NarayaPost – Fenomena sarjana jadi ojol karena sulit dapat kerja semakin banyak ditemukan di berbagai kota besar Indonesia. Di tengah ketatnya persaingan kerja dan terbatasnya lapangan pekerjaan formal, sejumlah lulusan perguruan tinggi memilih menjadi pengemudi ojek online sebagai jalan bertahan hidup. Realitas ini mencerminkan tekanan nyata yang dihadapi generasi terdidik dalam memasuki dunia kerja.
Menurut JK, jumlahnya tak sedikit. Bahkan, kata dia, 25 persen dari total ojol di Indonesia merupakan sarjana.
BACA JUGA : Prabowo: Anggaran Penanganan Bencana Hasil Saya Dimaki
“Pendapatan yang semakin turun ini pun harus diraih dengan kerja yang sangat keras. Mitra ojek daring rata-rata menyelesaikan 10 order per hari, menempuh jarak 42 km per hari dan menghabiskan waktu kerja hingga 11 jam per hari,” demikian tulis IDEAS dalam dokumen survei yang dipublikasi akhir 2023.
Angka tersebut merupakan nominal kotor, belum dipotong biaya makan dan bensin sekitar 31 persen. IDEAS juga menyebut pendapatan kotor belum dipotong beban operasional mingguan atau bulanan, seperti biaya pulsa dan perawatan motor.
Di lain sisi, survei Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Perhubungan (Kemenhub) pada 2022 menyebut pendapatan ojol memang terus menurun dari tahun ke tahun. Sekitar 50,1 persen responden menyatakan rata-rata pendapatan hariannya Rp 50-100 ribu.
Di sisi lain, stigma terhadap pekerjaan informal perlahan mulai berkurang. Masyarakat mulai memahami bahwa bekerja sebagai ojol bukanlah tanda kegagalan, melainkan bentuk adaptasi terhadap situasi ekonomi. Yang terpenting adalah upaya untuk tetap produktif dan mandiri di tengah keterbatasan.
BACA JUGA : Ini Alasan 14 Desember Ditetapkan Sebagai Hari Sejarah
Bagi para sarjana yang kini berprofesi sebagai pengemudi ojol, harapan akan masa depan tetap ada. Banyak dari mereka masih bercita-cita mendapatkan pekerjaan sesuai keahlian atau membangun usaha sendiri. Pengalaman di lapangan justru memberi pelajaran berharga tentang ketahanan mental, kemandirian, dan realitas kehidupan.
Sulit dapat kerja, sarjana banyak daftar ojol. Fenomena ini menjadi cermin penting bagi semua pihak. Dunia pendidikan, pemerintah, dan sektor swasta perlu duduk bersama untuk menjawab tantangan pengangguran terdidik. Tanpa langkah nyata, jumlah sarjana yang beralih ke sektor informal diperkirakan akan terus bertambah, seiring makin sempitnya peluang kerja formal.