NarayaPost – Berita duka atas kepergian seorang publik figur, Epy Kusnandar. Dugaannya yaitu Almarhum terkena penyumbatan pembuluh darah batang otak. Hal ini kembali membuka kesadaran publik tentang betapa seriusnya risiko gangguan suplai darah ke otak. Kondisi medis ini secara umum dikenal sebagai “penyumbatan pembuluh darah di otak” sering berujung pada stroke iskemik atau komplikasi berat bila tidak ditangani cepat dan tepat.
BACA JUGA : Suporter Persija Sebut Regulasi Away Tak Relevan
Secara sederhana, penyumbatan pembuluh darah di otak terjadi ketika aliran darah melalui arteri dalam otak atau yang menyuplai bagian penting otak terhambat. Hambatan itu bisa disebabkan oleh plak lemak (aterosklerosis), gumpalan darah (trombus), atau emboli gumpalan yang terbentuk di bagian tubuh lain kemudian mengalir dan tersangkut di arteri otak.
Akibatnya, sebagian otak mengalami kekurangan oksigen dan nutrisi kondisi yang dikenal sebagai iskemia otak dan jika suplai darah tidak pulih dalam waktu kritis, sel-sel otak bisa rusak permanen.
Tergantung lokasi penyumbatan misalnya di arteri besar, arteri kecil, atau pembuluh yang menyuplai batang otak dampak bisa ringan sampai sangat berat. Bila terjadi di batang otak atau arteri vertebrobasilar, kerusakan bisa memicu gangguan fungsi vital seperti pernapasan, kesadaran, penglihatan, keseimbangan, hingga kelumpuhan.
Penyumbatan pembuluh darah di otak bisa datang tiba-tiba, dan gejalanya kadang sulit dikenali terutama bila terjadi di bagian batang otak/otak tengah:
Sakit kepala hebat mendadak, tanpa sebab yang jelas.
Pusing, vertigo, atau sensasi tubuh seperti berputar.
Kehilangan keseimbangan, susah berjalan atau koordinasi terganggu.
Gangguan penglihatan: pandangan kabur, mata sulit fokus, bahkan penglihatan ganda.
Kesulitan bicara, bicara pelo, atau tidak mampu berbicara jelas.
Kesulitan menelan, nyeri leher atau wajah, kelemahan atau mati rasa pada sebagian wajah atau anggota tubuh.
Kehilangan kesadaran atau gangguan pernapasan, terutama bila area batang otak terkena.
Karena gejala bisa campur aduk dan kadang berbeda dari stroke “umum”, kondisi ini sering terlambat ditangani padahal penanganan cepat (misalnya dalam hitungan jam) sangat menentukan upaya penyelamatan fungsi otak dan nyawa.
Penyumbatan pembuluh darah otak umumnya terjadi karena kombinasi beberapa faktor risiko: tekanan darah tinggi, kadar kolesterol tinggi, diabetes, obesitas, merokok, riwayat penyakit jantung, gaya hidup sedentari, serta penuaan.
Faktor genetik dan riwayat keluarga juga memainkan peran penting. Namun banyak dari faktor risiko tersebut bisa dikendalikan dengan pola hidup sehat seperti menjaga tekanan darah, kolesterol, gula darah, beraktivitas fisik, dan menghindari merokok.
Sistem peredaran otak sangat sensitif. Otak membutuhkan aliran darah terus-menerus untuk suplai oksigen dan nutrisi. Bila suplai berhenti bahkan dalam hitungan menit, sel-sel otak mulai rusak.
Arteri besar seperti karotis, vertebralis, hingga basilar sangat rentan terhadap pengerasan (aterosklerosis), terutama bila kita sudah memiliki faktor risiko seperti hipertensi, kolesterol tinggi, dan gaya hidup tidak sehat.
Begitu plak menebal, aliran darah menyempit hal ini bisa menimbulkan gejala ringan seperti pusing atau gangguan ringan, tetapi bisa berkembang menjadi penyumbatan total, memicu stroke iskemik atau infark otak.
Jika seseorang menunjukkan gejala seperti di atas, langkah cepat ke layanan kesehatan sangat penting. Pemeriksaan dengan CT-scan atau MRI bisa menunjukkan lokasi dan tingkat kerusakan pembuluh darah/otak.
Tindakan bisa berupa:
Obat antikoagulan atau pengencer darah (agar bekuan tidak berkembang).
Trombektomi atau angioplasti/stent di pembuluh otak untuk membuka sumbatan jika diagnosis cepat dilakukan.
Terapi rehabilitasi fisik, wicara, dan fisioterapi jika sudah terjadi kerusakan fungsi saraf, agar korban mampu kembali beraktivitas bila memungkinkan.
Namun, keberhasilan penanganan sangat bergantung pada seberapa cepat pasien menerima pertolongan. Semakin cepat sirkulasi darah dipulihkan, makin besar peluang sel otak terhindar dari kerusakan permanen.
Karena banyak faktor risiko bisa dikendalikan, pencegahan menjadi kunci penting:
Kendalikan tekanan darah, gula darah, dan kolesterol.
Jalani gaya hidup sehat: olahraga rutin, makan bergizi, hindari rokok & alkohol.
Rutin periksa kesehatan, terutama jika memiliki riwayat penyakit jantung atau diabetes.
Kenali gejala stroke dan jangan abaikan ketika muncul secara tiba-tiba: pusing hebat, kebingungan, kesulitan bicara, sampai hilang keseimbangan.
Dengan langkah pencegahan, peluang terjadinya penyumbatan pembuluh darah otak bisa ditekan dan ini sangat penting mengingat konsekuensi fatal yang bisa ditimbulkan.
BACA JUGA : Presiden AS Donald Trump Ungkap Perdamaian Rusia-Ukraina Tak Mudah
Kabar wafatnya Epy Kusnandar akibat dugaan penyumbatan pembuluh darah batang otak menjadi pengingat keras bahwa kondisi ini bisa menimpa siapa saja tak memandang usia muda atau tua, asalkan ada faktor risiko yang terabaikan.
Publik pun diharapkan tidak hanya simpati, tetapi juga mengambil pelajaran: menjaga kesehatan, memerhatikan gaya hidup, dan waspada terhadap gejala yang bisa jadi pertanda bahaya. Penanganan cepat dan pencegahan akan menjadi penentu baik bagi individu maupun orang di sekitarnya.