Trump: Iran, Buatlah Kesepakatan, Waktu Hampir Habis!

750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berharap Iran mau bernegosiasi dengan Washington.

“Armada besar sedang menuju Iran.”

“Armada ini bergerak cepat, dengan kekuatan, antusiasme, dan tujuan yang besar,” tulis Trump di Truth Social, Rabu (28/1/2026).

Ia menekankan, armada ini lebih besar daripada yang pernah dikirim ke Venezuela, dan siap menyelesaikan misinya dengan kecepatan dan kekerasan, jika perlu.

“Semoga Iran segera datang ke meja perundingan dan menegosiasikan kesepakatan yang adil dan seimbang, tanpa senjata nuklir, kesepakatan yang baik untuk semua pihak.”

“Waktu hampir habis, ini benar-benar sangat penting!”

“Seperti yang pernah saya katakan kepada Iran sebelumnya, buatlah kesepakatan!”

BACA JUGA: Trump Klaim Iran Ingin Berunding Setelah Kapal Induk Bergerak

“Mereka tidak melakukannya, dan terjadilah Operasi Midnight Hammer, penghancuran besar-besaran di Iran.”

“Serangan berikutnya akan jauh lebih buruk!”

“Jangan sampai itu terjadi lagi,” imbuh Trump.

Sebelumnya, puluhan ribu orang berunjuk rasa di kota-kota Iran karena keluhan ekonomi, mendorong Trump memperingatkan kemungkinan intervensi AS jika Pemerintah Iran terus menggunakan kekuatan mematikan terhadap para pengunjuk rasa damai.

Trump kemudian melunakkan retorikanya setelah mengeklaim, berdasarkan sumber yang dapat dipercaya, pembunuhan terhadap para pengunjuk rasa telah berhenti dan Tehran membatalkan rencana eksekusi massal.

Para pejabat Iran memperingatkan setiap serangan AS akan memicu respons cepat dan komprehensif.

Saat berbicara di negara bagian Iowa, AS, Trump menyebut ada armada ‘indah’ lainnya yang sedang menuju Iran.

“Jadi, kita lihat saja.”

“Saya harap mereka membuat kesepakatan.”

“Seharusnya mereka membuat kesepakatan sejak awal.”

“Mereka akan memiliki sebuah negara,” cetusnya.

Iran berulang kali menyatakan mereka tidak akan terlibat dalam pembicaraan di bawah tekanan, sementara para pejabat AS mengisyaratkan keterbukaan bersyarat terhadap diplomasi.

Sehingga, prospek negosiasi jangka pendek tetap tidak pasti.

Bantah Negosiasi

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan tidak ada kontak baru-baru ini dengan utusan AS Steve Witkoff, di tengah meningkatnya kekhawatiran kemungkinan AS menyerang Iran.

“Tidak ada kontak antara saya dan Witkoff dalam beberapa hari terakhir, dan kami tidak melakukan pembicaraan,” ungkap Araghchi kepada media pemerintah, seperti dikutip Kantor Berita Fars.

Pada Selasa lalu, Presiden AS Donald Trump mengatakan armada lain sedang bergerak menuju Iran, dan Tehran sedang mencari solusi diplomatik dengan Washington.

“Mereka ingin membuat kesepakatan, saya tahu itu.”

“Mereka menelepon berkali-kali.”

“Mereka ingin berbicara,” klaim Trump kepada Axios.

BACA JUGA: Israel Cari Kesempatan Serang Iran

Araghchi mengatakan sejumlah negara yang bertindak sebagai perantara dan tetap berhubungan dengan Iran, mencatat banyak negara di kawasan berbagi kekhawatiran tentang meningkatnya ketegangan.

“Negara-negara di kawasan ini memahami adanya ancaman militer dalam bentuk apa pun akan menggoyahkan seluruh kawasan,” cetusnya.

Araghchi meminta AS menanggalkan apa yang dia gambarkan sebagai ancaman, tuntutan berlebihan, dan memunculkan isu-isu yang tidak masuk akal, dengan alasan negosiasi memiliki prinsip-prinsipnya sendiri dan harus berlangsung secara setara.

“Negosiasi di bawah ancaman tidak akan berhasil,” tegasnya.

Kendati banyak tokoh dan negara menyatakan minat menjadi penengah atau telah melakukan kontak, sikap Iran tetap tidak berubah.

Ketegangan meningkat antara Tehran dan Washington menyusul protes anti-pemerintah di Iran, dengan pemerintahan AS mengatakan semua opsi, termasuk tindakan militer, tetap terbuka dalam menangani Tehran.

Kendalikan Hormuz

Iran menyatakan mereka masih mempertahankan kendali penuh atas wilayah darat, bawah laut, dan udara Selat Hormuz.

“Iran tidak ingin berperang, tetapi sepenuhnya siap.”

“Jika perang pecah, tidak akan ada jalan mundur, bahkan satu milimeter pun, dan Iran akan terus maju,” tegas Mohammad Akbarzadeh, Komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Akbarzadeh mengatakan, pengelolaan jalur strategis tersebut telah melampaui metode tradisional dan sekarang sepenuhnya berbasis sistem cerdas, sehingga memungkinkan Iran terus mengawasi semua pergerakan maritim di permukaan, dan bawah laut.

“Iran juga yang memutuskan apakah kapal yang mengibarkan bendera berbeda diizinkan untuk melewati selat tersebut.”

“Iran tidak ingin ekonomi global menderita,” ucapnya.

AS dan sekutunya, lanjut Akbarzadeh, tidak akan diizinkan mengambil keuntungan dari perang yang mereka mulai.

Akbarzadeh memperingatkan, jika wilayah darat, udara, atau perairan negara-negara tetangga digunakan untuk melawan Iran, mereka akan diperlakukan sebagai musuh.

“Pesan ini telah disampaikan kepada pihak-pihak regional,” katanya.

Ia menekankan, Teheran memiliki kemampuan tambahan yang akan diungkapkan pada waktu yang tepat.

Selat Hormuz yang sempit antara Teluk Persia dan Teluk Oman merupakan jalur penting bagi perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG) global, terutama untuk minyak dari Timur Tengah, yang mencakup sepertiga dari pengiriman minyak mentah dunia melalui laut dan seperlima dari total konsumsi minyak dunia.

Melalui Selat Hormuz, sebagian besar dari 20 juta barel minyak dan produk minyak bumi diangkut setiap hari mencapai pasar Asia, terutama Cina. (*)

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like