koagulasi agar partikel mikro dapat tersaring,” ujar peneliti BRIN, Muhammad Reza Cordova, kepada wartawan, Selasa (21/10/2025).

BRIN Sarankan Tak Minum Air Hujan

Menurut Reza, secara umum tidak disarankan untuk diminum langsung karena mengandung berbagai jenis polutan selain mikroplastik.

BACA JUGA: Menaker: Kenaikan Upah Minimum 2026 Diumumkan November

“Untuk air hujan lebih baik dihindari konsumsi langsung. Karena pada dasarnya kan air hujan ini ‘membersihkan’ kotoran yang melayang di udara, tidak cuma mikroplastik, tapi ada berbagai polutan lain dan mikroba patogen,” jelasnya.

Ia menambahkan, setidaknya air hujan perlu melalui proses penyaringan dan perebusan hingga mendidih sebelum dikonsumsi. “Paling minimal, lebih baik difilter dulu dan dimasak sampai mendidih, baru dikonsumsi,” lanjutnya.

Dampak Kesehatan-Peradangan

Lebih lanjut, Reza menegaskan bahwa mengonsumsi air hujan yang mengandung mikroplastik tanpa penyaringan bisa menimbulkan risiko kesehatan, termasuk peradangan. “Dampaknya kalau konsumsi air hujan yang bercampur dengan polutan langsung bisa iritasi sama peradangan. Jadi kalau mau konsumsi lebih baik di filter dan dimasak dulu ya,” tuturnya.

Sebelumnya, BRIN juga melaporkan bahwa partikel mikroplastik berbahaya di Jakarta berasal dari aktivitas manusia di kawasan perkotaan. Temuan ini menunjukkan bahwa polusi plastik tidak hanya mencemari daratan dan laut, tetapi juga atmosfer.

Peneliti BRIN, Muhammad Reza Cordova, menjelaskan bahwa penelitian yang dimulai sejak 2022 menemukan mikroplastik di setiap sampel di Jakarta. “Mikroplastik ini berasal dari serat sintetis pakaian, debu kendaraan dan ban, sisa pembakaran sampah plastik, serta degradasi plastik di ruang terbuka,” katanya dikutip dari situs resmi BRIN, Sabtu (18/10).

Apa yang Dimaksud Air Hujan Mikroplastik?

Air hujan yang mengandung mikroplastik kini menjadi perhatian serius para peneliti di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Mikroplastik adalah partikel plastik berukuran kurang dari 5 milimeter yang terbentuk dari degradasi limbah plastik atau berasal dari serat sintetis pakaian, debu kendaraan, serta pembakaran sampah plastik.

Menurut laporan Frontiers in Environmental Science (2023), partikel-partikel ini dapat terangkat ke atmosfer melalui angin atau debu perkotaan, kemudian terbawa oleh uap air dan turun kembali ke permukaan bumi melalui hujan. Fenomena ini menunjukkan bahwa polusi plastik tidak hanya mencemari lautan dan tanah, tetapi juga udara yang kita hirup.

Penelitian dari Yale Environment 360 mengungkap bahwa partikel mikroplastik ringan dapat berpindah jarak jauh melalui sirkulasi atmosfer, bahkan mencapai daerah pegunungan yang jauh dari sumber polusi. Sementara itu, National Geographic melaporkan bahwa di Pegunungan Pyrenees, Prancis, rata-rata 365 partikel mikroplastik per meter persegi jatuh melalui hujan setiap hari.

Mikroplastik Jadi Bagian Siklus Air Global.

Hal serupa ditemukan di Argentina, di mana setiap sampel mengandung serpihan mikroplastik antropogenik hingga 77 partikel per meter persegi per hari. Temuan ini memperkuat bukti bahwa mikroplastik telah menjadi bagian dari siklus air global.

Dampak dari mikroplastik masih terus diteliti, tetapi berbagai studi menunjukkan potensi ancaman bagi lingkungan dan kesehatan manusia. Mikroplastik yang jatuh ke tanah dapat mencemari air tanah, sungai, dan laut, sementara konsumsi air hujan yang tidak disaring berisiko menyebabkan iritasi dan peradangan.

Peneliti BRIN, Muhammad Reza Cordova, juga menegaskan air di Jakarta mengandung mikroplastik berbahaya sehingga tidak layak dikonsumsi langsung tanpa filtrasi berlapis dan perebusan. Menurutnya, air tersebut berfungsi “membersihkan” udara dari berbagai polutan, termasuk mikroplastik dan mikroba patogen, sehingga harus melalui pengolahan terlebih dahulu sebelum diminum.

Plastik Telah Menembus Ekosistem Lapisan Bumi

Secara umum, fenomena “hujan mikroplastik” menjadi bukti nyata bahwa polusi plastik telah menembus seluruh lapisan ekosistem bumi. Meskipun penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memahami dampaknya secara spesifik terhadap kesehatan manusia, langkah pencegahan seperti penyaringan air hujan dan pengurangan penggunaan plastik sekali pakai menjadi sangat penting.

BACA JUGA: Aksi Mahasiswa Sikapi Setahun Rezim Prabowo-Gibran Berlangsung Damai

Seperti disampaikan oleh World Economic Forum (2020), mikroplastik kini ditemukan tidak hanya di laut, tetapi juga dalam udara dan hujan yang kita alami setiap hari menandakan bahwa krisis plastik sudah benar-benar bersifat global.

Upaya Pengurangan Penggunaan Plastik Harus Dijaga

Fenomena hujan mikroplastik menunjukkan bahwa polusi plastik telah menembus seluruh lapisan ekosistem, dari udara hingga air yang kita gunakan sehari-hari. Temuan ini menjadi peringatan bahwa upaya pengurangan penggunaan plastik dan pengelolaan limbah harus semakin diperkuat.

Masyarakat diimbau untuk tidak mengonsumsi secara langsung tanpa proses filtrasi dan perebusan, sebagaimana diingatkan peneliti BRIN. Dengan langkah pencegahan sederhana dan kesadaran kolektif, dampak mikroplastik terhadap lingkungan dan kesehatan dapat diminimalkan.

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like