Narayapost — Santri Harus Jadi Wajah Asli Indonesia. Di bawah langit cerah Tapanuli Tengah, ribuan santri dari berbagai daerah memenuhi area yang disebut sebagai “Titik Nol Peradaban Islam Nusantara”. Di tempat yang sarat sejarah itu, Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar, berdiri di podium dengan suara lantang dan berapi-api. Dalam peringatan Hari Santri Nasional tahun 2025, Cak Imin sapaan akrabnya menyampaikan pesan yang menyentuh sekaligus menggugah kesadaran.
BACA JUGA : Mantan Presiden Prancis Menerima Hukuman Penjara 5 Tahun
“Santri harus menjadi wajah asli Indonesia,” ucapnya, di hadapan ribuan peserta apel akbar. Ia menegaskan bahwa santri bukan sekadar kelompok religius yang menjaga tradisi pesantren, tetapi juga cerminan dari karakter bangsa yang santun, tangguh, dan produktif. Bagi Cak Imin, wajah santri adalah wajah keindonesiaan itu sendiri moderat, terbuka, dan berakar pada nilai-nilai luhur kemanusiaan.
Peringatan tahun ini terasa istimewa. Lokasinya bukan di kota besar atau di lapangan terbuka seperti biasanya, melainkan di Barus, Sumatera Utara sebuah kota kecil di pesisir barat yang dikenal sebagai pintu masuk Islam pertama di Nusantara. Pilihan ini bukan tanpa alasan. Barus menjadi simbol akar sejarah peradaban Islam yang tumbuh secara damai, berpadu dengan kearifan lokal, dan membentuk wajah Islam khas Indonesia: toleran, berbudaya, dan humanis.
Dalam sambutannya, Cak Imin menyebut bahwa pesantren telah menjadi bagian penting dari perjalanan bangsa. Selama berabad-abad, pesantren tidak hanya melahirkan ulama dan tokoh agama, tetapi juga cendekiawan, pejuang kemerdekaan, dan pemimpin masyarakat. Kini, ia menantang para santri untuk melanjutkan tradisi itu dalam konteks baru: menjadi pelopor inovasi dan kemajuan di tengah dunia digital.
“Kita tidak boleh puas dengan kebesaran masa lalu. Santri hari ini harus bisa bersaing, bukan hanya dalam bidang keagamaan, tapi juga dalam ilmu pengetahuan, teknologi, dan ekonomi. Inilah wajah santri Indonesia yang sejati,” ujar Cak Imin diiringi tepuk tangan peserta apel.
Suasana apel terasa hangat dan penuh semangat. Para santri yang datang dari berbagai penjuru Indonesia mengibarkan bendera pesantren masing-masing. Sebagian mengenakan sarung dan peci, sebagian lain membawa alat musik rebana, menciptakan suasana khas pesantren yang berpadu dengan semangat kebangsaan.
Cak Imin menyoroti bahwa Indonesia memiliki lebih dari 42 ribu pesantren yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Jumlah itu merupakan potensi besar untuk membangun generasi berkarakter, apalagi jika lembaga-lembaga pendidikan itu diperkuat dengan akses teknologi, kurikulum modern, dan jejaring kewirausahaan.
“Kita ingin pesantren menjadi lokomotif kemajuan. Jangan ada lagi kesan bahwa pesantren tertinggal. Justru pesantrenlah yang harus memimpin perubahan di tengah masyarakat,” katanya dengan nada optimistis.
Ia menambahkan bahwa pemerintah berkomitmen untuk terus memperkuat peran santri dalam pembangunan nasional. Program digitalisasi pesantren, pelatihan kewirausahaan santri, dan penguatan moderasi beragama menjadi prioritas yang sedang dijalankan. Tujuannya bukan hanya menciptakan santri yang cerdas dan mandiri, tetapi juga membangun peradaban yang berkeadilan sosial.
Dalam pandangan Cak Imin, pesantren dan santri memiliki DNA nasionalisme yang kuat. Sejak era perjuangan kemerdekaan, para kiai dan santri menjadi bagian dari barisan perlawanan terhadap penjajahan. Resolusi Jihad 1945, misalnya, menjadi bukti konkret bahwa pesantren selalu berada di garis depan dalam menjaga kedaulatan bangsa. Kini, semangat jihad itu diterjemahkan dalam bentuk baru: jihad melawan kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan.
“Santri masa kini harus menjadi penjaga akhlak, pembawa ilmu, sekaligus penggerak ekonomi. Kita ingin santri yang tidak hanya bisa membaca kitab kuning, tapi juga mampu membaca tantangan zaman,” ujar Cak Imin yang disambut sorak takbir dari peserta apel.
Di tengah sambutannya, Cak Imin juga mengingatkan bahwa santri harus menjaga karakter khas Islam Nusantara yang damai dan penuh toleransi. Ia menegaskan bahwa tantangan terbesar hari ini bukan sekadar menghadapi perubahan teknologi, tetapi juga menjaga keutuhan bangsa dari ancaman perpecahan dan ekstremisme. “Islam Nusantara adalah Islam yang ramah, bukan marah. Inilah wajah sejati Indonesia,” katanya dengan nada tegas.
Acara Hari Santri Nasional di Barus juga diisi dengan doa bersama, parade santri, dan pertunjukan seni budaya yang menggambarkan perpaduan antara tradisi Islam dan budaya lokal. Sejumlah pesantren mempersembahkan pertunjukan shalawat dan hadrah, sementara masyarakat setempat menyajikan tarian daerah sebagai simbol persaudaraan lintas budaya.
Bagi banyak peserta, kehadiran Cak Imin dan pesan yang disampaikannya menjadi penyemangat baru. “Saya merasa bangga bisa jadi bagian dari acara ini,” ujar seorang santri muda dari Tasikmalaya. “Kami ingin membuktikan bahwa santri juga bisa jadi pemimpin masa depan bangsa.”
Hari Santri Nasional kali ini terasa lebih reflektif dibanding tahun-tahun sebelumnya. Dari Barus, pesan moral yang disampaikan menggema ke seluruh Indonesia: bahwa santri adalah potret Indonesia yang utuh religius tapi terbuka, tradisional tapi adaptif, sederhana tapi berdaya saing tinggi.
BACA JUGA : Prabowo Subianto: Orang Lemah Harus Dibela
Menutup amanatnya, Cak Imin menyampaikan pesan yang sarat makna. “Kita berdiri di titik awal sejarah Islam di Nusantara, dan dari titik ini pula kita memulai babak baru. Santri harus menjadi wajah asli Indonesia: kuat dalam iman, cerdas dalam ilmu, dan santun dalam perbuatan.”
Kalimat itu disambut gemuruh takbir dari ribuan santri yang hadir. Di antara suara angin laut Barus yang tenang, gema pesan itu terasa mengakar seolah mengikat sejarah masa lalu dengan harapan masa depan. Dari Titik Nol Islam Nusantara, semangat baru santri Indonesia kembali menyala.