Donald Trump Lagi Agresif, Amerika Kebut Produksi Senjata

Amerika Serikat akan memperketat pengawasan terhadap alih kepemilikan senjata buatan negara itu dari pembeli ke pihak ketiga. Foto: theintercept.com
750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengungkapkan, negaranya bakal mulai memproduksi senjata lebih cepat, dan mengadopsi sikap yang lebih tegas terhadap perusahaan dalam produksi pertahanan.

“Tidak ada negara yang memiliki kualitas senjata seperti kami.”

“Masalahnya adalah kami tidak memproduksinya cukup cepat.”

“Kami akan mulai memproduksinya jauh lebih cepat.”

“Kami akan sangat tegas terhadap perusahaan-perusahaan tersebut,” kata Trump di pertemuan Anggota DPR AS dari Partai Republik, Selasa (6/1/2026).

Trump menekankan, sekutu AS ingin membeli senjata tersebut, tetapi mereka harus menunggu terlalu lama untuk mendapatkannya.

Pernyataan Trump ini muncul di tengah agresivitas AS terhadap negara lain.

Setelah menculik Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Trump juga mengancam kedaulatan Kolombia, Iran, dan Greenland.

Tujuh Tentara AS Terluka

Tujuh tentara AS terluka selama operasi penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro.

Mengutip seorang pejabat AS yang tidak disebutkan namanya, Fox News pada Rabu (7/1/2026) melaporkan lima prajurit telah kembali bertugas, sementara dua lainnya masih dalam masa pemulihan.

Presiden AS Donald Trump mengatakan semua warganya yang terluka selama operasi di Venezuela berada dalam kondisi baik.

Namun, jumlah resmi korban luka serta kondisi mereka belum diungkapkan.

Maduro dan istrinya, Cilia Flores, dilaporkan mengalami luka ketika mereka membentur dinding atau pintu saat pasukan keamanan AS membawa mereka keluar dari kediaman mereka, menurut laporan NBC yang mengutip sumber-sumber yang mengetahui masalah tersebut.

Cedera tersebut terjadi sebelum Maduro dan istrinya melakukan kontak dengan Pasukan Khusus Delta AS.

BACA JUGA: Diancam Trump, Presiden Venezuela Ajak Amerika Kolaborasi

Stasiun TV tersebut, mengutip sumber terkait, hanya melaporkan keduanya mengalami memar dan benturan yang kemungkinan disebabkan oleh terbentur pintu atau dinding.

Pasangan tersebut kemudian menjalani pemeriksaan medis di dalam pesawat, kata sumber lain.

Pada 3 Januari, AS menyerang Venezuela yang berujung pada penangkapan Maduro dan istrinya.

Pasangan itu diterbangkan ke New York untuk diadili berdasarkan hukum AS atas tuduhan narkoterorisme.

Pada Senin (5/1/2026), Mahkamah Agung Venezuela untuk sementara waktu mengalihkan jabatan presiden kepada Wakil Presiden Delcy Rodríguez, yang kemudian dilantik di hadapan Majelis Nasional.

Ayatollah Ali Khamenei Diancam

Senator Amerika Serikat (AS) Lindsey Graham mengingatkan, Presiden AS Donald Trump akan membunuh Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, jika pemerintah Iran terus menindak keras para pengunjuk rasa yang menuntut kehidupan yang lebih baik.

“Kepada para Ayatollah, kalian harus memahami ini, jika kalian terus membunuh rakyat kalian yang menuntut kehidupan yang lebih baik, Donald J Trump akan membunuh kalian,” kata Graham dalam wawancara dengan Fox News, Selasa.

Graham mengatakan, perubahan akan datang ke Iran, yang ia gambarkan sebagai pergeseran terbesar dalam sejarah Timur Tengah untuk menyingkirkan rezim Nazi.

“Kepada rakyat Iran, bantuan sedang menuju ke sana,” tambahnya.

Iran dalam beberapa pekan terakhir diguncang aksi protes besar-besaran di tengah memburuknya kondisi ekonomi dan melemahnya nilai tukar rial, yang telah melampaui 1.350.000 per dolar AS.

Sejumlah insiden kekerasan juga dilaporkan terjadi, dengan beberapa korban tewas, termasuk pengunjuk rasa dan aparat kepolisian di berbagai kota.

BACA JUGA: Usai Nicolas Maduro, Trump Bidik Gustavo Petro

Peringatan Graham disampaikan setelah Khamenei mengakui tuntutan para pengunjuk rasa bersifat wajar, namun menegaskan aksi kerusuhan tidak akan ditoleransi.

Pemerintah Iran telah menggelar beberapa putaran pembicaraan dengan perwakilan para pedagang dan pemilik toko untuk meredakan situasi, yang disebut telah berkembang semakin buruk, terutama di ibu kota Teheran.

Trump sebelumnya mengatakan Washington akan datang untuk menyelamatkan para pengunjuk rasa, jika Teheran menggunakan kekuatan mematikan terhadap mereka.

Pernyataan tersebut memicu reaksi keras dari para pejabat tinggi Iran. (*)

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like