NarayaPost – Kanselir Jerman Friedrich Merz menolak Ukraina masuk Uni Eropa (UE) pada 1 Januari 2027.
“Kami telah memberi tahu Amerika, aksesi Ukraina pada 1 Januari 2027 tidak mungkin.”
“Itu tidak mungkin.”
“Semua anggota, termasuk Ukraina, yang ingin bergabung dengan Uni Eropa di kemudian hari, harus memenuhi kriteria Kopenhagen,” kata Merz dalam konferensi pers di Berlin., Rabu (28/1/2026),
Kriteria Kopenhagen yang ditetapkan pada 1993, mengacu pada kondisi politik, ekonomi, dan legislatif, yang harus dipenuhi suatu negara untuk bergabung dengan Uni Eropa.
Kriteria tersebut mensyaratkan lembaga demokrasi yang stabil, ekonomi pasar yang berfungsi, dan kemampuan beradaptasi dengan hukum Uni Eropa.
BACA JUGA: Rumah Putin Diserang, Ukraina Sebut Rusia Maling Teriak Maling
“Prosesnya biasanya memakan waktu beberapa tahun.”
“Ukraina harus memiliki prospek untuk menjadi anggota Uni Eropa, tetapi ini adalah proses jangka panjang,” tambahnya.
Merz menekankan, saat ini, prioritas Ukraina harus fokus pada negosiasi dengan AS dan Rusia di Abu Dhabi, sambil menyatakan optimisme yang hati-hati tentang kemungkinan kesepakatan.
Rusia dan Ukraina mengadakan diskusi pada Jumat dan Sabtu mengenai kemungkinan opsi penyelesaian perdamaian dengan mediasi AS.
Ukraina mengajukan permohonan keanggotaan Uni Eropa tak lama setelah perang dengan Rusia dimulai pada 2022, dan telah mendorong percepatan integrasi sebagai mekanisme keamanan.
“Akses Ukraina ke Uni Eropa adalah salah satu jaminan keamanan utama bukan hanya bagi kami, tetapi juga bagi seluruh Eropa.”
“Itulah mengapa kita berbicara tentang tanggal konkret, 2027, dan kita mengandalkan dukungan mitra untuk posisi kita,” tulis Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di X, setelah percakapannya baru-baru ini dengan Kanselir Austria Christian Stocker.
Hungaria Satu-satunya Penghalang
Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha mengatakan, Hungaria adalah satu-satunya penghalang bagi keanggotaan Ukraina di Uni Eropa.
“Kita harus mendefinisikan segala sesuatu apa adanya.”
“Hungaria adalah satu-satunya penghalang keanggotaan Ukraina di Uni Eropa.”
“Terlebih lagi, saya percaya perdana menteri Hungaria merupakan ancaman bagi rakyatnya sendiri,” kata Sybiha kepada surat kabar Ukraina European Pravda, Selasa.
Menurut menteri tersebut, Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban menghalangi warga Hungaria yang tinggal di Ukraina untuk bergabung dalam ruang bersama Eropa.
Pada hari yang sama, Menteri Luar Negeri Hungaria Peter Szijjarto mengatakan, pernyataan Sybiha soal Hungaria menghalangi Kiev untuk bergabung dengan Uni Eropa, sebagai sesuatu yang sepenuhnya benar.
BACA JUGA: Donald Trump: Pemimpin Ukraina dan Rusia Ingin Perang Berakhir
“Fakta Andrii Sybiha bukanlah teman kami, bahwa dia membenci kami, bahwa dia menyerang kami, bukanlah hal baru, jadi mari kita kesampingkan itu.”
“Namun, kami sepenuhnya setuju dengan satu kalimat yang diucapkan menteri tersebut dalam wawancara ini: Hungaria adalah satu-satunya penghalang bagi keanggotaan Ukraina di Uni Eropa.”
“Ini benar sekali,” tutur Szijjarto di media sosial.
Dia menambahkan, selama pemerintahan Orban berkuasa, Ukraina pasti tidak akan bergabung dengan Uni Eropa, karena orang Ukraina akan membawa perang ke Uni Eropa, dan menyeret Hungaria ke dalamnya.
Pemerintah Hungaria saat ini tidak akan mengizinkan uang Hungaria dikirim ke Ukraina, para petani menderita karena kualitas gandum Ukraina yang buruk, dan negara itu menjadi batu loncatan bagi mafia Ukraina, kata Szijjarto.
Pertemuan Trilateral
Pertemuan kelompok keamanan trilateral antara Rusia, Amerika Serikat (AS), dan Ukraina dijadwalkan berlangsung pada 1 Februari di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov pada Rabu.
“Ya, 1 Februari, untuk sementara, tetapi untuk saat ini kami akan menindaklanjutinya dari situ,” kata Peskov.
Juru bicara Kremlin itu menambahkan, pembahasan detail tentang penyelesaian konflik secara terbuka hanya akan mengganggu negosiasi.
“Kami tidak membahas daftar dokumen apa pun.”
“Kami percaya semua ini harus dilakukan secara diam-diam, di balik pintu tertutup, dan itulah yang sedang terjadi,” imbuh Peskov.
Delegasi Rusia secara rutin sudah menerima instruksi dari Presiden Rusia Vladimir Putin, imbuh juru bicara tersebut.
Sebelumnya, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy pada Minggu (11/1/2026) menuntut agar Eropa menyerahkan cadangan rudal pertahanan udara mereka kepada negaranya.
“Prioritas utamanya rudal pertahanan udara, kontribusi baru para mitra untuk inisiatif PURL (Daftar Prioritas Kebutuhan Ukraina) yang diperlukan, serta pengiriman dari persediaan di Eropa.”
“Rudal-rudal itu ada di gudang, dan kami tahu semua itu,” cetus Zelenskyy dalam pesan video yang dipublikasikan di akun Telegram-nya.
Rusia berulang kali menyatakan pasokan senjata Barat ke Ukraina menghambat penyelesaian konflik militer dan menjadikan negara-negara NATO sebagai pihak yang terlibat dalam krisis tersebut. (*)