Donald Trump Kembali Tegaskan Amerika Sangat Butuh Greenland

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membantah berambisi mencaplok Greenland, demi menguasai mineral tanah jarang. Foto: igihe.com

NarayaPost – Nafsu Amerika Serikat (AS) merebut wilayah kedaulatan negara lain tanoaknya semakin besar.

Setelah menyerbu Venezuela dan menculik Presiden Nicolas Maduro, Presiden AS Donald Trump juga mengaku mengincar Presiden Kolombia Gustavo Petro.

Tak cuma di kawasan Amerika Latin, AS juga mengincar wilayah di Eropa.

Trump menegaskan, AS membutuhkan Greenland yang berada di wilayah kedaulatan Denmark, untuk pertahanan.

Kata Trump, Venezuela mungkin bukan negara terakhir yang menjadi sasaran intervensi AS.

“Kami memang membutuhkan Greenland, sangat membutuhkan,” ungkap Trump dalam wawancara telepon dengan Majalah The Atlantic, Minggu (4/1/2026).

BACA JUGA: Profil Nicolas Maduro dan Cilia Flores yang Didakwa Narkoteroris

Greenland adalah sebuah pulau yang terletak di Arktik, dan merupakan bagian dari Denmark.

“Terserah pihak lain menilai apa arti serangan besar-besaran AS terhadap Venezuela bagi Greenland.”

“Mereka harus menilainya sendiri. Saya benar-benar tidak tahu.”

“Anda tahu, saat itu saya tidak merujuk pada Greenland.”

“Tetapi kami memang membutuhkan Greenland, sangat membutuhkan.”

“Kami membutuhkannya untuk pertahanan,” tutur Trump.

BACA JUGA: Iran Desak PBB Bertindak Sikapi Agresivitas Amerika

Merespons pernyataan Trump, Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen menegaskan, AS tidak memiliki hak menganeksasi Greenland.

Dia juga mendesak Washington menghentikan ancaman terhadap sekutu dekat dan rakyat Greenland.

“Saya harus menyampaikannya secara langsung kepada AS,” ucapnya dalam sebuah pernyataan.

Frederiksen menolak gagasan AS perlu mengambil alih Greenland.

Dia juga menekankan, AS tidak memiliki hak untuk menganeksasi salah satu dari tiga bagian Kerajaan Denmark, yaitu Denmark, Greenland, dan Kepulauan Faroe.

Sepanjang tahun lalu, Trump cukup sering mengulang seruan yang sama agar AS mengambil alih Greenland, yang memicu penolakan keras dari Greenland, Denmark, dan Uni Eropa (UE).

Pemerintahan Trump mengutip kombinasi antara masalah keamanan nasional, strategi Arktik, serta potensi mineral dan sumber daya alam krusial sebagai faktor pendorong kepentingan AS dalam menguasai Greenland.

Trump sebelumnya mengatakan AS akan mengelola Venezuela, setelah menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro beserta istrinya.

Komunitas internasional sangat terkejut atas penyerbuan militer yang dilakukan pemerintahan Trump terhadap Venezuela dan Maduro.

Banyak negara telah mengeluarkan pernyataan yang mengecam keras penggunaan kekuatan secara terang-terangan terhadap sebuah negara yang berdaulat, dan tindakan terhadap presidennya.

Hormati Kedaulatan Negara Lain

Menteri Luar Negeri Norwegia Espen Barth Eide menyatakan, kedaulatan negara-negara harus dihormati, usai Presiden AS Donald Trump kembali menegaskan AS membutuhkan Greenland.

“Fakta dia (Trump) mengulangi pernyataannya mengingatkan kita betapa pentingnya membela prinsip-prinsip fundamental.”

“Sebuah negara harus menghormati kedaulatan negara lainnya,” tegas Eide kepada stasiun televisi Norwegia NRK dalam sebuah wawancara.

Norwegia, seperti negara-negara Eropa lainnya, kata Eide, berdiri dalam solidaritas di sisi Denmark, dan setiap perubahan internal di Kerajaan Denmark akan menjadi wewenang rakyat Denmark dan Greenland, bukan pihak lain.

Eide juga menegaskan, tidak ada hubungan langsung antara intervensi AS di Venezuela dengan Denmark atau Greenland, mengutip konteks sejarah yang berbeda.

Bulan lalu, Donald Trump mengumumkan penunjukan Gubernur Louisiana Jeff Landry sebagai utusan khusus AS untuk Greenland, yang kembali memicu ketegangan diplomatik antara Washington dan Kerajaan Denmark.

Sejak menjabat pada Januari 2025, Trump telah berulang kali menunjukkan minatnya mengambil alih kendali Greenland, dengan mengatakan dirinya tidak akan mengesampingkan penggunaan paksaan militer atau ekonomi untuk mencapai tujuan tersebut.

Senada, Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen menegaskan negaranya tidak dijual.

“Greenland tidak untuk dijual,” tegas Nielsen.

Greenland, lanjutnya, adalah masyarakat demokratis dengan pemerintahan sendiri, pemilihan umum yang bebas, dan lembaga-lembaga yang kuat.

Greenland merupakan wilayah otonom Denmark dengan populasi sekitar 57.000 jiwa.

Greenland menempati posisi strategis antara Amerika Utara dan Eropa.

Greenland merupakan koloni Denmark hingga tahun 1953, ketika statusnya diubah menjadi distrik Denmark.

Namun, negara ini memiliki hak untuk mendeklarasikan kemerdekaan berdasarkan perjanjian tahun 2009. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like