NarayaPost – Presiden Rusia Vladimir Putin mengusulkan solusi cepat atas perang Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran.
Hal itu disampaikan Putin lewat percakapan telepon dengan Presiden AS Donald Trump, Senin (9/3/2026).
Ajudan kebijakan luar negeri Kremlin Rusia Yuri Ushakov mengungkapkan, Putin menyampaikan beberapa pemikiran untuk mengakhiri konflik Iran dengan cepat, secara politik dan diplomatik.
Dalam usulan itu, Putin menyarankan berlanjutnya kontak yang telah dilakukan dengan para pemimpin negara-negara Teluk, presiden Iran, dan para pemimpin negara lain.
Trump juga menyampaikan penilaiannya tentang perkembangan operasi AS dan Israel Sementara itu dalam percakapan tersebut.
“Izinkan saya mengatakan, pertukaran ide yang sangat substansial, dan, tanpa diragukan lagi bermanfaat, telah terjadi,” ungkap Ushakov, dikutip Reuters.
BACA JUGA: Iran Kasih Syarat Ini Jika Amerika Ingin Gencatan Senjata
Trump dan Putin juga membahas konflik di Ukraina dalam percakapan itu, dan mencatat kemenangan Rusia seharusnya mendorong para negosiator Kyiv bergerak menuju penyelesaian.
Menurut Ushakov, seluruh diskusi kedua pemimpin sangat substansial, dan kemungkinan akan memiliki signifikansi praktis untuk kerja sama lebih lanjut antara kedua negara.
Terpisah, Putin mengakui perang AS-Israel di Iran memicu krisis energi global.
Dia juga memperingatkan, produksi minyak yang bergantung pada transportasi melalui Selat Hormuz dapat segera berhenti.
Putin mengatakan, Rusia selaku eksportir minyak terbesar kedua di dunia dan pemegang cadangan gas alam terbesar, siap kembali bekerja sama dengan Eropa, jika mereka ingin kembali ke kerja sama jangka panjang.
“Produksi minyak yang bergantung pada Selat Hormuz berisiko berhenti sepenuhnya dalam sebulan ke depan.”
“Produksi sudah mulai menurun, dan fasilitas penyimpanan di wilayah tersebut dipenuhi minyak yang tidak dapat diangkut.”
“Kami siap bekerja sama dengan Eropa.”
“Tetapi kami membutuhkan beberapa sinyal dari mereka, mereka siap dan bersedia bekerja sama dengan kami, dan akan memastikan keberlanjutan dan stabilitas ini,” tutur Putin.
Ditolak
Namun, Trump menolak proposal Putin.
Trump mengatakan dalam sambungan telepon, Putin “ingin lebih membantu” AS dalam penyelesaian konflik Iran.
“Saya katakan (kepada Putin) ‘Anda akan lebih membantu dengan cara mengakhiri perang Ukraina-Rusia.”
“Itu akan sangat membantu,” ungkap Trump, dikutip dari Reuters.
Ada Kebencian
Trump mengaku membahas perang Rusia versus Ukraina bersama Putin, melalui sambungan telepon tersebut.
Ia mengeklaim pembahasan dengan Putin itu berlangsung sangat bagus.
Trump kemudian mengungkapkan, Putin tidak sudi berbicara langsung dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, untuk negosiasi damai.
“Terdapat kebencian yang luar biasa antara Presiden Putin dengan Presiden Zelensky.”
“Mereka tampaknya tidak bisa bersama, tapi saya pikir ada pembahasan positif terkait masalah itu (perang Rusia-Ukraina),” beber Trump.
Rusia juga mengonfirmasi pembicaraan antara Putin dan Trump terkait penyelesaian konflik di Ukraina.
Resolusi PBB
Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengesahkan resolusi gencatan senjata terkait perang Rusia versus Ukraina melalui sesi khusus, Selasa (24/2/2026).
Resolusi berjudul Dukungan untuk Perdamaian Abadi di Ukraina’ itu meraih dukungan 107 suara, abstain 51, dan menolak 12.
AS, Arab Saudi, Cina, hingga Indonesia, memilih abstain.
Resolusi ini menyerukan gencatan senjata segera, penuh, dan tanpa syarat antara Rusia-Ukraina, menegaskan kembali dukungan untuk kedaulatan, kemerdekaan, dan integritas Ukraina dalam batas yang diakui secara internasional.
Resolusi tersebut juga menyerukan perdamaian yang komprehensif, adil, dan abadi; pertukaran tawanan perang dan pemulangan warga sipil yang dipindahkan secara paksa, termasuk anak-anak.
Menanggapi resolusi tersebut, Wakil Sekretaris Jenderal untuk Urusan Politik dan Perdamaian PBB Rosemary Dicarlo mengatakan, perang Rusia-Ukraina tetap jadi noda dunia dan sudah saatnya gencatan senjata.
BACA JUGA: Iran Takkan Berhenti Balas Serangan Sampai Musuh Kalah Telak
“Sudah saatnya gencatan senjata segera, penuh, dan tanpa syarat.”
“Langkah pertama menuju perdamaian yang adil, yang menyelamatkan nyawa dan mengakhiri penderitaan tak berkesudahan,” ucap Dicarlo, dikutip situs PBB.
Dia lalu mengatakan perang telah menghancurkan kehidupan, meluluhlantakkan komunitas, dan memperdalam ketidakstabilan regional dan global.
Dicarlo juga menyoroti korban jiwa dengan lebih dari 15.000 warga sipil tewas, ratusan ribu terluka, dan jutaan orang terpaksa mengungsi dari rumah mereka.
“Seluruh generasi telah kehilangan tahun-tahun pendidikan, karena sekolah-sekolah telah menjadi sasaran serangan,” tambahnya. (*)