NarayaPost – Alih-alih menggunakan metode ilmiah, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ternyata menggunakan firasat untuk mengakhiri perang melawan Iran, yang ia inisiasi bersama Israel.
“Setelah ini berakhir, dan saya rasa tidak akan lama lagi, situasinya akan kembali memburuk dengan cepat,” kata Trump kepada Fox News Radio’s dalam program The Brian Kilmiade, dikutip pada Sabtu (14/3/2026).
“Kapan Anda tahu perang akan berakhir?” Tanya presenter.
“Saat saya merasakannya.”
“Firasat yang sangat kuat,” jawab Trump.
Sayembara Rp169,6 Miliar
AS menawarkan hadiah hingga US$10 juta atau setara Rp169,6 miliar, bagi yang memberikan informasi terkait pejabat tinggi militer dan intelijen Iran.
Daftar pencarian tersebut mencakup pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, beserta sembilan pejabat lainnya yang terafiliasi dengan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC).
Langkah tersebut diumumkan situs Departemen Luar Negeri AS dengan menargetkan tokoh-tokoh kunci IRGC, pasukan elite yang setia kepada pemimpin tertinggi, dan bertugas melindungi pemerintahan ulama Syiah.
Mojtaba Khamenei baru saja naik takhta menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan gabungan AS dan Israel pada 28 Februari lalu.
Meski telah merilis pernyataan perdana pada Kamis (12/3/2026), Mojtaba yang diyakini terluka dalam serangan tersebut belum menampakkan diri di depan publik.
Washington juga memburu informasi mengenai tokoh keamanan utama seperti Ali Larijani, Menteri Intelijen Esmail Khatib, Menteri Dalam Negeri Eskandar Momeni, serta sejumlah pejabat di kantor pemimpin tertinggi.
BACA JUGA: Donald Trump: Kami Telah Menang!
Ali Larijani terlihat menghadiri aksi massa di Teheran pada Jumat (13/3/2026) bersama Presiden Masoud Pezeshkian dan Menlu Abbas Araqchi, sebagaimana terverifikasi dalam video Reuters.
Kemunculan tersebut berbanding terbalik dengan klaim Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth yang sebelumnya menyatakan kepemimpinan Iran tengah bersembunyi di bawah tanah.
Departemen Luar Negeri AS menegaskan, para pejabat dalam daftar tersebut memegang peran krusial dalam operasi IRGC di kancah global.
“Orang-orang ini memimpin dan mengarahkan berbagai elemen IRGC yang merencanakan, mengorganisasi, dan mengeksekusi aksi terorisme di seluruh dunia,” bunyi pernyataan resmi Departemen Luar Negeri AS.
Reuters pada Sabtu (14/3/2026) memberitakan, daftar hadiah tersebut juga mencantumkan empat pejabat lain, termasuk komandan IRGC dan sekretaris dewan pertahanan Iran, tanpa menyertakan nama maupun foto mereka.
Washington sebelumnya telah menetapkan IRGC sebagai organisasi teroris asing.
AS juga menuduh Teheran berada di balik rencana pembunuhan terhadap Presiden Donald Trump sebagai aksi balas dendam atas kematian Qassem Soleimani pada 2020.
Namun, pihak Iran secara rutin membantah tudingan tersebut dan menyebutnya sebagai serangan politik tanpa dasar untuk melegalkan sanksi terhadap mereka.
Trump Duga Rusia Bantu Iran
Presiden AS Donald Trump menduga Presiden Rusia Vladimir Putin membantu Iran melawan agresi AS-Israel.
“Iya, saya pikir ia (Putin) memang membantu mereka (Iran), sedikit.”
“Saya duga, dan dia juga berpikir kita (AS) bantu Ukraina, benar?” Ucap Trump kepada jurnalis Fox News Brian Kilmeade dalam wawancara khusus.
Trump tak menampik AS memang pernah membantu Ukraina saat awal perang melawan Rusia pada 2022 lalu.
“Iya, kita pernah membantu mereka (Ukraina) juga.”
“Jadi, dia (Putin) mengatakan itu dan Cina akan mengatakan hal yang sama.”
BACA JUGA: Iran Prediksi Perang Lawan AS-Israel Berakhir Sebelum 21 Maret
“Ini seperti ‘Hei, mereka melakukan itu dan kita melakukan itu juga demi keadilan.”
“Mereka melakukannya, dan kita juga melakukannya,” beber Trump.
Sebelumnya, Utusan Khusus Trump Steve Witkoff kepada CNBC pekan lalu mengatakan, Rusia mengaku tidak membantu berbagi informasi intelijen dengan Iran dalam sambungan telepon dengannya.
“Jadi, Anda tahu, kita harus memegang perkataan mereka.”
“Semoga saja memang mereka tidak berbagi (data intelijen),” cetus Witkoff.
Koalisi Amis (Amerika-Israel) menggempur Iran sejak 28 Februari.
Serangan di hari itu membunuh Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan keluarganya, serta sederet pejabat top keamanan Iran.
Hingga kini, korban tewas secara keseluruhan di Iran mencapai lebih dari 1.300 jiwa, termasuk anak-anak dan perempuan.
Pada hari pertama pemboman AS-Israel, Iran langsung meluncurkan serangan balasan ke Israel dan pangkalan militer AS di Timur Tengah.
Saat Khamenei dinyatakan meninggal, serangan balasan Iran kian intensif.
Di tengah pembalasan itu, mereka juga menutup jalur perdagangan minyak global Selat Hormuz.
Teranyar, AS melancarkan serangan udara besar-besaran ke markas militer Iran di Pulau Kharg, dekat Selat Hormuz.
Menurut Trump, serangan itu merupakan salah satu yang paling dahsyat dalam sejarah Timur Tengah.
Dalam serangan tersebut, AS tidak mengebom infrastruktur minyak Iran di pulau itu.
Namun, dia mengancam akan mempertimbangkan menghancurkan infrastruktur minyak apabila Iran dan sekutunya mengganggu kapal-kapal yang melewati Selat Hormuz.
Iran pun mengancam akan menyerang balik fasilitas minyak dan energi di kawasan yang dimiliki perusahaan AS atau bekerja sama dengan AS, jika Washington menyerang infrastruktur minyak Teheran. (*)