NarayaPost – Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menegaskan, tidak ada bukti kuat Iran membuat senjata atau bom nuklir.
Meski demikian, Kepala IAEA Rafael Grossi tetap memperingatkan isu-isu yang belum terselesaikan seputar program nuklir Iran, tetap menjadi perhatian serius.
Pada Selasa malam, Grossi mengatakan Iran memiliki persediaan uranium yang diperkaya dalam jumlah besar, yang telah mencapai tingkat mendekati kemampuan senjata nuklir.
Namun, ia menekankan badan tersebut belum menemukan bukti Iran sedang mengembangkan senjata nuklir, seperti dikutip dari Middle East Monitor.
Grossi mencatat, penolakan Iran memberikan akses penuh kepada inspektur internasional dari IAEA, meningkatkan kekhawatiran di dalam badan tersebut.
Ia memperingatkan, tanpa kerja sama dari Teheran dalam menangani pertanyaan-pertanyaan yang belum terselesaikan, IAEA tidak akan dapat memberikan jaminan program nuklir Iran sepenuhnya damai.
BACA JUGA: Iran Bilang Trump Ubah Slogan America First Jadi Israel First
Pernyataan Grossi mengenai tak ada bukti Iran bikin bom nuklir, mengemuka setelah Israel dan Amerika Serikat membombardir Teheran, karena menganggap negosiasi soal nuklir buntu.
Sehari sebelum perang dimulai, Menteri Luar Negeri Oman Badr Al Busaidi mengatakan Iran pada prinsipnya setuju tidak menyimpan uranium yang diperkaya, sebagai bagian dari negosiasi diplomatik yang sedang berlangsung.
Menurut Al Busaidi, proposal tersebut termasuk melepaskan material yang diperkaya, dan memastikan tidak ada bahan bakar nuklir yang akan ditimbun, dengan mekanisme verifikasi yang diterapkan.
Namun, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menegaskan, Iran tidak boleh memperkaya uranium sama sekali, termasuk pada tingkat di bawah tingkat senjata nuklir.
Menurutnya, itu hanya mengulangi tuntutan lama Washington agar Teheran sepenuhnya menghentikan kegiatan pengayaan.
Tak Kekurangan Rudal
Muncul kabar AS kekurangan rudal saat berperang dengan Iran, dalam beberapa hari terakhir.
Namun, Presiden AS Donald Trump mengeklaim persediaan senjata negaranya masih melimpah.
Trump malah balik menuding rudal utama Iran lah yang kian menipis.
“Persediaan amunisi Amerika Serikat, untuk kelas menengah dan menengah atas, tidak pernah setinggi atau sebaik ini.”
“Kita punya persediaan senjata ini yang hampir tak terbatas,” tulis Trump di Truth Social, Rabu (4/3/2026).
Bahkan, kata Trump, dengan persediaan senjata yang ada, AS bisa perang dalam waktu panjang dan sangat sukses.
“Amerika Serikat memiliki persediaan yang cukup, dan siap untuk MENANG BESAR!!!” Imbuhnya.
Namun, Trump tak menjelaskan lebih lanjut senjata jenis apa yang masih tersedia dengan jumlah banyak di AS.
Dia hanya mengatakan, banyak persenjataan kelas tinggi tambahan untuk negara-negara terpencil.
Trump lalu menyalahkan pemerintahan AS sebelumnya di bawah Joe Biden, yang dianggap menghabiskan seluruh uang AS ke PT Barnum, Ukraina.
“Dan, sementara dia memberikan begitu banyak persenjataan kelas atas (GRATIS!), dia tidak repot-repot menggantinya.”
“Untungnya, saya membangun kembali militer pada masa jabatan pertama saya, dan terus melakukannya,” cetusnya.
Pernyataan Trump muncul usai AS dilaporkan kekurangan rudal penting, termasuk jenis serang darat Tomahawk dan rudal pencegat SM-3.
Seorang pejabat senior AS mengatakan, Washington menduga serangan ke Iran akan meningkat dalam 24 jam ke depan.
Namun, di waktu yang sama, dia juga mengatakan persediaan rudal dan pencegat AS kian menipis.
Lebih dari 1.000 Warga Iran Tewas
Lebih dari 1.000 warga sipil di Iran tewas imbas serangan gabungan Israel dan AS sejak Sabtu (28/2/2026).
Pada Rabu, serangan Israel kembali menghantam ibu kota Teheran, kota suci Qom, Iran barat, dan seluruh provinsi Isfahan di Iran tengah. Serangan itu juga merusak unit-unit perumahan.
Israel juga mengaku menyerang bangunan milik pasukan paramiliter polisi sukarelawan dari IRGC Basij, serta menargetkan bangunan yang terkait komando keamanan internal Iran.
Media Pemerintah Iran mengonfirmasi jumlah korban tewas serangan AS-Israel mencapai 1.045 orang.
“Ada serangan berkelanjutan dan terus-menerus di seluruh negeri, yang tidak menyisakan wilayah, kota, atau daerah mana pun.”
“Tapi kita tahu 200 anak dan remaja telah dirawat di rumah sakit, dengan lebih dari 6.000 orang terluka,” kata jurnalis Al Jazeera Mohamed Vall, yang melaporkan dari Teheran.
BACA JUGA: Harga Mahal Nuklir Iran
Badan Energi Atom Internasional (IAEA) juga melaporkan kerusakan akibat serangan terjadi di dua bangunan dekat situs nuklir Isfahan, namun tidak ada kerusakan pada fasilitas yang berisi material nuklir.
Sebagai tanggapan, Iran telah melancarkan serangan rudal dan drone balasan terhadap Israel dan pangkalan militer AS di seluruh wilayah Teluk.
Meskipun Israel, AS, dan negara-negara Teluk telah mencegat sebagian besar rudal ini, beberapa di antaranya mengenai aset militer dan infrastruktur sipil.
Puing-puing dari rudal yang dicegat juga jatuh di beberapa daerah sipil.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengisyaratkan konflik ini bisa berlangsung selama beberapa minggu.
Dia juga menyebut kepemimpinan di Teheran sekarang sedang dalam keadaan kacau.
“Kita berada dalam posisi yang sangat kuat sekarang, dan kepemimpinan mereka dengan cepat runtuh.”
“Setiap orang yang tampak ingin menjadi pemimpin Iran selanjutnya, akhirnya tewas,” cetus Trump.
Perserikatan Bangsa Bangsa memperkirakan sejak 28 Februari hingga 1 Maret, sekitar 100 ribu orang mengungsi dari Teheran. (*)