NarayaPost – Iran mengancam bakal menyerang setiap kapal yang mencoba melintasi Selat Hormuz.
“Amerika Serikat serakah akan minyak.”
“Biarkan mereka tahu kami kini telah menutup Selat Hormuz, dan tidak akan mengizinkan kapal-kapal melintasinya,” kata Penasihat Komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Ibrahim Jabari, Selasa (3/3/2026), seperti dikutip Kantor Berita ISNA.
Dia memperkirakan penutupan jalur pelayaran penting itu akan menyebabkan lonjakan harga minyak menjadi hingga 200 dolar AS (sekitar Rp3,3 juta) per barel, sehingga berpotensi menimbulkan masalah bagi AS.
Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab.
Pantai utara milik Iran, sedangkan pantai selatan milik Uni Emirat Arab (UAE) dan Oman.
BACA JUGA: Harga Mahal Nuklir Iran
Selat tersebut merupakan jalur penting untuk pasokan minyak dan gas alam cair (LNG).
Al Jazeera yang berbasis di Qatar dan mengutip sumber pelabuhan Irak, melaporkan biaya pengiriman maritim ke Irak naik 60 persen akibat tarif asuransi yang lebih tinggi.
Tujuh kapal tanker minyak dilaporkan tertahan di perairan Irak, dan menunggu dibukanya kembali selat ini.
Sementara, saat ini tidak ada kapal yang berada di pelabuhan terbesar Irak, Um Qasr.
Pada Minggu (1/3/2026), IRGC menyatakan telah meluncurkan serangan rudal terhadap tiga kapal tanker milik AS dan Inggris, di Teluk Persia dan Selat Hormuz.
Esoknya, mereka juga menyatakan satu kapal tanker AS di selat ini dihantam dua drone Iran.
Krusial
Selat Hormuz merupakan urat nadi jalur perdagangan minyak dunia.
Dikutip dari berbagai sumber, ini adalah selat yang memisahkan Iran dengan Uni Emirat Arab.
Terletak di antara Teluk Oman dan Teluk Persia, selat ini dalam bahasa Arab disebut Madīq Hurmuz.
Sedangkan dalam Bahasa Persia, disebut Tangeh-ye Hormoz.
Pada titik tersempit, lebar Selat Hormuz hanya mencapai 54 km.
Selat ini merupakan satu-satunya jalur untuk mengirim minyak keluar Teluk Persia.
Menurut keterangan U.S. Energy Information Administration, setiap hari terdapat 15 kapal tanker melewati Selat Hormuz.
Kapal tanker itu membawa 16.5 hingga 17 juta barel minyak bumi melewati selat ini.
Selat ini memiliki peran yang sangat krusial, diperkirakan sekitar seperlima dari total pasokan minyak dunia melewati jalur ini.
Artinya, gangguan kecil sekalipun di kawasan ini dapat menyebabkan lonjakan harga minyak global.
Negara-negara pengimpor energi seperti Tiongkok, Jepang, dan negara-negara Eropa sangat bergantung pada stabilitas jalur ini.
BACA JUGA: Arab Saudi Pertimbangkan Balas Serangan Iran
Negara-negara itu ingin menjaga pasokan energi mereka tetap aman.
Al Jazeera pada Sabtu melaporkan, seorang pejabat Uni Eropa mengatakan kapal-kapal yang melintasi selat tersebut telah menerima transmisi dari IRGC.
Pasukan elite Iran itu meminta tidak boleh ada kapal yang diizinkan melewati Selat Hormuz.
Namun, pejabat tersebut menambahkan Iran belum resmi menutup Selat Hormuz.
Selat Hormuz bukan sekadar jalur laut biasa, melainkan simbol penting dari keterkaitan antara energi, ekonomi, dan politik global.
Stabilitasnya sangat menentukan kestabilan harga energi dunia dan hubungan antar-negara.
Selama dunia masih bergantung pada minyak sebagai sumber energi utama, Selat Hormuz akan terus menjadi titik strategis, dan diawasi dengan cermat oleh komunitas internasional.
Dampak bagi Indonesia
Selat Hormuz merupakan jalur dari 20 persen perdagangan minyak dunia, termasuk impor Indonesia.
Kenaikan harga minyak dunia, akan melemahkan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS.
Nilai tukar rupiah yang anjlok terhadap dolar akan menambah beban fiskal, di mana APBN Indonesia saat ini defisit.
Meski terjadi gejolak, fundamental ekonomi Indonesia saat ini dinilai masih cukup untuk memitigasi dampak lebih luas.
Cadangan devisa yang saat ini mencapai 156, 5 milliar dolar AS, masih cukup untuk impor, namun sulit memperkuat posisi tawar rupiah.
Sebagaian besar kebutuhan minyak Indonesia berasal dari luar negeri, karena di dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan minyak nasional. (*)