Narayapost.com — Rabu lalu, pasar keuangan Indonesia kembali menunjukkan dinamika yang menarik: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat, bahkan naik signifikan dalam sesi perdagangan, sementara nilai tukar rupiah justru melemah terhadap dolar Amerika Serikat dan mata uang global lain.
Fenomena IHSG menguat tapi rupiah melemah ini menarik perhatian pelaku pasar dan analis karena menunjukkan pergerakan yang tidak selalu sejalan antara pasar saham dan pasar valuta.
BACA JUGA : Banjir Sumatra dan Bencana Ketertutupan Informasi
“Menurut saya penguatan IHSG di tengah pelemahan rupiah terbilang wajar karena kedua instrumen ini digerakkan oleh faktor yang berbeda. Nilai tukar rupiah sensitif terhadap arah suku bunga global terutama AS, kekuatan USD dan arus modal asing,” ungkap Reydi kepada wartawan, Senin.
“Yang perlu dicermati apabila pelemahan rupiah berlanjut dan melemah terlalu dalam, hal ini akan merembet ke yield obligasi, ekspektasi suku bunga dan tentu akan berpotensi menekan sektor keuangan secara lebih luas,” jelasnya.
“Pasar EM memang karakteristik sebagai pasar yang volatile dan belum bisa dikategorikan solid atau mapan, secara market cap IHSG yang masih di bawah US$ 1 triliun juga masih tergolong kecil,” jelasnya.
Lukman menambahkan, IHSG ditopang saham-saham spekulatif dibanding emiten-emiten blue chip. Meski begitu, harga saham Indonesia secara umum lebih rendah seiring melemahnya rupiah terhadap dolar AS.
“Sebenarnya pelemahan rupiah membuat harga saham-saham di Indonesia menjadi lebih murah dalam dolar AS. Namun kenaikan pada IHSG cenderung mendompleng sentimen risk on global. Namun, kenaikan IHSG lebih banyak didukung oleh saham-saham spekulatif, sedangkan blue chip umumnya hanya sedikit lebih tinggi,” pungkasnya.
Salah satu fenomena yang menjelaskan ketidaksesuaian antara IHSG dan nilai tukar rupiah adalah pergeseran struktur kepemilikan saham. Dalam beberapa periode, kenaikan IHSG ditopang oleh aksi beli investor domestik terutama investor ritel dan institusi lokal sementara investor asing tidak banyak melakukan konversi besar ke rupiah untuk berpartisipasi. Situasi ini menciptakan kondisi di mana IHSG bisa menguat namun tidak ada tekanan kuat pada nilai tukar dari sisi pembelian rupiah.
Pergerakan modal asing juga ikut memengaruhi harga valas. Jika investor global menahan diri atau bahkan menarik modal dari aset dalam negeri untuk kebutuhan lain, maka permintaan terhadap rupiah turun, membuat kurs melemah. Pola inilah yang sering terlihat dalam tren jangka pendek dan menjelaskan kenapa pasar saham dan nilai tukar tidak selalu bergerak serempak.
BACA JUGA : Jadi Anggota Dewan Perdamaian Gaza Harus Bayar Rp16,8 Triliun
Selain dinamika pasar domestik, kondisi ekonomi global dan kebijakan moneter negara besar seperti Amerika Serikat ikut berperan. Kebijakan suku bunga Bank Sentral AS, pertumbuhan ekonomi dunia, serta ketidakpastian geopolitik dapat membuat investor mempertimbangkan kembali strategi alokasi asetnya. Di saat pasar saham domestik tetap menarik, nilai tukar rupiah bisa tertekan akibat kekuatan dolar AS yang lebih dominan di pasar internasional.
Bank Indonesia juga terkadang melakukan intervensi untuk menstabilkan kurs rupiah, termasuk di pasar valuta asing, namun intervensi ini perlu dilakukan secara hati-hati agar sesuai dengan fundamental ekonomi nasional dan bisa menjamin stabilitas jangka panjang. Meski demikian, tekanan rupiah bisa timbul dari selisih suku bunga antar negara atau dari arus modal keluar yang tidak langsung tercerminkan pada pasar saham.