Ubah Rezim Iran Lebih Susah Daripada Gulingkan Nicolas Maduro

750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio mengakui mengubah rezim di Iran jauh lebih kompleks, ketimbang menggulingkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro.

“Saya membayangkan itu akan jauh lebih kompleks daripada yang kita gambarkan sekarang, karena Anda berbicara tentang rezim yang telah berkuasa sangat lama.”

“Jadi itu akan membutuhkan banyak pemikiran cermat, jika kemungkinan itu terjadi,” kata Rubio kepada anggota parlemen selama sidang Senat tentang Venezuela, Rabu (28/1/2026),

Rubio menggambarkan kehadiran militer AS di Timur Tengah terutama sebagai pertahanan, dengan mengatakan ada sekitar 30.000 hingga 40.000 tentara Amerika yang ditempatkan di delapan atau sembilan fasilitas.

Dia menambahkan, pasukan tersebut berada dalam jangkauan ribuan pesawat tanpa awak (UAV) dari rudal balistik jarak pendek Iran, menggarisbawahi perlunya mencegah secara preemptif potensi serangan terhadap tentara Amerika dan sekutu AS di wilayah tersebut.

“Kita harus memiliki kekuatan dan daya yang cukup di kawasan ini, setidaknya sebagai dasar untuk bertahan melawan kemungkinan itu.”

BACA JUGA: Trump: Iran, Buatlah Kesepakatan, Waktu Hampir habis!

“Kita juga memiliki perjanjian keamanan, rencana pertahanan Israel dan lainnya, yang mengharuskan adanya postur kekuatan di kawasan ini untuk bertahan melawan hal itu,” tuturnya.

Rubio juga mengatakan, rezim di Iran mungkin lebih lemah daripada sebelumnya.

Ia juga menuduh Tehran gagal mengatasi keluhan inti para demonstran, yang menurutnya adalah ekonomi mereka sedang runtuh.

Dia menambahkan, protes akan kembali terjadi di masa depan, kecuali pemerintah Iran bersedia berubah atau mundur.

Fase Ketiga

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengatakan, Iran memasuki fase ketiga konfliknya dengan Israel dan AS.

Gharibabadi mengatakan kepada wartawan, fase pertama dan kedua adalah perang 12 hari pada Juni 2025 dan protes baru-baru ini di seluruh Iran, yang diorganisir dengan dukungan Washington dan Tel Aviv.

Dia mengatakan, AS dan Israel akan mengalami kekalahan dalam fase konflik ini, sama seperti yang mereka alami dalam dua fase sebelumnya.

Dia juga mengaku tidak tahu apakah konsekuensinya musuh-musuh Iran akan mencoba untuk memicu fase keempat konflik berikutnya, atau akhirnya menyadari menghadapi Republik Islam adalah sia-sia dan menghentikan rencana mereka.

Gharibabadi mengklarifikasi Iran tidak bermusuhan dengan AS maupun negara-negara Barat, tetapi ancaman utama datang dari Israel.

Terendah

Mata uang rial Iran anjlok ke level terendah dalam sejarah terhadap dolar AS pada Rabu (28/1/2026).

Media Iran Nour News melaporkan, dolar AS diperdagangkan di atas 1.580.000 rial di pasar domestik, mempercepat penurunan yang dimulai sejak akhir pekan lalu saat nilai tukar mata uang tersebut berada di kisaran 1.510.000 rial.

Data dari situs web pemantau mata uang mengindikasikan rial Iran telah kehilangan sekitar 5 persen nilainya sejak awal bulan ini.

Nour News mengaitkan merosotnya nilai mata uang tersebut dengan kombinasi ketegangan internasional yang meningkat, kebijakan ekonomi domestik, fluktuasi pasar global, serta naiknya permintaan lokal terhadap mata uang asing.

Pemerintah telah berupaya menstabilkan pasar, dengan upaya terbaru melalui penunjukan kembali mantan gubernur bank sentral Iran Abdolnaser Hemmati, Desember lalu.

Hemmati menggantikan Mohammad-Reza Farzin yang mengundurkan diri, dan ditugaskan untuk meredam hiperinflasi, menstabilkan nilai tukar, serta menangani ketidakseimbangan perbankan dan korupsi ekonomi yang telah berlangsung lama, menurut pemerintah Iran.

BACA JUGA: Trump Klaim Iran Ingin Berunding Setelah Kapal Induk Bergerak

Meski mengalami depresiasi yang tajam, Hemmati baru-baru ini mengabaikan volatilitas tersebut dengan menyatakan pasar valuta asing sedang mengikuti jalur alaminya.

Tekanan ekonomi tersebut juga telah memicu keresahan domestik.

Bulan lalu, para pedagang di Grand Bazaar Teheran menutup toko-toko mereka sebagai bentuk protes atas anjloknya nilai rial, serta rencana pemerintah menghapuskan subsidi makanan dan bahan bakar tertentu.

Aksi demonstrasi yang dimulai pada 28 Desember itu dengan cepat menyebar ke seluruh negeri, merambah ke ranah politik, dan berujung pada kekerasan.

Otoritas Iran berulang kali menepis ketidakstabilan itu dan menyebutnya sebagai hasutan pihak asing, menuduh AS dan Israel sebagai dalang di balik kerusuhan yang terjadi. (*)

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like