NarayaPost – Negara-negara Eropa berupaya membujuk Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, agar tak mencaplok demi alasan keamanan.
Caranya, dengan menguatkan kehadiran NATO di kawasan Arktik.
Pada 3 Januari, Trump mengatakan AS sangat membutuhkan Greenland, dengan alasan pulau tersebut dikepung kapal Rusia dan Cina.
Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen langsung mendesak Trump menghentikan ancaman aneksasi terhadap Greenland, wilayah otonom yang berada dalam Kerajaan Denmark.
Dalam pertemuan tertutup para duta besar NATO di Brussel, Kamis, negara-negara anggota sepakat perlunya memperkuat postur aliansi di kawasan Arktik, kata tiga diplomat NATO kepada Politico.
Para diplomat itu menambahkan, negara-negara Eropa memandang pencarian kompromi dengan Trump sebagai opsi pertama dan yang paling diinginkan.
BACA JUGA: Amerika Mengaku Ingin Beli Greenland, Bukan Menginvasi
Secara khusus, pertemuan tersebut membahas berbagai opsi, termasuk pemanfaatan kemampuan intelijen untuk meningkatkan pemantauan wilayah, peningkatan belanja pertahanan Arktik, pengerahan lebih banyak peralatan militer, serta penambahan latihan militer di kawasan sekitar.
Salah satu sumber menyebut pertemuan yang dihadiri 32 utusan aliansi itu berlangsung dalam suasana produktif dan konstruktif.
Trump berulang kali menyatakan Greenland seharusnya menjadi bagian dari AS, dengan menyoroti nilai strategis pulau tersebut bagi keamanan nasional dan pertahanan dunia bebas dari Cina dan Rusia.
Mantan Perdana Menteri Greenland Mute Egede menegaskan pulau itu tidak dijual.
Pada 4 Januari, Katie Miller, istri Wakil Kepala Staf Gedung Putih Stephen Miller, mengunggah gambar peta Greenland berwarna bendera AS di platform X dengan keterangan SOON.
Menanggapi unggahan itu, Duta Besar Denmark untuk AS Jesper Moller Sorensen mengatakan, Kopenhagen mengharapkan penghormatan terhadap keutuhan wilayah kerajaan.
BACA JUGA: Donald Trump Kembali Tegaskan Amerika Sangat Butuh Greenland
Perdana Menteri Greenland saat ini, Jens-Frederik Nielsen, menyebut gambar tersebut tidak sopan.
Pada Desember lalu, Trump menunjuk Gubernur Louisiana Jeff Landry sebagai utusan khusus untuk Greenland.
Landry kemudian menegaskan kembali tujuan AS untuk menjadikan pulau tersebut bagian dari wilayahnya.
Menteri Luar Negeri Denmark Lars Lokke Rasmussen mengaku terkejut dan mengecam pernyataan Landry tersebut.
Frederiksen bersama Nielsen memperingatkan ASerikat agar tidak melakukan pengambilalihan, seraya menuntut penghormatan atas keutuhan wilayah bersama Denmark dan Greenland.
Greenland merupakan koloni Denmark hingga 1953.
Pulau terbesar di dunia itu tetap menjadi bagian dari Kerajaan Denmark setelah memperoleh otonomi pada 2009, dengan kewenangan mengatur pemerintahan sendiri dan menentukan kebijakan domestik.
Tak Ingin Dibeli
Denmark dan Greenland berupaya meyakinkan para anggota parlemen AS, Greenland tidak ingin dibeli oleh AS, dan Kopenhagen tidak memiliki kepentingan untuk menjual wilayah tersebut.
Associated Press, Kamis (8/1/2026), melaporkan para penasihat Presiden AS Donald Trump menggelar pertemuan dengan perwakilan Denmark dan Greenland di Gedung Putih.
Pertemuan tersebut digelar terkait pernyataan AS mengenai kemungkinan mengambil alih kendali atas Greenland.
Politico yang mengutip seorang diplomat Uni Eropa melaporkan, sebagian besar diplomasi berlangsung secara tertutup.
Duta Besar Denmark untuk AS Jesper Moller Sorensen bersama perwakilan Greenland di Washington, Jacob Isbosethsen, disebut terlibat dalam perdebatan sengit dengan para anggota parlemen di Capitol Hill.
Kedua utusan itu disebut berupaya meyakinkan sebanyak mungkin anggota parlemen, Greenland tidak ingin dibeli oleh AS dan Denmark tidak tertarik pada kesepakatan semacam itu.
Pejabat Denmark dijadwalkan menggelar pertemuan resmi dan memberikan pembaruan terkait isu tersebut dalam pertemuan para duta besar Uni Eropa pada Jumat, kata dua diplomat Eropa kepada Politico.
Sementara, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada Rabu (7/1/2026) berencana bertemu dengan otoritas Denmark pekan depan, untuk membahas situasi seputar Greenland.
Cegah Rusia
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer bersama Presiden AS Donald Trump membahas kebutuhan untuk mencegah Rusia di wilayah Arktik, kata Kantor Perdana Menteri dalam sebuah pernyataan pada Kamis (8/1/2026).
“Kedua pemimpin membahas keamanan Euro-Atlantik dan sepakat tentang perlunya mencegah Rusia di Kutub Utara.”
“Sekutu Eropa telah meningkatkan upaya dalam beberapa bulan terakhir untuk membela kepentingan Euro-Atlantik, tetapi lebih banyak yang dapat dilakukan untuk melindungi wilayah tersebut,” kata pernyataan itu.
Pernyataan itu menyebutkan, kedua pemimpin berharap dapat segera berbicara lagi.
Starmer juga berbicara dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte pada Kamis malam tentang perlunya menghalangi Rusia di Kutub Utara, kata Downing Street dalam pernyataan terpisah.
“Sekretaris Jenderal kemudian memberikan informasi terbaru tentang pertemuan Dewan Atlantik Utara pagi ini.”
“Mereka sepakat ada lebih banyak upaya yang perlu dilakukan untuk mencegah Rusia di Kutub Utara,” imbuh pernyataan tersebut.
Dalam beberapa tahun terakhir, Rusia telah menyoroti aktivitas NATO yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan adanya peningkatan pasukan di dekat perbatasan baratnya.
Kremlin menyatakan Rusia tidak mengancam siapa pun, tetapi tidak akan mengabaikan tindakan yang berpotensi membahayakan kepentingannya. (*)