NarayaPost – Memasuki pekan kedua perang segitiga, Iran menegaskan tak akan pernah menyerah kepada Israel dan Amerika Serikat (AS).
“Musuh-musuh Iran harus membawa keinginan mereka agar rakyat Iran menyerah tanpa syarat, ke dalam kubur mereka,” tegas Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam pidato yang disiarkan televisi pemerintah, Sabtu (7/3/2026), seperti dikutip AFP.
Israel dan AS mulai menyerang Negeri Para Mullah itu pada 28 Februari, yang menewaskan pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, hingga memicu perang meluas ke Timur Tengah.
Sejak digempur AS-Israel, Republik Islam tu membalas dengan melancarkan serangan rudal dan drone terhadap Israel serta pangkalan militer AS di sejumlah negara kawasan, terutama di negara Arab.
Pezeshkian merupakan satu dari tiga anggota dewan kepemimpinan sementara yang memimpin negara itu sejak Khamenei terbunuh.
Pezeshkian juga meminta maaf kepada negara-negara tetangga atas serangan negaranya di kawasan tersebut.
Ia menjamin negara Arab tidak akan menjadi sasaran serangan balasan, kecuali jika Teheran mendapati serangan yang berasal dari wilayah mereka.
“Saya harus meminta maaf atas nama pribadi saya dan atas nama Iran, kepada negara-negara tetangga yang diserang oleh Iran.”
“Dewan kepemimpinan sementara kemarin telah menyepakati tidak akan ada lagi serangan terhadap negara-negara tetangga, dan tidak ada rudal yang akan ditembakkan, kecuali jika serangan terhadap Iran berasal dari negara-negara tersebut,” tuturnya.
AS Jual 12 Ribu Bom ke Israel
Kementerian Luar Negeri AS menyetujui penjualan 12 ribu selongsong bom kepada Israel, di tengah perang sengit koalisi Amis (Amerika-Israel) itu melawan Iran.
Penjualan belasan ribu senjata ini mencakup selongsong bom seberat 1.000 pon (450 kilogram) dengan nilai sekitar US$151,8 juta.
Persetujuan penjualan diberikan oleh Biro Urusan Politik-Militer Kementerian Luar Negeri AS.
“Penjualan yang diusulkan akan meningkatkan kemampuan Israel menghadapi ancaman saat ini dan di masa depan, memperkuat pertahanan dalam negerinya, serta menjadi pencegah terhadap ancaman regional,” kata biro tersebut dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip AFP pada Sabtu.
Selain amunisi, penjualan ini juga mencakup layanan rekayasa, logistik, dan dukungan teknis dari Pemerintah AS maupun kontraktor.
Dalam unggahannya di media sosial, Presiden Donald Trump memamerkan perusahaan-perusahaan pertahanan besar AS juga telah sepakat meningkatkan produksi senjata canggih hingga empat kali lipat.
BACA JUGA: Iran Siap Permalukan Pasukan Darat Amerika Jika Menginvasi
Biasanya, penjualan senjata AS memerlukan persetujuan Kongres.
Namun, Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengeluarkan pengecualian yang memungkinkan penjualan dilakukan tanpa melalui persetujuan tersebut.
Langkah ini memicu kekhawatiran sebagian pejabat terpilih.
“Menteri Luar Negeri telah menentukan dan memberikan alasan rinci, terdapat keadaan darurat yang mengharuskan penjualan segera kepada Pemerintah Israel, atas perlengkapan dan layanan pertahanan tersebut demi kepentingan keamanan nasional Amerika Serikat,” jelas Kementerian Luar Negeri AS mengutip Undang-undang Pengendalian Ekspor Senjata (Arms Export Control Act).
Anggota DPR Gregory Meeks dari Partai Demokrat di Komite Urusan Luar Negeri DPR mengatakan, melewati proses peninjauan Kongres dalam penjualan senjata itu, menunjukkan kontradiksi mencolok dalam argumen pemerintah mengenai perang ini.
“Pemerintahan Trump berulang kali bersikeras mereka sepenuhnya siap menghadapi perang ini.”
“Terburu-buru menggunakan kewenangan darurat untuk menghindari Kongres menunjukkan cerita yang berbeda.”
“Ini adalah keadaan darurat yang diciptakan oleh pemerintahan Trump sendiri,” cetus Meeks dalam sebuah pernyataan.
Klaim Gedung Putih
AS mengeklaim semakin mendekati kendali atas wilayah udara Iran.
Diperkirakan, AS bisa menguasai wilayah udara Iran dalam empat hingga enam pekan ke depan.
Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan, operasi militer yang dijalankan AS menunjukkan perkembangan signifikan dalam beberapa pekan terakhir.
“Kami berada di jalur yang sangat baik untuk mengendalikan wilayah udara Iran,” kata Leavitt kepada wartawan di Gedung Putih, Jumat (6/3/2026).
Pemerintah AS menilai target operasi militer yang dinilai realistis, dapat tercapai dalam waktu relatif singkat.
Menurut Leavitt, pemerintah juga mempertimbangkan sejumlah kandidat yang berpotensi memimpin Iran di masa mendatang.
BACA JUGA: Harga Mahal Nuklir Iran
Pernyataan itu muncul sehari setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan Washington harus terlibat dalam menentukan pemimpin baru Iran.
“Saya tahu ada sejumlah orang yang sedang dilihat oleh badan intelijen kami dan Pemerintah Amerika Serikat, tetapi saya tidak akan membahasnya lebih jauh,” ucapnya.
Kepada Reuters sehari sebelumnya, Trump menyatakan pemimpin Iran berikutnya kemungkinan besar bukan putra mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, yang sebelumnya disebut sebagai salah satu kandidat kuat penerus ayahnya.
Trump juga menegaskan AS tak akan mencapai kesepakatan dengan Iran, kecuali jika Teheran menyerah tanpa syarat.
Konflik dengan AS dan Israel telah menimbulkan korban besar di pihak sipil Iran.
Duta Besar Iran untuk PBB Amir Saeid Iravani mengungkapkan, sedikitnya 1.332 warga sipil tewas, dan ribuan lainnya terluka sejak perang dimulai.
Ia menuduh AS dan Israel menargetkan infrastruktur sipil selama serangan berlangsung, sementara Iran mengeklaim hanya menyerang fasilitas militer. (*)