Perjanjian Pembatasan Nuklir Berakhir, AS-Rusia Harus Berunding

750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Mulai 4 Februari 2026, para pihak dalam Perjanjian Pengurangan dan Pembatasan Senjata Serangan Strategis Lebih Lanjut (New START) tidak lagi terikat oleh kewajiban dan deklarasi simetris, serta bebas menentukan langkah selanjutnya.

Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Rusia pada Rabu (4/2/2026) mengatakan, pihaknya telah berupaya memperpanjang perjanjian itu, yang inisiatif terakhirnya diajukan pada 22 September 2025.

Saat itu, Presiden Rusia Vladimir Putin secara terbuka mengusulkan agar pembatasan senjata terkait dalam perjanjian tersebut tetap diberlakukan, setidaknya selama satu tahun setelah masa berlakunya berakhir.

Namun, kementerian itu mengaku belum menerima tanggapan resmi dari Amerika Serikat (AS) terkait inisiatif tersebut melalui saluran bilateral.

“Dalam situasi saat ini, kami berasumsi para pihak dalam New START tidak lagi terikat oleh kewajiban atau deklarasi simetris apa pun dalam kerangka perjanjian tersebut, termasuk ketentuan intinya, dan pada prinsipnya bebas memilih langkah selanjutnya,” kata pihak Kemlu Rusia.

Rusia menyatakan akan bertindak secara bertanggung jawab dan seimbang, dengan mengembangkan kebijakannya di bidang senjata serangan strategis berdasarkan analisis menyeluruh terhadap kebijakan militer AS, dan situasi umum di ranah strategis.

BACA JUGA: Vladimir Putin Klaim Tak Ada yang Bisa Saingi Senjata Nuklir Rusia

Kemlu Rusia kembali menegaskan kesiapan pemerintahnya untuk mengambil langkah militer-teknis yang tegas, guna menangkal potensi ancaman tambahan terhadap keamanan nasional.

“Pada saat yang sama, negara kami tetap terbuka untuk mencari cara-cara politik dan diplomatik, guna menstabilkan situasi strategis secara menyeluruh berdasarkan solusi dialog yang setara dan saling menguntungkan, apabila kondisi yang sesuai untuk kerja sama tersebut tercipta,” imbuh pihak Kemlu Rusia.

New START merupakan satu-satunya perjanjian yang tersisa dan mengikat secara hukum untuk membatasi kekuatan nuklir strategis AS dan Rusia.

New START adalah perjanjian terakhir tentang pengendalian senjata nuklir antara AS dan Rusia, untuk membatasi jumlah hulu ledak nuklir jarak jauh yang boleh mereka miliki.

Perjanjian itu mulai berlaku pada 5 Februari 2011.

New START ditandatangani oleh AS dan Rusia pada 8 April 2010 di Praha.

Perjanjian itu menggantikan START I yang berakhir pada 2009 dan Strategic Offensive Reductions Treaty (SORT) 2002.

Berakhirnya perjanjian itu memicu kekhawatiran akan dimulainya era baru persaingan nuklir tanpa regulasi.

Pada September 2025, Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan negaranya siap untuk terus mematuhi pembatasan yang ditentukan dalam Perjanjian New START, selama satu tahun setelah 5 Februari 2026.

Dia menjelaskan, langkah-langkah untuk mematuhi pembatasan dalam perjanjian itu akan efektif jika AS melakukan hal serupa.

Presiden AS Donald Trump menyebut usulan Putin itu sebagai ide yang bagus.

Desak Berunding

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres menyerukan Rusia dan AS kembali berunding, guna mencapai kesepakatan pengurangan dan pembatasan senjata nuklir, di tengah berakhirnya perjanjian New START.

“Dunia saat ini menaruh harapan terhadap Federasi Rusia dan AS untuk menerjemahkan kata-kata menjadi tindakan.”

“Saya mendesak kedua negara untuk segera kembali ke meja perundingan, dan menyepakati kerangka kerja pengganti.”

“Sehingga mengembalikan batasan yang dapat diverifikasi, mengurangi risiko, dan memperkuat keamanan bersama kita,” tutur Guterres, Kamis (5/2/2026).

Guterres menilai risiko penggunaan senjata nuklir saat ini menjadi yang tertinggi dalam beberapa dekade terakhir.

Guterres sangat menyayangkan berakhirnya pencapaian yang telah dibangun selama puluhan tahun, yang disebutnya terjadi pada waktu terburuk, karena ketegangan geopolitik global sedang memuncak.

BACA JUGA: Merespons AS, Rusia Juga Bakal Uji Senjata Nuklir

“Namun, bahkan di tengah ketidakpastian ini, kita harus mencari harapan.”

“Ini merupakan kesempatan untuk mengatur ulang dan menciptakan sistem pengendalian senjata yang sesuai dengan konteks yang berkembang pesat,” ucapnya.

Guterres menyambut baik penegasan dari AS dan Rusia tentang pemahaman mereka terhadap dampak destabilisasi dari perlombaan senjata nuklir, dan perlunya mencegah kembalinya dunia pada proliferasi nuklir tanpa kendali.

“Berakhirnya Traktat New START tengah malam ini merupakan masa yang kelam bagi perdamaian dan keamanan internasional.”

“Kita menghadapi dunia tanpa batasan yang mengikat terkait persenjataan nuklir strategis antara Federasi Rusia dan AS,” imbuhnya.

Menurut Guterres, pengendalian senjata nuklir kedua negara telah menjaga stabilitas yang mencegah bencana nuklir, dan mengurangi risiko salah perhitungan yang fatal.

Kata Guterres, dari Perundingan Pembatasan Senjata Strategis (SALT) hingga New START, perjanjian bilateral kedua negara telah memangkas ribuan senjata nuklir dan memperkuat keamanan global. (*)

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like