NarayaPost – Usai laga sarat gengsi antara Persib Bandung dan Persija Jakarta digelar di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Minggu (11/1), ada cerita di luar lapangan yang mencuri perhatian publik. Salah satu sorotan utama tertuju pada gelandang Persib, Thom Haye, yang mengaku menerima ancaman pembunuhan setelah pertandingan berakhir. Ancaman tersebut bahkan turut menyasar keluarganya, sehingga memunculkan keprihatinan luas terhadap iklim sepak bola nasional.
Dalam pertandingan yang kerap dijuluki sebagai El Clasico Indonesia itu, Persib Bandung berhasil mengamankan kemenangan tipis 1-0 atas rival abadinya, Persija Jakarta. Thom Haye tampil sebagai salah satu figur penting dalam kemenangan Maung Bandung, dengan kontribusi signifikan di lini tengah yang membantu menjaga keseimbangan permainan sepanjang laga. Kemenangan tersebut sekaligus menjadi momen istimewa bagi Haye, karena merupakan debutnya dalam duel klasik Persib kontra Persija sejak bergabung pada awal musim.
Sepanjang pertandingan, pemain berusia 30 tahun itu terlihat menunjukkan emosi yang cukup kuat. Intensitas tinggi laga, tekanan suporter, serta kerasnya duel di lapangan membuat atmosfer pertandingan terasa berbeda dibandingkan laga-laga lain. Emosi yang diperlihatkan Haye ternyata bukan tanpa alasan. Seusai pertandingan, ia mengungkapkan pengalamannya melalui unggahan di media sosial yang memberikan gambaran lebih dalam mengenai perasaannya selama dan setelah laga berlangsung.
BACA JUGA: Pengakuan Israel Atas Somaliland Ditolak Oleh Indonesia
Dalam unggahan tersebut, Thom Haye menyampaikan kekagumannya terhadap atmosfer pertandingan Persib kontra Persija. Ia menilai gairah suporter dan semangat yang ditunjukkan di stadion menjadi bukti nyata bahwa sepak bola Indonesia memiliki potensi besar untuk berkembang lebih jauh. “Saya benar-benar percaya sepak bola Indonesia memiliki potensi. Semangat dan atmosfernya istimewa,” tulisnya, menegaskan pandangannya mengenai kekuatan emosional yang dimiliki kompetisi domestik.
Meski demikian, Haye juga menyoroti sisi lain dari pertandingan yang menurutnya patut menjadi bahan refleksi bersama. Ia menyebut bahwa laga berjalan sangat keras dan diwarnai sejumlah perilaku yang dinilai tidak sportif. Menurutnya, sikap tidak saling menghormati serta pelanggaran-pelanggaran yang tidak perlu justru merusak kualitas permainan, terlebih dalam pertandingan besar yang seharusnya menjadi etalase terbaik sepak bola nasional.
Pernyataan tersebut menjadi pengantar bagi pengakuan yang lebih serius dan mengkhawatirkan. Di bagian akhir unggahannya, Thom Haye mengungkap pengalaman pahit yang dialaminya usai pertandingan. Ia mengaku menerima pesan-pesan berisi ancaman kematian, bahkan disertai kata-kata mengerikan yang ditujukan tidak hanya kepada dirinya, tetapi juga kepada anggota keluarganya.
“Saya bisa menerima banyak hal sebagai seorang profesional, tetapi saya ingin dengan hormat meminta orang-orang yang mengirimkan harapan kematian dan pesan-pesan mengerikan kepada keluarga saya untuk berhenti,” tulis Haye. Ia menegaskan bahwa batas antara rivalitas dan kekerasan verbal semacam itu tidak seharusnya dilanggar dalam dunia olahraga. “Sepakbola seharusnya tidak pernah sampai sejauh itu,” lanjutnya.
BACA JUGA: Menlu Kuba: Kami Takkan Menyerah pada Ancaman Amerika
Pengakuan tersebut memicu respons luas dari berbagai pihak, mulai dari sesama pemain, pengamat sepak bola, hingga warganet yang menyayangkan masih adanya ancaman kekerasan dalam iklim kompetisi. Banyak pihak menilai kejadian ini menjadi cerminan bahwa pembenahan budaya suporter dan penegakan etika dalam sepak bola Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah besar.
Di akhir pesannya, Thom Haye mengajak semua elemen sepak bola nasional untuk bersama-sama menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan aman. Ia menekankan bahwa sepak bola idealnya menjadi ruang hiburan, persatuan, dan kebanggaan bersama, bukan sumber ketakutan atau ancaman. Ajakan tersebut ditujukan kepada pemain, suporter, serta seluruh pemangku kepentingan demi masa depan sepak bola Indonesia yang lebih baik dan beradab.
Kisah yang dialami Thom Haye usai laga ini menjadi pengingat bahwa rivalitas sengit di lapangan harus tetap dibingkai dalam sportivitas, saling menghormati, dan kemanusiaan. Tanpa itu, keindahan sepak bola sebagai olahraga rakyat berisiko ternodai oleh tindakan-tindakan yang justru merugikan semua pihak.