Sulit Dapat Kerja, Banyak Sarjana Beralih Jadi Ojol

750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Fenomena sarjana jadi ojol karena sulit dapat kerja semakin banyak ditemukan di berbagai kota besar Indonesia. Di tengah ketatnya persaingan kerja dan terbatasnya lapangan pekerjaan formal, sejumlah lulusan perguruan tinggi memilih menjadi pengemudi ojek online sebagai jalan bertahan hidup. Realitas ini mencerminkan tekanan nyata yang dihadapi generasi terdidik dalam memasuki dunia kerja.

Wakil Presiden (Wapres) Republik Indonesia ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla alias JK, bicara soal betapa susahnya mencari pekerjaan di Tanah Air. Itulah mengapa, kata dia, banyak lulusan perguruan tinggi yang banting setir menjadi ojek online (ojol).

Menurut JK, jumlahnya tak sedikit. Bahkan, kata dia, 25 persen dari total ojol di Indonesia merupakan sarjana.

“Sekarang 25 persen pengemudi ojek online (ojol) itu sarjana. Ini menunjukkan ketidakseimbangan antara jumlah lulusan dan lapangan kerja,” ujar JK saat acara Sarasehan Ekonomi di Unhas, dikutip dari CNN Indonesia, Selasa (16/12).

BACA JUGA : Prabowo: Anggaran Penanganan Bencana Hasil Saya Dimaki

Ia menilai Indonesia perlu menata ulang strategi pembangunan ekonomi dengan fokus pada industri manufaktur, pendidikan vokasi, pelatihan kerja, serta reformasi hukum agar lebih berpihak pada penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan berkelanjutan.

“Ekonomi bukan hanya soal pasar saham. Lihatlah pasar-pasar rakyat, di sanalah kondisi ekonomi yang sesungguhnya,” tuturnya.

Upah Ojol Turun Drastis

Menurut survei Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS) yang dipublikasikan lebih dari setahun lalu, penghasilan ojol pada 2018-2019 rata-rata mencapai Rp 304.688 per hari. Nominalnya mengalami penurunan drastis selama pandemi menyerang.
Meski sempat pulih sedikit, namun nonimalnya tak pernah benar-benar kembali seperti dulu. Pada 2023, penghasilan rata-rata mitra driver di Indonesia hanya Rp 174.805 per hari atau hampir separuh dari awal-awal kemunculan aplikasi ojol di Tanah Air.

“Pendapatan yang semakin turun ini pun harus diraih dengan kerja yang sangat keras. Mitra ojek daring rata-rata menyelesaikan 10 order per hari, menempuh jarak 42 km per hari dan menghabiskan waktu kerja hingga 11 jam per hari,” demikian tulis IDEAS dalam dokumen survei yang dipublikasi akhir 2023.

Angka tersebut merupakan nominal kotor, belum dipotong biaya makan dan bensin sekitar 31 persen. IDEAS juga menyebut pendapatan kotor belum dipotong beban operasional mingguan atau bulanan, seperti biaya pulsa dan perawatan motor.

Di lain sisi, survei Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Perhubungan (Kemenhub) pada 2022 menyebut pendapatan ojol memang terus menurun dari tahun ke tahun. Sekitar 50,1 persen responden menyatakan rata-rata pendapatan hariannya Rp 50-100 ribu.

Di sisi lain, stigma terhadap pekerjaan informal perlahan mulai berkurang. Masyarakat mulai memahami bahwa bekerja sebagai ojol bukanlah tanda kegagalan, melainkan bentuk adaptasi terhadap situasi ekonomi. Yang terpenting adalah upaya untuk tetap produktif dan mandiri di tengah keterbatasan.

BACA JUGA : Ini Alasan 14 Desember Ditetapkan Sebagai Hari Sejarah

Bagi para sarjana yang kini berprofesi sebagai pengemudi ojol, harapan akan masa depan tetap ada. Banyak dari mereka masih bercita-cita mendapatkan pekerjaan sesuai keahlian atau membangun usaha sendiri. Pengalaman di lapangan justru memberi pelajaran berharga tentang ketahanan mental, kemandirian, dan realitas kehidupan.

Sulit dapat kerja, sarjana banyak daftar ojol. Fenomena ini menjadi cermin penting bagi semua pihak. Dunia pendidikan, pemerintah, dan sektor swasta perlu duduk bersama untuk menjawab tantangan pengangguran terdidik. Tanpa langkah nyata, jumlah sarjana yang beralih ke sektor informal diperkirakan akan terus bertambah, seiring makin sempitnya peluang kerja formal.

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like