Ini Dua Pesan Trump kepada Iran Jika Terjadi Perundingan

Presiden AS, Donald Trump. Dok. Antara News.
750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berniat menggelar perundingan dengan Iran.

“Saya telah melakukan pembicaraan dengan Iran dalam beberapa hari terakhir, dan saya berencana melanjutkannya,” kata Trump kepada wartawan di Kennedy Center, Kamis (29/1/2024).

Trump kembali menegaskan, banyak kapal yang sangat besar dan sangat kuat tengah berlayar menuju Iran.

“Akan sangat baik jika kita tidak perlu menggunakannya,” imbuhnya.

Saat ditanya pesan apa yang ia sampaikan kepada Iran, Trump mengatakan ia punya dua hal yang ingin disampaikan.

Pertama, Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.

BACA JUGA: Ubah Rezim Iran Lebih Susah Daripada Gulingkan Nicolas Maduro

Kedua, Iran harus menghentikan pembunuhan terhadap para demonstran.

Sebelumnya pada hari yang sama, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan AS siap menggunakan semua opsi untuk mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir, seraya menegaskan Washington masih membuka peluang tercapainya kesepakatan diplomatik.

Hegseth menyatakan, ketika Trump menegaskan Iran tidak akan memiliki senjata nuklir, pernyataan itu disampaikan dengan sungguh-sungguh.

Ia mencontohkan pengiriman pesawat pengebom B-2 ke berbagai belahan dunia tanpa terdeteksi, serta kebijakan keras terhadap perdagangan narkotika, sebagaimana perlakuan terhadap al-Qaeda di kawasan Barat, yang menurutnya dijalankan sesuai perintah presiden.

Ia juga menyebut peran militer dalam pengamanan perbatasan bersama Departemen Keamanan Dalam Negeri sebagai bukti pelaksanaan arahan presiden.

Menurut Hegseth, pendekatan serupa diterapkan terhadap Iran saat ini, yakni memastikan semua opsi tersedia agar Teheran bersedia mencapai kesepakatan dan tidak mengejar kemampuan nuklir.

Pernyataan tersebut disampaikan Hegseth dalam rapat kabinet bersama Trump.

Hegseth menegaskan, Pentagon siap melaksanakan setiap arahan yang dikeluarkan Trump, menandakan opsi militer tetap terbuka jika jalur diplomasi gagal.

“Kami akan siap memberikan apa pun yang diharapkan presiden dari Departemen Perang, seperti yang kami lakukan bulan ini,” ucapnya, merujuk pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh AS pada 3 Januari 2026.

Siap Negosiasi

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan, Presiden AS Donald Trump mungkin dapat memicu perang, namun tidak akan mampu mengendalikan bagaimana perang tersebut berakhir.

Ia menegaskan, Teheran tetap terbuka untuk berunding, tetapi hanya jika perundingan itu sungguh-sungguh dan tidak dipaksakan dengan kekuatan.

“Kami siap untuk bernegosiasi,” kata Ghalibaf kepada CNN, Rabu.

Namun, katanya, Iran tidak meyakini dialog semacam itu yang sebenarnya diinginkan oleh Presiden AS.

Ghalibaf menuduh Washington merusak diplomasi dengan penggunaan kekuatan.

Menurutnya, AS telah mengebom meja perundingan dua hari sebelum putaran keenam pembicaraan dengan Iran dijadwalkan berlangsung.

BACA JUGA: Donald Trump Ingin Amerika Menang Cepat Jika Serang Iran

Ia menegaskan, Iran tidak akan terlibat dalam perundingan tanpa manfaat nyata.

Ghalibaf mengatakan, selama kepentingan ekonomi rakyat Iran tidak dijamin, maka tidak akan ada perundingan.

Ia juga menekankan Iran tidak menganggap mendikte sebagai bentuk negosiasi.

Ghalibaf memperingatkan, pembicaraan yang dilakukan di bawah tekanan militer justru akan memperburuk ketegangan.

Menurutnya, perundingan dalam bayang-bayang perang hanya akan memicu eskalasi.

Ia juga menyatakan jika Trump menginginkan Hadiah Nobel Perdamaian, maka ia harus menjauhkan diri dari para penghasut perang dan pihak-pihak yang mendorong penyerahan diri di sekelilingnya.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah Trump menyatakan armada militer besar tengah bergerak menuju Iran dan menyerukan agar Teheran kembali ke meja perundingan.

Para pejabat Iran menanggapi pernyataan itu dengan peringatan akan kemungkinan perang dan aksi balasan.

Meski demikian, mereka kembali menegaskan Teheran tetap terbuka untuk perundingan, selama dilakukan dengan syarat yang adil dan tanpa paksaan.

Iran juga diguncang gelombang unjuk rasa sejak 28 Desember di Grand Bazaar Teheran, dipicu oleh anjloknya nilai tukar rial Iran serta memburuknya kondisi ekonomi.

Aksi protes tersebut kemudian meluas ke sejumlah kota lain.

Pemerintah Iran menuduh AS dan Israel mendukung perusuh bersenjata guna menciptakan dalih bagi intervensi asing.

Para pejabat Iran juga memperingatkan, setiap serangan AS akan dibalas dengan respons yang cepat dan menyeluruh. (*)

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like