Israel Tak Siap, Amerika Batal Serang Iran

750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost Amerika Serikat (AS) dikabarkan batal menyerang Iran pekan ini, karena Israel tidak siap.

Mengutip pejabat AS dan Israel, Axios melaporkan keputusan tersebut diambil Presiden AS Donald Trump, setelah pemimpin Israel Benjamin Netanyahu menyatakan pihaknya belum siap menghadapi serangan balasan dari Iran.

AS disebut tidak memiliki kekuatan militer yang memadai di Timur Tengah, untuk membantu mencegat rudal dan pesawat nirawak (drone) Iran.

Jika dilakukan saat ini, Netanyahu menilai serangan AS tidak akan cukup efektif dan tidak akan membawa hasil yang diinginkan, ungkap Axios mengutip seorang penasihat Netanyahu.

Percakapan telepon kedua pemimpin itu dilakukan pekan lalu, ketika Trump dikabarkan akan mempertimbangkan serangan udara terhadap Iran.

Dalam percakapan terpisah dengan Trump, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman juga menolak rencana serangan tersebut, karena dikhawatirkan akan mengganggu stabilitas di kawasan.

BACA JUGA: Menlu Iran: Fasilitas Bisa Dihancurkan, tapi Tekad Tak Bisa Dibom

Trump akhirnya membatalkan rencananya menyerang Iran karena faktor-faktor itu, apalagi negosiasi dengan Iran lewat jalur komunikasi rahasia masih berlangsung.

Kombinasi kemajuan diplomatik, hambatan logistik, dan penolakan signifikan dari sekutu regional utama, menjadi faktor Trump membatalkan serangan.

“Situasinya sangat genting.”

“Militer berada dalam posisi untuk melakukan sesuatu dengan sangat cepat,” ungkap seorang pejabat AS, Minggu (18/1/2026), menggambarkan intensitas situasi.

Pemerintah dan berbagai negara Timur Tengah mengharapkan operasi segera setelah pertemuan Hari Selasa, namun perintah tersebut tidak pernah datang.

Trump awalnya mempersempit opsi militer terhadap target Iran, tetapi ragu-ragu karena komplikasi muncul.

BACA JUGA: Iran Menunggu Aksi Trump

Salah satu alasan yang memengaruhi pembatalan tersebut adalah pergeseran aset militer AS ke Karibia dan Asia yang membuat Timur Tengah tidak cukup siap.

Para pejabat mencatat wilayah tersebut belum siap, sehingga membatasi pilihan yang tersedia.

Faktor penentu adalah pertukaran informasi rahasia antara utusan AS Steve Witkoff dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.

Pada Rabu pagi, Araghchi dilaporkan mengirim pesan kepada Witkoff, berkomitmen menghentikan pembunuhan dan menghentikan eksekusi yang dijadwalkan terhadap para demonstran.

Pada Rabu sore, menjadi jelas perintah serangan tidak akan datang, kata para pejabat AS.

Di tengah gelombang protes di Iran, Trump sempat menghentikan seluruh kontak dengan pejabat Iran.

Ia juga menyatakan dukungannya kepada para demonstran, dan membuka kemungkinan mengambil sejumlah langkah terhadap Iran, termasuk serangan udara.

Teheran menilai pernyataan Trump tersebut sebagai ancaman terhadap kedaulatan Republik Islam Iran.

Perang Habis-habisan

Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Minggu (18/1/2026) mengingatkan, setiap serangan terhadap Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei akan dianggap sebagai deklarasi perang habis-habisan terhadap Bangsa Iran.

Pernyataan itu disampaikan oleh Presiden Iran, menyusul pertukaran retorika yang tajam dengan Presiden AS Donald Trump.

Pernyataan Pezeshkian yang diunggah melalui platform media sosial X itu disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan, setelah Trump mengatakan kepada Politico pada Sabtu (17/1/2026), sudah saatnya mencari kepemimpinan baru di Iran.

“Setiap serangan terhadap pemimpin besar kami akan sama dengan perang habis-habisan terhadap bangsa Iran,” tulis Pezeshkian.

Ia juga menyalahkan Washington atas kesulitan ekonomi yang dihadapi negaranya.

Dia menyebut permusuhan yang telah berlangsung lama sertasanksi tidak manusiawi yang dijatuhkan oleh AS dan para sekutunya, sebagai penyebab utama penderitaan rakyat Iran.

Ketegangan diplomatik semakin meningkat sebelumnya pada Sabtu, ketika Khamenei menyebut Trump sebagai seorang penjahat, dan menudingnya bertanggung jawab atas korban jiwa serta kerusakan yang terjadi selama periode kerusuhan dalam negeri baru-baru ini di Iran.

Hubungan antara Teheran dan Washington masih tegang sejak Trump kembali ke Gedung Putih, ditandai dengan kelanjutan kebijakan tekanan maksimum, serta seringnya konfrontasi verbal antara kepemimpinan kedua negara tersebut. (*)

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like