NarayaPost – Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung pemulihan masyarakat pascabencana melalui pembangunan hunian sementara (huntara). Setelah menyelesaikan pembangunan rumah sementara di Aceh Tamiang, upaya tersebut kini berlanjut ke wilayah Aceh Timur sebagai bagian dari tahap kedua program penanganan bencana. Langkah ini diharapkan mampu memberikan tempat tinggal yang aman, layak, dan manusiawi bagi warga yang kehilangan rumah akibat bencana alam.
Pembangunan lanjutan ini menjadi bagian dari kesinambungan kebijakan pemerintah dalam memastikan korban bencana tidak terlalu lama berada dalam kondisi darurat. Hunian sementara diposisikan sebagai solusi transisi sebelum masyarakat dapat kembali menempati rumah permanen. Salah satu BUMN yang terlibat aktif dalam proyek ini adalah PT Hutama Karya (Persero).
Perusahaan tersebut sebelumnya dinilai berhasil menyelesaikan pembangunan huntara di Aceh Tamiang dengan kualitas yang baik dan waktu pengerjaan yang relatif cepat, sehingga kembali dipercaya untuk berkontribusi di Aceh Timur.
BACA JUGA: Ancaman Baru Trump Bagi yang Tak Dukung AS Rebut Greenland
Di Aceh Timur, Hutama Karya bersama sejumlah BUMN Karya lainnya membangun total 45 unit rumah sementara yang tersebar di dua desa. Pembangunan tersebut ditujukan untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggal warga terdampak bencana sekaligus memastikan pemerataan bantuan hunian di wilayah timur Provinsi Aceh.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 35 unit didirikan di Desa Arakundo, Kecamatan Simpang Ulim, dengan luas lahan sekitar 960 meter persegi. Sementara 10 unit lainnya dibangun di Desa Seumatang, Kecamatan Julok Ulim, di atas lahan kurang lebih 495 meter persegi.
Seluruh hunian sementara tersebut dirancang tidak hanya sebagai tempat berteduh, tetapi juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung. Fasilitas umum seperti toilet, musala, serta dapur umum turut disiapkan guna menunjang aktivitas sehari-hari warga selama masa transisi. Kehadiran fasilitas tersebut diharapkan mampu membantu masyarakat membangun kembali rutinitas sosial dan kehidupan bersama secara bertahap.
Executive Vice President Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Mardiansyah, menyampaikan bahwa hingga pertengahan Januari 2026 progres pembangunan di kedua desa tersebut telah mencapai 97 persen. Ia menjelaskan bahwa struktur utama bangunan telah rampung, sementara pekerjaan saat ini difokuskan pada tahap akhir berupa finishing dan perapihan. Selain memberikan manfaat berupa hunian, proyek ini juga memberi dampak ekonomi positif bagi warga sekitar melalui pelibatan tenaga kerja lokal selama proses pembangunan.
Setelah seluruh pekerjaan dinyatakan selesai, pemerintah daerah akan mengambil peran dalam mengoordinasikan pemanfaatan hunian sementara tersebut agar dapat segera ditempati oleh warga yang membutuhkan.
Sementara itu, upaya pemulihan pascabencana di Aceh Tamiang juga terus dilakukan oleh berbagai pihak, termasuk Tentara Nasional Indonesia (TNI). Tidak hanya fasilitas umum, rumah warga yang terdampak banjir, khususnya milik lanjut usia, menjadi perhatian utama. Salah satunya adalah rumah milik nenek Iyem di Dusun Ingin Jaya, Desa Perkebunan Pulau Tiga, Kecamatan Tamiang Hulu.
BACA JUGA: Bulan Depan Presiden Kolombia Temui Trump di Gedung Putih
Sejumlah personel TNI dari Satuan Setingkat Kompi (SSK) 1 Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan 852/Alap Berang Binjai (Yonif TP 852/ABY) bergotong royong membersihkan rumah tersebut dari tumpukan lumpur.
Dengan menggunakan sekop, gerobak sorong, serta penyemprotan air, personel TNI berupaya membersihkan lumpur yang menempel di lantai, dinding, hingga gorong-gorong. Hingga Jumat (16/1), progres pembersihan di rumah nenek Iyem telah mencapai sekitar 60 persen. Selain itu, personel TNI juga membersihkan rumah kakek Robin yang berada di dusun yang sama. Hampir separuh rumah Robin tertimbun lumpur yang sudah mengeras, dan hingga tanggal yang sama, progres pembersihan telah mencapai 80 persen.
Berdasarkan catatan Kementerian Dalam Negeri, hingga 14 Januari 2026 total rumah rusak akibat bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat mencapai 175.050 unit. Jumlah tersebut terdiri atas 75.653 unit rusak ringan, 45.085 unit rusak sedang, dan 53.412 unit rusak berat. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyatakan bahwa fasilitas umum di wilayah terdampak mulai berangsur pulih dan roda pemerintahan daerah kembali berjalan normal, dengan layanan kesehatan menjadi sektor yang paling awal pulih.