Rentetan Pujian Donald Trump kepada Prabowo Upaya Rayu Indonesia Gabung Abraham Accords?

Presiden RI Prabowo Subianto berpose bersama Presiden AS Donald Trump, pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perdamaian Sharm El-Sheikh di International Congress Centre, Sharm El-Sheikh, Republik Arab Mesir, Senin (13/10/2025). Foto: BPMI Setpres/Muchlis Jr
750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tampaknya sedang ‘mesra’ dengan Presiden Prabowo Subianto.

Trump belakangan ini kerap melontarkan pujian kepada Prabowo, yang ia sebut berperan besar dalam mendukung upaya perdamaian di kawasan Timur Tengah.

Dalam pidatonya pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-47 ASEAN di Kuala Lumpur Convention Center, Malaysia, Minggu (26/10/2025), Trump menyebut Prabowo sebagai sahabat.

“Dan sahabat saya Presiden Prabowo dari Indonesia, atas dukungan luar biasa mereka dalam upaya memastikan lahirnya masa baru bagi Timur Tengah.”

“Ini benar-benar masa baru.”

“Timur Tengah akan memiliki perdamaian setelah 3.000 tahun, perdamaian yang kuat dan abadi,” ucap Trump seraya melihat ke arah Prabowo.

Sebelumnya di ruang konferensi International Congress Centre, Sharm El-Sheikh, Mesir, Senin (13/10/2025), Trump memuji Prabowo sebagai sosok luar biasa.

Di sana, para pemimpin dunia berkumpul untuk menyaksikan penandatanganan perjanjian perdamaian dan penghentian perang panjang di Gaza, Palestina.

“Bersama dengan kita adalah Presiden Prabowo, sosok luar biasa dari Indonesia,” puji Trump, sembari menoleh ke arah Prabowo, yang berdiri di antara para pemimpin negara lain, dikutip dari laman presidenri.go.id, Selasa (14/10/2025).

Kedua kepala negara lantas melangkah mendekat dan berjabat tangan.

Dalam bagian lain pidatonya, Trump kembali menyinggung Indonesia dengan nada penuh penghargaan.

“Indonesia sudah kita bahas.”

BACA JUGA: Indonesia Kawal Gencatan Senjata Israel-Hamas di Gaza Palestina

“Saya hanya ingin mengatakan itu adalah negara besar, negara yang kuat, dan kinerjanya sangat luar biasa,” ujar Trump.

Pujian Trump kepada Prabowo dimulai setelah Presiden ke-8 RI itu berpidato di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat, Selasa (23/9/2025).

Di situ, Prabowo mengatakan Indonesia terbuka untuk mengakui Israel, dengan syarat negara itu terlebih dahulu mengakui kedaulatan dan kemerdekaan Palestina.

Prabowo juga mendorong negara lain menjamin keamanan Israel.

Prabowo kembali menegaskan dukungan penuh Indonesia terhadap solusi dua negara dalam penyelesaian konflik di Gaza.

Menurutnya, perdamaian sejati hanya akan terwujud jika hak Palestina dan keamanan Israel diakui serta dijamin oleh komunitas internasional.

“Kita harus memiliki Palestina yang merdeka, tetapi kita juga harus, kita juga harus mengakui, kita juga harus menghormati, dan kita juga harus menjamin keselamatan dan keamanan Israel.”

“Hanya dengan begitu kita bisa memiliki perdamaian sejati, perdamaian yang nyata, tanpa kebencian dan tanpa kecurigaan.”

“Satu-satunya solusi adalah solusi dua negara,” tegas Prabowo dalam pidatonya pada Sidang Majelis Umum ke-80 PBB.

“Saat ini juga, orang-orang tak bersalah menangis meminta pertolongan, menangis ingin diselamatkan.”

“Siapa yang akan menyelamatkan mereka?”

“Siapa yang akan menyelamatkan orang-orang tak bersalah?”

BACA JUGA: Donald Trump Puji Prabowo Subianto: Sosok Luar Biasa dari Indonesia

“Siapa yang akan menyelamatkan orang tua dan perempuan?”

“Jutaan orang menghadapi bahaya saat kita duduk di sini,” imbuhnya.

Prabowo menyatakan Indonesia telah mengalami penderitaan atas penindasan kolonial saat perjuangan kemerdekaan terdahulu yang menyengsarakan, sehingga sangat tahu bagaimana rasanya ditindas.

Karena itu, Indonesia menyerukan kepada seluruh dunia untuk tidak menyerah dalam menghadapi konflik, ketidakadilan, dan ketidakpastian yang kian meluas.

“Kita tidak boleh menyerah. Seperti kata Sekretaris Jenderal PBB: kita tidak boleh menyerah, kita tidak boleh mengorbankan harapan atau cita-cita kita keadilan dan kebebasan untuk semua,” tegas Prabowo.

Prabowo menekankan pentingnya hidup berdampingan dalam damai dan harmoni, termasuk bagi seluruh penganut agama dan keturunan dari Nabi Ibrahim.

“Arab, Yahudi, Muslim, Kristen, Hindu, Buddha semua agama harus hidup sebagai satu keluarga manusia.”

“Indonesia berkomitmen menjadi bagian dari visi ini,” bebernya.

Ia mengajak seluruh pemimpin dunia untuk melanjutkan perjalanan harapan yang telah dirintis oleh para pendiri PBB.

Menurutnya, Indonesia tetap memegang teguh prinsip internasionalisme, multilateralisme, dan semangat untuk mewujudkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

“Kami tidak akan pernah lupa, dan hari ini kita tidak boleh diam ketika Palestina ditolak keadilan dan legitimasi yang sama di ruang sidang ini,” cetusnya.

Mengutip pemikiran sejarawan Yunani Thukydides, Prabowo menolak logika kekuasaan yang menindas.

BACA JUGA: Prabowo Subianto: Puluhan Tahun Saya Bela Palestina

“Thukydides pernah memperingatkan, ‘Yang kuat melakukan apa yang bisa mereka lakukan, yang lemah menderita apa yang harus mereka derita.’ Kita harus menolak doktrin ini. PBB ada untuk menolaknya. Kekuatan tidak bisa menjadi kebenaran. Yang benar harus menjadi benar,” tegasnya.

Dalam konteks kontribusi Indonesia terhadap perdamaian global, Prabowo menyampaikan Indonesia saat ini merupakan salah satu kontributor terbesar pasukan penjaga perdamaian PBB.

Indonesia berkomitmen untuk terus aktif menjaga perdamaian secara nyata, tidak hanya melalui diplomasi, tetapi juga dengan penempatan pasukan di lapangan.

“Jika Dewan Keamanan dan Majelis Umum PBB memutuskan, Indonesia siap mengirim 20 ribu, bahkan lebih, putra-putri kami untuk mengamankan perdamaian di Gaza, Ukraina, Sudan, Libya, atau di mana pun perdamaian dibutuhkan.”

“Kami juga siap menanggung beban, bukan hanya dengan tenaga manusia, tetapi juga melalui kontribusi finansial demi misi besar PBB,” tambahnya.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahkan memuji pidato Prabowo tersebut di forum yang sama.

”Saya memperhatikan pernyataan yang optimistis dari Presiden Indonesia (Prabowo Subianto).”

“Indonesia adalah negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia,” ucap Netanyahu yang berpidato di Sidang Umum PBB pada Jumat (26/9/2025).

Baliho Viral

Baliho yang memajang foto Presiden Prabowo Subianto bersama sejumlah kepala negara pendukung Israel, sempat viral di media sosial.

Unggahan tersebut menyebut koalisi Israel untuk Keamanan Regional meluncurkan kampanye papan reklame yang mendukung inisiatif Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengakhiri perang di Gaza, Palestina.

“Tuan Presiden, Israel Berdiri di Samping Rencanamu, Kunci Kesepakatan,” begitu isi tulisan berbahasa Inggris di baliho tersebut, yang dilihat dari akun X @AbrahamShield25, Minggu (29/9/2025).

Pada salah satu foto baliho yang menjadi perbincangan di internet, Trump berdiri di tengah para pemimpin sejumlah negara, seperti Presiden Prabowo, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Presiden Uni Emirat Arab (UEA) Mohammed bin Zayed Al-Nahyan, dan Raja Yordania Abdullah II. Para pemimpin negara itu berada di sebelah kanan Trump. 

Di sebelah kiri Trump, ada Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS), Presiden Mesir Abdul Fattah as-Sisi, dan Presiden Palestina Mahmoud Abbas.

Upaya AS Ajak Indonesia Gabung Abraham Accords

Banyak yang menduga sikap manis Trump kepada Prabowo itu adalah salah satu upaya AS mengajak Indonesia ikut bergabung dalam Abraham Accords.

Abraham Accords adalah perjanjian antara Israel dengan sejumlah negara Arab-Muslim, untuk normalisasi hubungan diplomatik pasca-konflik di masa lalu.

Perjanjian ini dibuat oleh pemerintahan Trump periode pertama, yang dan diteken pada 2020.

Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, Maroko, dan Sudan, menandatangani perjanjian ini.

Kesepakatan rujuk antara Israel dan UEA tercapai karena iming-iming imbalan penangguhan rencana Israel mencaplok sebagian wilayah Tepi Barat, Palestina.

Sedangkan kesepakatan dengan Bahrain terwujud karena kekhawatiran Bahrain akan lokasinya yang berdekatan dengan Iran.

Bagi Bahrain, Abraham Accords merupakan jaminan keamanan dari AS.

Normalisasi Sudah dengan Israel terjadi karena imbalan dihapusnya Sudan dari daftar negara pendukung terorisme oleh AS.

Sedangkan Maroko rujuk dengan Israel, seiring pengakuan AS atas kedaulatan Maroko di wilayah Sahara Barat.

Pada 2025, setelah Trump kembali menjabat presiden untuk periode kedua, muncul isu AS membidik sejumlah negara Muslim lain untuk ikut menandatangani Abraham Accords, di antaranya Arab Saudi dan Suriah.

Indonesia juga sempat disebut-sebut masuk dalam radar pemerintahan Trump, maupun Presiden AS Joe Biden, untuk ikut bergabung dalam Abraham Accords.

Hal itu disampaikan oleh penasihat senior Trump, Jared Kushner pada 2020, dan oleh Menteri Luar Negeri AS Anthony Blinken pada 2021.

Namun, negara-negara Muslim yang dibidik AS, termasuk Indonesia, menegaskan hubungan diplomatik dengan Israel hanya bisa terwujud apabila Palestina merdeka.

Nama Abraham pada Abraham Accords dipilih karena merujuk pada tokoh suci bersama dalam tradisi Yahudi, Kristen, dan Islam, simbol persaudaraan ketiga agama Abrahamik.

UAE, Bahrain, Sudan, dan Maroko, menjadi negara Arab pertama dalam beberapa dekade yang menjalin hubungan resmi dengan Israel setelah Mesir (1979) dan Yordania (1994).

Tujuan dan prinsip utama dari Kesepakatan Abraham adalah normalisasi hubungan diplomatik dan ekonomi dengan Israel, kerja sama di bidang teknologi, keamanan, pariwisata, dan pendidikan.

Juga, penangguhan (sementara) aneksasi wilayah Tepi Barat oleh Israel (khususnya dalam kasus UAE), serta aliansi strategis melawan Iran, menjadi kepentingan regional yang diam-diam mendorong perjanjian ini. 

Palestina mengutuk Abraham Accords sebagai pengkhianatan, karena menormalisasi hubungan tanpa penyelesaian status Palestina, alias tanpa adanya jaminan kemerdekaan Negara Palestina.

Berharap Arab Saudi Ikut

Presiden AS Donald Trump meyakini bakal ada negara-negara Arab dan mayoritas Muslim baru yang akan bergabung dengan Abraham Accords.

Trump bahkan besar berharap Arab Saudi, salah satu sekutu dekat AS di Timur Tengah, dapat bergabung dalam perjanjian ini.

“Saya berharap Arab Saudi akan bergabung, dan saya juga berharap negara-negara lain akan ikut serta.”

“Saya rasa ketika Arab Saudi bergabung, semuanya akan ikut bergabung,” ujar Trump pada Jumat (17/10/2025) lalu.

Trump bahkan mengaku telah melakukan beberapa percakapan yang sangat baik, dengan sejumlah negara yang menyatakan kesediaannya untuk bergabung dengan Abraham Accords.

“Saya pikir mereka semua akan bergabung dalam waktu dekat,” ungkap Trump.

Negara Arab dan mayoritas Muslim kebanyakan tidak mengakui Israel sebagai negara, lantaran riwayat perang di Timur Tengah hingga solidaritas terhadap Palestina.

Trump terus mendorong negara lain ikut Abraham Accords, dan mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, lalu memindahkan Kedubes AS di Israel, dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Padahal, Yerusalem menjadi salah satu titik panas konflik Israel-Palestina.

Saat KTT Gaza Peace Summit di Mesir pada Oktober 2025, Trump memastikan perjanjian Abraham Accords menjadi salah satu cara agar kawasan Timur Tengah damai dari konflik hingga peperangan. 

Trump bahkan mengemukakan kemungkinan tercapainya kesepakatan damai antara dua musuh bebuyutan di Timur Tengah, Iran dan Israel.

Kepada parlemen Israel, Trump mengatakan ia percaya Iran menginginkan perdamaian.

“Bukankah itu akan menjadi sesuatu yang indah?” Cetusnya.

Netanyahu Ingin Normalisasi

Media Arab mengungkapkan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu disebut ingin menormalisasi hubungan dengan Indonesia dan Arab Saudi.

Netanyahu diklaim ingin normalisasi hubungan Israel dengan Indonesia dan Arab Saudi, dilakukan sebelum pemilu Knesset pada Juni 2026.

Media Qatar yang berbasis di London, The New Arab, mengutip media Israel KAN, mengungkapkan ambisi Netanyahu tersebut.

Mereka juga mengutip pernyataan i24 News atas upaya Netanyahu tersebut.

“Pemimpin Israel melakukan itu dengan tujuan memperkuat posisinya jelang pemilu, yang akan secara resmi dilakukan pada tahun tersebut.”

“Peluang PM untuk mencapai kesepakatan dengan Riyadh dianggap wajar, sementara peluangnya menandatangani perjanjian serupa dengan Jakarta tampak rendah,” tulis The New Arab mengutip KAN.

Netanyahu juga dikabarkan bakal puas jika bisa sepakat dengan salah satu dari kedua negara tersebut.

“Arab Saudi memiliki pengaruh besar di dunia Arab dan Muslim melalui pengaruh ekonominya, dan menjadi tuan rumah bagi situs-situs suci umat Islam.”

“Sementara Indonesia, negara berpenduduk mayoritas Muslim terbesar di dunia, secara luas dianggap kekuatan ekonomi yang sedang berkembang,” tulis media tersebut.

Pada Februari 2025, Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menegaskan, mereka tak akan menormalisasi hubungan dengan Israel tanpa pembentukan negara Palestina. (*)

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like