NarayaPost – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sepertinya sedang mabuk pamer kekuatan.
Setelah menculik Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya pada 3 Januari lalu, Trump menyerbu Iran bersama Israel pada 28 Februari pekan lalu.
Kini, Trump mengisyaratkan bakal ‘mengurus’ Kuba, setelah menyelesaikan perang di Iran.
Dalam sebuah pertemuan dengan tim sepak bola Inter Miami di Gedung Putih, Kamis (5/3/2026), Trump mengeklaim Kuba sangat ingin membuat kesepakatan.
“Kami ingin menyelesaikan yang ini (Iran) terlebih dahulu,” kata Trump, dikutip Reuters.
Trump juga menyinggung Menteri Luar Negeri Marco Rubio, yang merupakan putra imigran Kuba kelahiran Miami.
BACA JUGA: Donald Trump Bilang Operasi Militer Terhadap Kuba Tak Diperlukan
“Anda telah melakukan pekerjaan yang fantastis di tempat bernama Kuba,” puji Trump ke Rubio.
AS memberlakukan blokade energi terhadap negara yang diperintah komunis tersebut, hingga berujung pada stok bahan bakar yang anjlok.
Blokade dilakukan tak lama setelah AS menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro, yang menjadi pemasok minyak utama bagi Kuba.
Lantaran tak ada minyak yang diimpor ke Kuba sejak 9 Januari, sejumlah maskapai penerbangan pun mengurangi penerbangan ke pulau itu, hingga memperdalam krisis ekonomi berkepanjangan.
Banyak warga di Kuba khawatir negara itu bisa menjadi sasaran intervensi asing Trump berikutnya, terutama setelah AS dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Iran.
Trump maupun Rubio memang tak merahasiakan keinginan mereka untuk melakukan perubahan rezim di Havana.
Gagalkan Penyusup
Sebelumnya, Kuba menggagalkan penyusup bersenjata dari AS, lewat baku tembak di perairannya.
Serangan Kuba ke kapal yang disebut dari AS itu, menewaskan empat orang dan melukai enam lainnya, pada Rabu (25/2/2026).
Kementerian Dalam Negeri Kuba menyatakan kapal itu dicegat sekitar satu mil laut dari Pulau Cayo Falcones di lepas pantai utara Kuba.
Saat kapal penjaga pantai mendekat, tembakan dilepaskan dari kapal yang disebut ilegal itu, hingga melukai komandan kapal Kuba.
“Akibat bentrokan itu, hingga laporan ini dibuat, empat penyerang tewas dan enam lainnya terluka,” ungkap Kementerian dikutip AFP.
Kementerian menambahkan, korban luka telah dievakuasi dan mendapat bantuan medis.
Menurut Kementerian, senapan serbu, pistol, bom molotov, serta perlengkapan bergaya militer ditemukan di kapal itu.
Sepuluh penumpangnya disebut sebagai warga Kuba yang tinggal di AS.
Orang-orang yang ditangkap mengaku ingin menyusup untuk melakukan aksi teror.
“Mereka berniat melakukan infiltrasi untuk tujuan terorisme,” jelas Kementerian.
Kementerian merilis nama tujuh orang di kapal, sebagian besar memiliki catatan kriminal di Kuba.
Seorang pria yang dikirim dari AS juga ditangkap dan mengakui insiden itu.
BACA JUGA: Kuba Siap Lawan Amerika Hingga Tetes Darah Terakhir
Insiden ini memicu ketegangan baru antara Havana dan Washington.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan pihaknya sedang mengumpulkan fakta dan akan merespons setelah informasi lengkap diperoleh.
“Kami tidak akan mendasarkan kesimpulan pada apa yang mereka (Kuba) sampaikan kepada kami.”
“Dan saya sangat yakin kami akan mengetahui cerita lengkap tentang apa yang terjadi di sini,” cetus Rubio saat berada di St Kitts dan Nevis.
Ia menambahkan, AS akan mengambil langkah setelah memperoleh informasi lebih lanjut.
Sementara, Jaksa Agung Florida dan anggota Kongres AS Carlos Gimenez mendesak penyelidikan menyeluruh atas insiden itu.
“Otoritas AS harus memastikan apakah ada korban yang merupakan warga negara atau penduduk sah AS, dan menetapkan secara tepat apa yang terjadi,” ucapnya.
Ia juga melontarkan kritik keras terhadap Pemerintah Kuba.
Pemerintah Kuba kerap melaporkan adanya penyusupan kapal cepat dari AS ke perairan teritorialnya.
Insiden semacam ini sering dikaitkan dengan penyelundupan manusia atau perdagangan narkoba, dan melibatkan pengejaran serta baku tembak.
Penembakan terjadi di tengah pelonggaran pembatasan minyak AS terhadap Kuba, setelah penggulingan Nicolas Maduro di Venezuela.
Blokade minyak yang berlangsung lebih dari sebulan, memperburuk kondisi ekonomi Kuba yang sudah tertekan embargo.
Dalam beberapa pekan terakhir, Meksiko dan Kanada turut mengirim bantuan ke pulau itu. (*)