NarayaPost – Prabowo Subianto memberikan respon pernyataan terhadap pengamat yang menilai kondisi ekonomi Indonesia sedang menuju resesi. Kepala negara menilai sebagian komentar tersebut justru berpotensi menimbulkan kecemasan di tengah masyarakat jika tidak didasarkan pada data yang komprehensif.
Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat merespons paparan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengenai kondisi ekonomi nasional dalam sidang kabinet di Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat (13/3). Dalam kesempatan itu, Purbaya memaparkan sejumlah indikator yang menurutnya menunjukkan kondisi ekonomi Indonesia masih berada dalam tren positif, baik dari sisi produksi maupun optimisme masyarakat.
Menanggapi berbagai pandangan yang berkembang di ruang publik, Prabowo menilai tidak semua analisis ekonomi yang disampaikan pengamat bersifat objektif. Ia mengatakan ada pihak-pihak yang justru memunculkan narasi pesimistis yang berpotensi menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.
BACA JUGA: Mudik Lebaran: 23 Ribu Kendaraan Masuk Jateng Hingga 14 Maret
Menurut Prabowo, sebagai satu bangsa, seluruh pihak seharusnya memiliki kepentingan yang sama untuk menjaga stabilitas negara. Ia mengibaratkan Indonesia seperti sebuah kapal besar yang ditumpangi bersama oleh seluruh rakyatnya.
“Jadi pengamat-pengamat menurut saya ada yang motivasinya ingin menimbulkan kecemasan rakyat. Saya juga tidak mengerti pemikirannya seperti apa. Karena kita satu negara ini satu kapal. Kalau kapalnya oleng, mereka juga oleng,” ujar Prabowo dalam rapat tersebut.
Prabowo juga menyinggung kemungkinan adanya pihak-pihak yang merasa dirugikan dengan langkah pemerintah yang berupaya menertibkan berbagai praktik yang merugikan negara, seperti korupsi maupun penyalahgunaan kekuasaan. Menurutnya, kelompok-kelompok tersebut bisa saja menjadi pihak yang menyebarkan narasi negatif mengenai kondisi ekonomi nasional.
“Mungkin karena merasa kalah, tidak punya kekuasaan, atau ada pihak yang hilang rezeki, terutama maling-maling, koruptor-koruptor. Ya tentu mereka merasa rugi dengan pemerintah kita,” kata Prabowo.
Lebih lanjut, Prabowo mengungkapkan bahwa dirinya menerima berbagai laporan intelijen mengenai pihak-pihak yang berada di balik penyebaran narasi negatif tersebut. Meski demikian, ia menegaskan bahwa pemerintah saat ini masih mengedepankan pendekatan persuasif dan berbasis data untuk menjelaskan kondisi ekonomi yang sebenarnya kepada masyarakat.
Menurut Prabowo, pendekatan berbasis bukti atau evidence based menjadi cara yang lebih efektif untuk membangun kepercayaan publik. Ia yakin masyarakat pada akhirnya dapat menilai sendiri kondisi ekonomi berdasarkan fakta yang ada.
“Pada saatnya nanti kita tertibkan itu semua. Tapi sekarang saya masih berusaha dengan cara-cara yang meyakinkan. Saya percaya dengan bukti dan data rakyat kita akan mengerti,” ujar Prabowo.
Dalam kesempatan yang sama, Prabowo juga menekankan bahwa kritik dan perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar dalam sistem demokrasi. Ia menyebut kompetisi politik adalah bagian dari proses demokrasi yang sehat, baik dalam pemilihan kepala daerah, pemilihan legislatif, maupun pemilihan presiden.
Namun, Prabowo menegaskan bahwa setelah proses politik selesai, seluruh elemen bangsa seharusnya kembali bersatu demi kepentingan nasional.
“Persaingan politik setiap lima tahun di pilkada, di pileg, di pilpres tidak ada masalah. Tapi setelah pertandingan selesai, negara ini seharusnya bersatu dan kompak,” ujarnya.
Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memaparkan sejumlah indikator ekonomi yang menurutnya menunjukkan kondisi ekonomi Indonesia masih kuat. Ia menjelaskan bahwa dari sisi suplai atau produksi, perekonomian nasional justru menunjukkan perbaikan yang signifikan.
Salah satu indikator yang disoroti adalah indeks Purchasing Managers’ Index (PMI) sektor manufaktur yang menunjukkan ekspansi kuat. Menurut Purbaya, pada Februari PMI Indonesia mencapai level 53,8, yang merupakan salah satu level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
“Kalau kita lihat dari sisi suplai, ekonomi kita dalam keadaan yang amat baik. PMI di bulan Februari mencapai 53,8, tertinggi dalam beberapa tahun terakhir,” jelas Purbaya.
PMI di atas angka 50 menunjukkan sektor manufaktur sedang berada dalam fase ekspansi. Hal ini mencerminkan meningkatnya aktivitas produksi, pesanan baru, serta optimisme pelaku industri terhadap prospek ekonomi.
Purbaya juga menyinggung angka inflasi yang tercatat sebesar 4,64 persen pada Februari. Menurutnya, angka tersebut perlu dilihat secara lebih mendalam karena dipengaruhi oleh faktor teknis terkait kebijakan subsidi listrik pada tahun sebelumnya.
Ia menjelaskan bahwa jika komponen yang dipengaruhi oleh subsidi listrik tersebut dikeluarkan dari perhitungan, tingkat inflasi sebenarnya berada di kisaran sekitar 2,59 persen.
“Kalau kita lihat hanya headline inflasi, policymaker bisa mengira ekonomi kita kepanasan. Padahal kalau kita keluarkan faktor subsidi listrik, inflasi kita sekitar 2,59 persen,” ujar Purbaya.
Dengan kondisi tersebut, Purbaya menilai ruang bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia masih terbuka. Ia menegaskan bahwa ekonomi nasional masih memiliki kapasitas untuk tumbuh lebih cepat tanpa mengalami tekanan inflasi berlebihan.
Selain itu, ia juga menyoroti indikator lain seperti penjualan kendaraan yang menunjukkan peningkatan signifikan. Menurut Purbaya, penjualan mobil pada Februari tercatat tumbuh sekitar 12,2 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan adanya peningkatan kepercayaan konsumen serta aktivitas ekonomi yang terus bergerak.
“Kita lihat juga industri otomotif, penjualan mobil tumbuh 12,2 persen di bulan Februari. Tahun lalu malah negatif,” ungkapnya.
BACA JUGA: Donald Trump: Kami Telah Menang!
Purbaya menilai data tersebut menunjukkan bahwa kondisi ekonomi Indonesia masih jauh dari gambaran krisis atau resesi yang sering disampaikan oleh sebagian pihak di ruang publik.
Ia juga memberikan respon pernyataan terhadap maraknya narasi ekonomi pesimistis yang beredar di media sosial, termasuk di berbagai platform digital.
“Jadi kita jauh dari apa yang disebut ekonominya morat-marit. Tapi memang di luar sana banyak yang bicara begitu, bahkan di media sosial seperti TikTok,” kata Purbaya.