Vladimir Putin Klaim Tak Ada yang Bisa Saingi Senjata Nuklir Rusia

Presiden Rusia Vladimir Putin mengeklaim tidak ada negara lain yang dapat menyaingi persenjataan nuklir Rusia.
750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Presiden Rusia Vladimir Putin mengeklaim tidak ada negara lain yang dapat menyaingi persenjataan nuklir Rusia.

“92 persen dari kekuatan nuklir kami telah dimodernisasi.”

“Tidak ada negara lain, tidak ada kekuatan nuklir lain di dunia yang memiliki ini.”

“Kami sedang mengembangkan senjata baru dan sarana penghancuran baru.”

“Tidak ada negara lain di dunia yang memilikinya, dan itu tidak akan muncul dalam waktu dekat,” ujarnya pada pertemuan tahunan dengan para perwira militer Rusia tingkat atas, seperti dikutip euronews, Kamis (18/12/2025).

VladimirPutin juga kembali menyalahkan Barat atas perang Rusia-Ukraina, dan mengancam akan terus melancarkan invasi skala penuhnya.

Vladimir Putin mengatakan Moskow akan berusaha memperluas keuntungannya di Ukraina, jika Kyiv dan sekutu Barat-nya menolak tuntutan Kremlin dalam perundingan damai.

Vladimir Putin menolak kemungkinan Kremlin menerima rencana perdamaian yang telah diubah, yang dipimpin Amerika Serikat (AS), untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina.

Moskow, kata Putin, lebih memilih mencapai tujuannya dan menghilangkan akar penyebabnya melalui cara diplomatik.

“Tetapi jika pihak lawan dan para pendukung asingnya menolak terlibat dalam dialog substantif, Rusia akan mencapai pembebasan tanah bersejarahnya melalui cara militer,” tegasnya.

Akar penyebab petang Rusia-Ukraina, menurut Putin, termasuk aspirasi Ukraina untuk bergabung dengan Uni Eropa dan NATO, dugaan pelanggaran komitmen NATO untuk tidak melakukan ekspansi ke timur, dugaan diskriminasi Kyiv terhadap etnis Rusia, dan apa yang disebut Putin sebagai denazifikasi Ukraina.

Putin dan pejabat Rusia lainnya menggunakan argumen ini untuk membenarkan invasi skala penuh ke Ukraina pada Februari 2022.

BACA JUGA: AS Janjikan Respons Militer Jika Rusia Serang Ukraina Lagi

Putin menyalahkan Barat atas perang Moskow melawan Ukraina, dengan mengatakan Barat lah yang memulai perang tersebut.

Putin secara khusus menyalahkan pemerintahan AS sebelumnya di bawah Presiden Joe Biden, karena memulai perang habis-habisan Rusia.

Ia mengatakan sekutu Washington di Eropa bergabung dengan tindakan pemerintahan AS saat itu, dalam apa yang digambarkan Putin sebagai upaya mendapatkan keuntungan dari kemungkinan runtuhnya Rusia.

“Babi-babi Eropa ingin berpesta atas runtuhnya Rusia,” cetusnya, menggunakan istilah podsvinki yang tidak umum, sebuah kata yang sebelumnya digunakan oleh mantan Presiden Dmitry Medvedev sebagai hinaan terhadap demokrasi Barat.

“Segera setelah runtuhnya Uni Soviet, tampaknya kami akan segera menjadi anggota dari apa yang disebut keluarga beradab bangsa-bangsa Eropa.”

“Hari ini ternyata tidak ada peradaban di sana, hanya degradasi total,” ucapnya.

Meskipun dia berharap Eropa akan kembali berdialog dengan Moskow, skenario ini tidak mungkin terjadi dengan elite Eropa saat ini.

Putin mengatakan ini merujuk pada kemungkinan kecil para pemimpin Eropa memulihkan dialog dengan Rusia dengan syarat-syarat Moskow, dan berpihak pada tuntutan Rusia.

“Tidak mungkin hal ini terjadi dengan elite politik saat ini.”

“Tetapi bagaimanapun, itu akan menjadi tak terhindarkan karena kita terus memperkuat posisi kita.”

“Jika tidak dengan politisi saat ini, maka ketika elite politik di Eropa berubah,” harapnya.

Oreshnik Segera Bertugas

Putin mengungkapkan, rudal balistik jarak menengah Oreshnik yang berkemampuan nuklir baru Rusia, bakal secara resmi memasuki tugas tempur bulan ini.

Rusia pertama kali menguji versi Oreshnik yang dipersenjatai secara konvensional untuk menyerang pabrik Ukraina di Dnipro, pada November 2024, dan Putin membanggakan rudal tersebut tidak mungkin dicegat.

Rudal hipersonik dengan kode nama Oreshnik, berarti pohon hazel dalam Bahasa Rusia.

Putin menggambarkan serangan di Dnipro sebagai uji coba yang sukses, dan menggambarkan penggunaan pertama rudal tersebut dalam pertempuran sebagai peringatan kepada AS dan Inggris.

Sebab, dua sekutu NATO itu mempertimbangkan menyediakan Ukraina dengan senjata jarak jauh yang mampu menyerang jauh ke dalam Rusia.

Bulan lalu, Putin mengatakan Rusia mulai bergerak menuju produksi massal Oreshnik, setelah sebelumnya menggembar-gemborkan daya hancurnya yang sebanding dengan senjata nuklir, dan mengeklaim rudal tersebut tidak dapat dicegat.

BACA JUGA: Isu Wilayah Jadi Hambatan Utama Negosiasi Damai Rusia-Ukraina

Beberapa pakar menyatakan skeptisisme terhadap klaim tersebut.

“Pada akhir tahun ini, sistem rudal jarak menengah baru dengan rudal hipersonik Oreshnik akan mulai bertugas dalam pertempuran,” ungkap Putin.

Rusia juga berencana mengerahkan rudal tersebut ke negara tetangga; Belarusia, yang berbatasan dengan Ukraina, dan negara-negara anggota NATO.

Presiden Belarusia Alexander Lukashenko bulan lalu mengatakan, rudal Oreshnik akan mulai bertugas di Minsk pada akhir 2025.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky telah mengingatkan, jangkauan rudal tersebut menimbulkan ancaman bagi Eropa, dan telah mendesak pemerintah Barat menjatuhkan sanksi kepada perusahaan-perusahaan Rusia yang terlibat dalam pengembangannya.

Di sisi lain, Putin memuji perang habis-habisan Moskow terhadap Ukraina, mengatakan berkat invasi skala penuh, Rusia telah mendapatkan kembali kedaulatan penuhnya dan menjadi negara berdaulat dalam setiap arti kata.

“Kita telah mendapatkan kembali status ini,” tegas Putin.

Rusia menjadi negara berdaulat sejak mendeklarasikannya pada Juni 1990, menjelang pembubaran Uni Soviet pada Desember 1991. (*)

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like