Survei Global Ungkap 31% Pria Gen Z Yakini Istri Harus Selalu Taat pada Suami

Ilustrasi Suami-Istri.
750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Sebuah survei global terbaru mengungkap temuan yang cukup mengejutkan mengenai pandangan generasi muda terhadap peran gender dalam pernikahan. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa sekitar sepertiga pria dari generasi Gen Z masih percaya bahwa suami seharusnya menjadi pihak yang memiliki keputusan akhir dalam berbagai hal penting dalam rumah tangga.

Survei Global Melibatkan Pandangan Tradisional

Temuan ini memperlihatkan bahwa pandangan tradisional mengenai relasi laki-laki dan perempuan ternyata masih bertahan di kalangan sebagian generasi muda. Bahkan, dalam beberapa aspek tertentu, pandangan konservatif tersebut justru lebih banyak dianut oleh pria Gen Z dibandingkan generasi yang jauh lebih tua.

Riset tersebut dilakukan oleh Global Institute for Women’s Leadership di King’s Business School yang merupakan bagian dari King’s College London. Penelitian ini menyoroti sikap generasi yang lahir antara 1997 hingga 2012 terhadap isu kesetaraan gender dan relasi dalam pernikahan.

BACA JUGA: Donald Trump Pakai Firasat untuk Akhiri Perang Lawan Iran

Perdebatan Antar Generasi Kerap Jadi Topik Hangat

Di ruang publik, khususnya media sosial, perdebatan antar generasi seperti Millennials, Gen Z, hingga Gen Alpha kerap menjadi topik hangat. Banyak pihak beranggapan bahwa generasi yang lebih muda cenderung memiliki pandangan lebih progresif serta menolak nilai-nilai konservatif yang dianggap diwariskan oleh generasi sebelumnya.

Namun, hasil survei ini justru menunjukkan gambaran yang lebih kompleks. Sebagian pria Gen Z ternyata masih memiliki pandangan tradisional terkait hubungan suami-istri. Misalnya, sekitar 31 persen pria Gen Z menyatakan bahwa istri seharusnya selalu mematuhi suami.

Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan generasi yang lebih tua. Pada kelompok pria dari generasi Baby Boomers, yang lahir antara 1946 hingga 1964, hanya sekitar 13 persen yang menyetujui pandangan serupa. Bahkan dalam hal keputusan penting dalam pernikahan, hanya 17 persen pria Baby Boomers yang setuju bahwa suami seharusnya memiliki keputusan terakhir.

Survei Global Juga Ungkap Perempuan Cenderung Lebih Menolak Gagasan

Sementara itu, perempuan dari kedua generasi tersebut cenderung lebih menolak gagasan tersebut. Hanya sekitar 18 persen perempuan Gen Z yang setuju bahwa istri harus selalu patuh pada suami. Angka ini bahkan jauh lebih kecil pada perempuan Baby Boomers, yakni sekitar 6 persen.

Perbedaan sikap ini juga dipengaruhi oleh latar belakang sejarah masing-masing generasi. Generasi Baby Boomers tumbuh dalam periode perubahan sosial besar setelah Perang Dunia II, termasuk berkembangnya gerakan hak-hak perempuan dan perjuangan kesetaraan gender. Pengalaman tersebut membuat sebagian besar dari mereka cenderung kurang menerima gagasan ketundukan penuh dalam hubungan pernikahan.

Perbedaan pandangan juga terlihat dalam isu lain, seperti hubungan seksual. Survei menunjukkan bahwa sekitar 21 persen pria Gen Z berpendapat perempuan seharusnya tidak memulai hubungan seksual terlebih dahulu. Sebagai perbandingan, hanya sekitar 7 persen pria Baby Boomers yang memiliki pandangan serupa.

Pria Gen Z Percaya Laki-Laki Dianggap Kurang Maskulin Mengasuh Anak

Dalam hal pengasuhan anak, sekitar 21 persen pria Gen Z percaya bahwa keterlibatan aktif laki-laki dalam mengasuh anak dapat dianggap kurang maskulin. Pandangan tersebut hanya dimiliki oleh sekitar 8 persen pria Baby Boomers dan sekitar 14 persen perempuan Gen Z.

Norma tradisional mengenai maskulinitas juga masih tampak dalam beberapa aspek lain. Sebanyak 24 persen pria Gen Z berpendapat bahwa perempuan seharusnya tidak terlihat terlalu mandiri, sementara pada generasi Baby Boomers angka tersebut hanya sekitar 12 persen.

Selain itu, survei juga menemukan bahwa sekitar 43 persen pria Gen Z merasa memiliki tekanan sosial untuk terlihat kuat secara fisik.

Temuan Dirasa Cukup Mengkhawatirkan

Direktur Global Institute for Women’s Leadership di King’s Business School, Heejung Chung, mengatakan temuan ini cukup mengkhawatirkan karena menunjukkan bahwa norma gender tradisional masih bertahan dalam masyarakat modern.

Ia menilai banyak orang masih merasakan tekanan dari ekspektasi sosial yang sebenarnya belum tentu mencerminkan keyakinan mayoritas masyarakat.

Survei ini melibatkan responden dari 29 negara dan menemukan adanya perbedaan pandangan yang cukup besar antarnegara. Meski begitu, secara umum banyak responden tetap mendukung kesetaraan gender.

BACA JUGA: Lebaran 2026 Berpotensi Berbeda, Begini Penjelasannya

Sekitar 60 persen responden secara global menyatakan bahwa dunia akan menjadi tempat yang lebih baik jika lebih banyak perempuan memegang posisi penting di pemerintahan maupun perusahaan. Selain itu, semakin banyak responden yang mulai mendefinisikan diri sebagai feminis.

Ketua Global Institute for Women’s Leadership, Julia Gillard, menilai bahwa norma gender tradisional tidak hanya membatasi perempuan, tetapi juga laki-laki. Menurutnya, banyak pria Gen Z tanpa sadar menempatkan diri dalam kerangka peran gender yang sempit.

Ia menegaskan bahwa kesetaraan gender seharusnya dipahami sebagai sesuatu yang membawa manfaat bagi seluruh masyarakat, bukan hanya bagi perempuan. Oleh karena itu, diskusi mengenai perubahan norma gender perlu terus dilakukan agar masyarakat dapat bergerak menuju hubungan yang lebih setara dan inklusif.

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like