NarayaPost – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengungkapkan, Iran ingin membuat kesepakatan dengan Washington, setelah pengerahan aset militer tambahan oleh AS di kawasan itu, termasuk kapal induk tempur.
Trump mengatakan situasi di Iran sedang berubah-ubah.
“Mereka ingin membuat kesepakatan sekarang, saya tahu itu.”
“Mereka menghubungi beberapa kali untuk berunding,” katanya kepada Axios, Senin (26/1/2026).
AS mengerahkan Gugus Tempur Kapal Induk USS Abraham Lincoln ke Timur Tengah pada Senin, untuk memperkuat posisinya di kawasan tersebut.
“Kapal induk kelas Nimitz memasuki kawasan itu untuk meningkatkan keamanan dan stabilitas regional,” ungkap Komando Pusat AS (CENTCOM) di X.
BACA JUGA: Israel Cari Kesempatan Serang Iran
The New York Times melaporkan, Kapal induk USS Abraham Lincoln akan siap melakukan operasi melawan Iran dalam 1-2 hari.
Pasukan AS juga dilaporkan telah mengirimkan belasan pesawat tempur tambahan untuk memperkuat kelompok penyerang mereka di wilayah tersebut.
Sebelumnya, Fox News melaporkan kelompok tempur kapal induk USS Abraham Lincoln telah memasuki wilayah tanggung jawab CENTCOM di Samudra Hindia.
Pada 22 Januari, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa kapal-kapal Angkatan Laut AS bergerak menuju Iran untuk berjaga-jaga.
Dia menolak memberikan jawaban pasti atas pertanyaan apakah opsi intervensi militer di Iran telah dihapus.
Dia hanya mengatakan dia tidak dapat mengatakan apa yang akan terjadi di masa depan.
UEA Tak Mendukung
Uni Emirat Arab (UEA) tidak mengizinkan penggunaan wilayah udara, teritorial, atau perairannya dalam aksi militer yang bermusuhan terhadap Iran.
Dalam sebuah pernyataan, Kementerian Luar Negeri UEA juga berkomitmen tidak memberikan dukungan logistik apa pun untuk serangan terhadap Tehran.
UEA percaya dialog, de-eskalasi, kepatuhan terhadap hukum internasional, dan penghormatan terhadap kedaulatan negara merupakan fondasi paling efektif untuk mengatasi krisis saat ini, dan menggarisbawahi pendekatan negara Teluk tersebut untuk menyelesaikan perselisihan melalui jalur diplomatik.
Tiga Pesawat Dipindahkan
Setidaknya tiga pesawat Angkatan Udara AS dipindahkan dari Jerman ke negara-negara di Timur Tengah, termasuk Kuwait dan Qatar, dalam dua hari terakhir.
Data Flightradar24, layanan pelacak penerbangan, memperlihatkan sebuah pesawat tanker Boeing KC-135R Stratotanker mendarat di Qatar pada Minggu sekitar pukul 18.23 GMT (Senin, 01.23 WIB).
Kemungkinan besar pesawat itu berangkat dari Pangkalan Udara Angkatan Udara AS Ramstein di Jerman.
BACA JUGA: Iran Ungkap 10 Badan Intelijen Asing di Balik Kerusuhan Maut
Pada Sabtu sekitar pukul 20.40 GMT (Minggu 03.40 WIB), sebuah pesawat angkut militer Boeing C-17A Globemaster III mendarat di Kuwait, dengan titik keberangkatan tercatat dari Trier, Jerman.
Sabtu sekitar pukul 21.54 GMT (Minggu, 04,52 WIB), pesawat C-17A lainnya yang berangkat dari Pangkalan Udara AS Spangdahlem di Jerman menghilang dari radar di wilayah selatan Kuwait.
Berdasarkan data Flightradar24, AS juga mengerahkan pesawat angkut militer Lockheed Martin C-130J Hercules dari Bahrain ke wilayah Kuwait tengah.
Sekitar pukul 01.54 GMT (08.54 WIB) pada 25 Januari, sebuah pesawat tanker KC-135R AS mendarat di Qatar.
Iran Lebih Siap
Iran mengatakan mereka lebih siap dari sebelumnya untuk menanggapi setiap potensi serangan terhadap Iran, seiring meningkatnya ketegangan secara dramatis dengan AS, usai gelombang protes maut di Iran.
Dalam konferensi pers mingguan di Teheran, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menggambarkan situasi tersebut sebagai perang hibrida, merujuk pada perang 12 hari yang terjadi pada Juni 2025, serta aksi protes kekerasan baru-baru ini yang menurut Teheran dipicu oleh AS dan Israel.
Ia mengatakan ancaman dan klaim tanpa dasar terus datang dari AS dan Israel, dengan mengutip pernyataan terbaru Presiden AS Donald Trump serta laporan mengenai kapal-kapal perang AS yang bergerak menuju Teluk Persia.
Baghaei juga menekankan, negara-negara di kawasan memahami ketidakstabilan bersifat menular dan tidak akan terbatas pada Iran saja.
Juru bicara itu menegaskan kekhawatiran bersama di antara negara-negara tetangga Iran mengenai konsekuensi dari setiap serangan militer AS, serta mendesak mereka mengambil sikap yang jelas terhadap ancaman AS.
“Dengan mengandalkan kemampuan dalam negeri serta pengalaman berharga di masa lalu, Iran lebih siap dari sebelumnya dan akan merespons secara komprehensif, tegas, dan dengan cara yang akan disesalkan terhadap setiap potensi agresi,” tegas Baghaei. (*)